Oleh: Ust. Hawari, Lc., M.E.I.

Hari ini, syariat jilbab mulai banyak diserang dan diobok-obok oleh para musuh Islam. Mulai dari meragu-ragukan kewajiban berjilbab, mengatakan jilbab sekedar budaya Arab, atau menganggap bahwa jilbab hanyalah mengekang kebebasan wanita modern saja. Di samping isu-isu santer tersebut, merebak pula fenomena yang menistakan syariat jilbab, yaitu menjamurnya jilbab punuk unta di masyarakat Islam.

Memang seiring dengan perkembangan mode yang begitu pesat di berbagai negara, bermunculan pula beragam jenis modifikasi jilbab. Awalnya mereka hanya menawarkan desain-desain pakaian jahiliyah. Namun, semakin lama modifikasi mulai merambah ke pakaian wilayah syar’ i yang seharusnya tidak ada campur tangan manusia untuk mengotak-atiknya.

Akhirnya, model jilbab pun bermunculan. Ada jilbab Pashmina dengan beragam variannya, jilbab Paris, jilbab rajut, dan seabrek macam yang semuanya hanya mengacu pada unsur kecantikan, penampilan, modis, style, dan modernitas palsu. Di dalam model tersebut sama sekali tidak mempertimbangkan syarat-syarat hijab  yang syar’i. Lebih memalukan dan memilukan lagi tatkala hijab gadungan tersebut mulai dikonteskan.  Sebut saja seperti hijab huntworld muslimah, kontes foto jilbab hingga berbagai kontes lainnya yang intinya adalah kontes kecantikan. Jadi jujur saja, sebenarnya bukan kontes jilbab, namun kontes kecantikan para pemakai jilbab. Lantas apakah standar penentuan pemenangnya? Apakah yang paling syar’i yang paling menang? Tentu tidak, yang paling menang adalah yang paling terlihat cantik, modis, atau bahkan yang paling seksi meski tampil berjilbab. Laa haula wala quwata illa billah.

Jauh hari sebelum fenomena jilbab punuk unta ini muncul, Nabi shalallahu alaihi wasallam telah mensinyalir fenomena jilbab punuk unta ini. Kalau dahulu para sahabat tidak mendapati realitanya, namun kita sekarang berada di era pembuktiannya. Sungguh benar apa yang disabdakan Nabi berikut ini:

“Dua golongan penghuni neraka yang belum pernah saya lihat sebelumnya; sebuah kaum yang membawa cemeti seperti layaknya ekor-ekor sapi yang mereka gunakan untuk memukuli manusia, kemudian wanita yang mengenakan pakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok ketika berjalan, kepala-kepala mereka seperti punuk-punukunta yang condong; wanita seperti ini tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium aromanya, padahal sungguh aroma surga dapat tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim)

Hadis ini dikatakan para ulama sebagai salah satu tanda hari kiamat kecil yang sedang berjalan. Golongan pertama dari penghuni neraka yang belum pernah dilihat Nabi shalallahu alaihi wasallam tesebut adalah suatu kaum yang membawa cemeti seperti layaknya ekor-ekor sapi yang mereka gunakan untuk memukuli manusia. Mereka adalah para aparat zholim yang main hakim sendiri dalam menghukum manusia. Mentang-mentang mereka diangkat menjadi aparat, seringkali disalahgunakan jabatannya untuk menzholimi manusia. Bukankah fenomena ini sekarang banyak kita saksikan di berbagai negeri kaum muslimin yang mana para ulama, dai, aktivis, senantiasa dizholimi dan nyawa mereka dihargai sangat murah oleh para tentara yang zholim? Mereka seringkali difitnah dengan teroris atau orang-orang yang senantiasa berbuat kerusakan di atas muka bumi.

Adapun golongan yang kedua, maka inilah golongan yang dimaksud dalam pembahasan ini. Yaitu wanita yang kepala mereka laksana punuk unta. Dalam menjelaskan hadis ini Imam Nawawi rahimahullah berkata, ’kasiyat ‘ariyat’ di dalam hadis tersebut maknanya adalah wanita yang menyingkap sebagian dari tubuhnya untuk menunjukkan keindahannya, maka mereka berpakaian akan tetapi telanjang. Atau berpakaian dengan pakaian tipis yang menampakkan tubuhnya. Wanita seperti ini pun hakikatnya berpakaian tapi telanjang. Adapun makna ‘mailat mumilat’ mereka melenceng dari ketaatan Allah, berjalan sombong, tidak menjaga kesuciannya serta mengajari orang lain berbuat sepertinya. Sedangkan dalam menjelaskan “kepala mereka laksana punuk unta” maksudnya:

“Mereka memperbesar kepala mereka dengan kerudung, sorban atau kain sejenisnya yang digunakan untuk menutup kepala, sehingga dengan penutup tersebut kepala mereka menyerupai punuk-punuk unta.”

Subhanallah, kita benar-benar mendapati realita kebenaran wahyu ini. Sungguh mengerikan dan menakutkan. Bukankah jilbab punuk unta inilah yang hari ini dipopulerkan para artis dan dijadikan trend kebanyakan muslimah hari ini? Bukankah jilbab ini juga yang hari ini memenuhi toko-toko baju, boutique, dan mall-mall atau bahkan dipakai keluarga kita sendiri? Allahu al-Musta’an.

Sungguh fenomena yang menyedihkan. Bagaimana tidak, muslimah yang memakai jilbab syar’i justru dibilang aliran keras, ekstrimis, teroris, fundamentalis, Islam kolot, sesat, dan cemoohan lainnya. Sebaliknya, pakaian jahiliyah yang seksi dan membuk aurat justru dikatakan sebagai pakaian trendi dan modern.

Coba renungkanlah sejenak. Jika pemakai jilbab punuk unta saja diancam dengan tidak bisa mencium aroma surga? Lantas bagaimana dengan mereka yang tidak berjilbab, bahkan mereka yang suka pamer aurot? Oleh karena itu, kembalilah kepada hijab Islami. Itulah kemuliaan sejati seorang muslimah di dunia ini. Jilbab-jilbab gadungan itu hanya akan membuat dirimu jauh dari rahmat Allah azza wa jalla. Biarkanlah orang mencibir dengan jilbab islami, biarkan orang mencela saat engkau memakai hijab syar’i. Yakinlah celaan itu hanyalah sesaat saja. Jangan bersedih wahai muslimah pemakai hijab islami, karena engkau permata berharga ketika kesucianmu indah terjaga. Engkau akan lebih bercahaya dengan mengenakan jilbab sesuai dengan syariat-Nya.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa menjaga para muslimah dari berbagai fitnah yang menjauhkan dan menipu mereka dari agama Allah. Wallahu Ta’ala a’lam.