Jakarta – Wakapolri sekaligus Wakil Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia atau DMI, Komisaris Jendral Syafruddin, geram  dengan pihak-pihak yang menuduh masjid sebagai tempat penyebaran paham radikal.

Menurut Syafruddin, tidak ada masjid yang digunakan sebagai tempat berkembangnya paham radikalisme. Ia juga heran dengan penelitian yang menyimpulkan adanya radikalisme di masjid. Syafruddin juga menilai penelitian tersebut dilakukan dengan indikator dan standar yang tidak tepat.

Oleh sebab itu, Syafrudin meminta penelitian tersebut dikaji ulang. Sebab, menurutnya masjid merupakan  tempat ibadah dan bukan tempat paham radikalisme.

Wakil Kapolri ini juga mengingatkan jangan sampai, prilaku yang menilai masjid disalahgunakan bisa berakibat buruk.

Sebelumnya, lembaga swadaya masyarakat Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, mengklaim telah melakukan survei terhadap 100 masjid pemerintahan di Jakarta. 100 masjid tersebut terdiri dari 35 masjid di Kementerian, 28 masjid di Lembaga Negara dan 37 masjid di Badan Usaha Milik Negara atau BUMN. (red/SI)