فَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ 

 “…Alloh akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…” (QS. Al-Mujadilah [58]: 11)

Kata “ustadz dan kiai” kali ini menjadi pembicaan hangat dikalangan umat Islam. Hal itu memunculkan dua isu mengenainya, pertama; ustadz dan kiai adalah wali yang tak akan pernah berbuat salah, semua perbuatannya benar, walaupun menurut pandangan orang awam salah. kedua; kalau seorang berilmu berbuat satu kesalahan saja berarti itu menggugurkan nama kiai dan ustadz, maka semua perkataannya tidak usah didengar sama sekali. Dua isu ini sangat meresahkan umat Islam dan merusak sendi Islam. Lalu bagaimana ustadz dan kiai hakikatnya? Kita obrolkan dalam rubrik ini insya Alloh….

Ustadz dan kiai merupakan orang-orang yang diberikan anugerah oleh Alloh berupa ilmu agama Islam. Mereka telah membawa amanah ilmu yang mulia dari Nabi Muhammad sholallohu alaihi wasallam, karena Nabi hanya mewariskan ilmu kepada umatnya. Dalam ayat di atas, Alloh subhanahu wa ta’ala meninggikan derajat ahli ilmu baik ustadz dan kiai lebih tinggi dari pada manusia pada umumnya. Untuk itu, sebagai seorang Muslim seharusnya menghormati sesama muslim lainnya, terlebih lagi dia adalah orang yang berilmu; ilmu agama Islam. Bahkan makhluk selain manusia sangat menghormati ahli ilmu, seperti yang disabdakan oleh Rosululloh sholallohu alaihi wasallam:

“Pemiliki ilmu selalu dimintakan ampunan oleh segala sesuatu, hingga ikan yang ada di dalam lautan.” (HR. Abu Ya’la, dishohihkan oleh al-Albani)

Orang-orang yang beriman dan berilmu merupakan bagian dari wali-wali Alloh yang terjaga darah dan kehormatannya. Sebaliknya, orang-orang yang memusuhi wali Alloh, maka Dia akan murka kepada orang itu. Sebagaimana sabda Rosululloh sholallohu alaihi wasallam dalam hadits qudsi:

“Barang siapa yang memusuhi wali-Ku, berarti ia telah menantang berperang dengan-Ku”, dan dalam riwayat lain, “Barang siapa  yang memusuhi wali-Ku, maka aku telah mengobarkan peperangan dengannya”. (HR. Bukhori).

Isu pertama merupakan bentuk berlebih-lebihan kepada seorang ustadz dan kiai. Dia dianggap orang sakti yang tak pernah salah dan semua ucapannya benar. Oleh karena itu, setiap muslim harus memuliakan ustadz dan kiai dan mengikuti semua ucapannya tanpa meyalahkan walaupun bertentangan dengan al-Qur’an dan hadits.

Fenomena ini memang memilukan, karena hal tersebut memuliakan seseorang melebihi kedudukan dan batas kemuliaan yang telah diberikan oleh Alloh.

Berlebihan dalam memuliakan orang berilmu itu merupakan kedustaan, di mana ustadz tidak mampu melakukan perbuatan yang disanjungnya. Hal itu juga dapat menyebabkan “penuhanan sang ustadz”, seperti yang dilakukan oleh orang-orang Nashrani dan Yahudi terhadap orang-orang ‘alim mereka, ini adalah kesyirikan yang besar. Alloh ta’ala berfirman:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ 

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Alloh dan (juga mereka mempertuhankan) al- Masih putra Maryam, Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Alloh dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. at-Taubah [9]: 31).

Seorang muslim juga dituntut untuk mengikuti saran ustadz dan kiainya dalam hal yang benar saja, bukan pada hal yang salah dan kemaksiatan kepada Alloh subhanahu wa ta’ala. Rosululloh sholallohu alaihi wasallam bersabda:

“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada sang Maha Pencipta.” (HR. Ahmad).

Untuk mengetahui kebenaran pendapat ustadz, sumber yang digunakan ustadz adalah al-Qur’an dan Hadits, apabila pendapatnya menyimpang dari al-Qur’an dan Hadits, pendapatnya dapat dipastikan salah.

Begitu juga ustadz dan kiai tidak dapat mengetahui hal yang ghoib dan masa depan, karena hak itu khusus bagi Alloh, hanya Alloh yang mengetahuinya. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ 

“Pada sisi Allohlah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri”. (QS. al-An’am [6]: 59)

Seorang kiai yang menyatakan pengetahuan tentang hal yang gaib tanpa dasar dari ayat al-Qur’an dan Hadits Nabawi adalah kebohongan dan kesombongan kepada Alloh subhanahu wa ta’ala.

Isu kedua tentang “ustadz tidak boleh melakukan kesalahan sedikitpun”, ini merupakan paradigma yang salah juga. Lebih lagi, seorang ustadz harus sempurna tanpa kekurangan dan cacat dari kesalahan.

Ustadz dan kiai memiliki kedudukan mulia di dalam Islam, sesuai keilmuan dan ketakwaan masing-masing. Hanya saja, mereka tetap sebagai manusia biasa, bukan berubah menjadi malaikat yang terlepas dari kefuturan, dan kemaksiatan kepada Alloh, serta suci bersih tanpa terjatuh sama sekali kepada kesalahan.

Mereka para ustadz dan kiai kadang kala berbuat salah baik disengaja atau tidak. Tabiat seorang manusia masih ada pada ustadz juga; khotho’ (salah) dan nisyan (lupa).

Akan Tetapi sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertaubat kepada Alloh. (HR. Tirmidzi)

Sebaik-baik ustadz dan kiai selalu bertaubat kepada Alloh dari segala macam kesalahannya baik di siang hari atau malam, seperti yang telah dilakukan oleh teladan kita yang merupakan teladan para kiai, yaitu Rosululloh sholallohu alaihi wasallam bertaubat 100 kali dalam sehari. Padahal kebaikan Rosululloh sholallohu alaihi wasallam sangatlah banyak dan dijamin masuk surga.

Sebaliknya, orang yang tidak mau menghormati dan mendengar taushiyah (nasihat) ustadz dan kiai dikarenakan si ustadz pernah berbuat salah dalam ucapannya, padahal ustadz sudah bertaubat kepada Alloh subhanahu wa ta’ala adalah kesalahan yang fatal bagi pelakunya dan dia telah melanggar perintah Alloh, karena itu kita diperintahkan untuk menghormati sesama muslim, terlebih lagi ahli ilmu dalam agama Islam.

Seorang ustadz dan kiai yang ber-ijtihad (bersungguh-sungguh dalam mengambil dan memutuskan suatu hukum) dalam satu masalah, lalu benar hasil ijtihadnya dia mendapatkan dua pahala. Sebaliknya, jika hasil ijtihadnya salah, dia mendapatkan satu pahala. Jadi orang yang mendapatkan pahala dari Alloh ta’ala tidak patut dicela, walaupun kesalahannya tidak boleh diikuti.

Wallohu Ta’ala A’lam…

Artikel: Gerimis


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05