fbpx

New Delhi, India Perserikatan Bangsa-Bangsa mengaku memantau konflik mematikan antara kelompok Hindu dengan Muslim di New Delhi. Hal ini diungkapkan juru bicara Sekjen PBB, Stephane Dujarric, dilansir media rabu kemarin. Hingga saat ini, 13 orang dilaporkan meninggal dunia dan satu Masjid terbakar selama unjuk rasa protes aturan kewarganegaraan India.

Dujarric mengimbau otoritas keamanan India untuk memastikan pengunjuk rasa berdemo dengan damai di sana. Pendemo tak perlu dilawan dengan kekerasan oleh petugas keamanan.

Diketahui, konflik terjadi bersamaan dengan pertemuan Presiden Amerika Donald Tramp dengan petinggi pemerintahan India dan pebisbis. Konflik ini akhirnya menyita perhatian lebih besar dari pertemuan tersebut.

Hingga Selasa, ketegangan di beberapa tempat di New Delhi tetap tinggi. Sejumlah sekolah di beberapa daerah diliburkan karena khawatir dengan risiko keamanan. Sementara, lima stasiun metro di kota ditutup.

Bentrokan yang terjadi pada Senin lalu adalah yang terburuk di Delhi sejak aksi protes terhadap Citizenship Amendment Act atau amandemen baru undang-undang kewarganegaraan dimulai pada awal Desember.

Ibu kota India telah menjadi sarang protes terhadap undang-undang yang dinilai telah merugikan Muslim di India. (admin/republika)