Ikhtilaf atau perbedaan pendapat yang tidak mengeluarkan pelakunya dari lingkup Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah perbedaan pendapat dalam masalah-masalah furu, masalah-masalah yang dibolehkan untuk berusaha mencari kebenaran dan berpendapat di dalamnya. Perbedaan pendapat dalam masalah-masalah furu inilah yang masih bisa ditoleransi atau diperbolehkan. Akan tetapi perbedaan pendapat yang ada diantara Ahlus Sunnah wal Jamaah tidak boleh disertai dengan adanya rasa saling bermusuhan atau saling menjauhi diantara mereka, bahkan mereka harus tetap menjaga rasa saling mencintai dan menyayangi.

Hal ini sebagaimana terjadi di kalangan shahabat , dimana mereka berselisih dalam beberapa masalah, tapi bersamaan dengan itu, mereka  tidak saling bermusuhan satu sama lain dengan sebab perbedaan pendapat tersebut. Setiap shahabat berpegang dengan pendapat masing-masing.

Mereka  mengetahui bahwa orang yang benar dalam pendapatnya akan mendapat dua pahala, sedangkan orang yang salah dalam berpendapat hanya mendapat satu pahala. Sebagaimana sabda Nabi , “Apabila seorang hakim berpendapat dan dia benar dalam pendapatnya, maka baginya dua pahala, dan jika dia berpendapat dan salah dalam pendapatnya maka baginya satu pahala.

Sesungguhnya diantara kewajiban seorang muslim yaitu, Yang pertama, mengetahui yang benar dan membelanya, inilah sikap yang benar bagi seorang muslim dalam permasalahan yang diperselisihkan, baik itu masalah ilmiah yaitu masalah keilmuan, ataupun masalah amaliah yakni pengamalan, yang dilakukan dalam medan dakwah ataupun yang lainnya.

Kewajiban seorang muslim, yang pertama adalah mengetahui kebenaran dengan dalil-dalilnya, maka apabila terjadi perselisihan dalam suatu masalah, wajib bagi mereka untuk mempelajari ilmu syari yang bermanfaat untuk mengetahui yang haq dalam masalah tersebut. Andaikata perselisihan tersebut dalam masalah-masalah ilmiyah, hendaklah seorang muslim mempelajari dalil-dalilnya serta mengetahui sikap ulama dalam masalah tersebut, kemudian dia pun mengambil sikap yang jelas dan gamblang dalam masalah ini.

Kemudian yang kedua, apabila perselisihan tersebut terjadi diantara ahlus sunnah, maka wajib bagi kita untuk bersabar terhadap ikhwan yang lain, serta tidak melakukan tindakan yang memecah belah. Walaupun kita melihat kebenaran pada salah satu pihak yang berselisih, tapi jika perselisihan tersebut terjadi antara Ahlus Sunnah, dimana tentunya setiap mereka menginginkan yang haq, maka wajib bagi kita untuk bersabar dalam menghadapi ikhwan yang lainnya. Kemudian jika kita mendapati salah seorang dari mereka bersalah, wajib bagi kita untuk bersabar dan menasehatinya. Jadi kewajiban yang pertama adalah mengetahui di pihak manakah al-haq atau kebenaran tersebut berada.

Kemudian yang ketiga, kita menasehati pihak yang bersalah sambil berusaha semampu kita untuk menyatukan kalimat diatas kebenaran dan mendekatkan sudut pandang, kemudian berusaha untuk mengadakan perbaikan antara ikhwah.

Kewajiban seorang muslim adalah untuk menjadikan terwujudnya sebab perdamaian dan kunci kebaikan.

Selanjutnya, kewajiban seorang muslim ketika terjadi beda pendapat adalah, tidak melakukan tindakan yang menambah perpecahan dan perselisihan, dengan menukil atau menyebarkan perkataan, tapi hendaklah memahami terlebih dahulu dan meneliti perkataan dan perbuatannya.

Dan hendaknya bersikap netral tidak berlebih-lebihan dan tidak membesar-besarkan setiap kesalahan, tidak boleh kita menganggapnya sebagai ahlul maksiat terlebih sampai mengkafirkannya,

Dan hendaknya kita tidak pula terlalu bermudah-mudahan atau meremehkan, sehinga samar untuk membedakan antara yang haq dengan yang bathil. Yang terbaik adalah kita menjadi orang yang berfikir, dan berusaha mempersatukan ikhwah, serta mendekatkan sudut pandang mereka diatas kebenaran, serta menasehati yang bersalah, juga menasehati pihak yang lain untuk bersabar dan menahan diri, Inilah manhaj Islam terhadap ikhwah.

Selanjutnya jika kita menjauhkan diri dari perselisihan yang terjadi, karena kita memandang dalam perselisihan tersebut terdapat fitnah dan kejelekan, maka sikap seperti ini lebih baik, dan usaha kita adalah hanya untuk mendamaikan, bukan malah menjadi pemicu perselisihan, tapi justru menjauhi perselisihan. Jika kita melihat yang haq berada pada salah satu pihak, maka hendaklah di berlaku adil dalam menghukumi pihak yang lain, karena inilah sikap seorang muslim.

Yang perlu diingat tidak setiap yang menginginkan kebenaran itu akan diberi taufik untuk mendapatkannya, sebagaimana tidak setiap kesalahan itu disengaja. Terkadang seseorang berbuat kesalahan tanpa sengaja, padahal dia menginginkan kebenaran, tapi barangkali karena kurangnya pengetahuan dia dalam suatu segi tertentu, sehingga diapun jatuh dalam perselisihan dan kesalahan, maka hendaknya kita bersabar atas mereka, serta mengakui kebaikan dan keutamaan mereka.

Tidaklah pantas sikap kita terhadap saudara kita seiman sama seperti sikap kita terhadap orang kafir, yang menyeleweng dalam masalah aqidah dan yang lainnya, karena Islam mempunyai satu jalan dan satu manhaj, tapi terkadang berbeda sudut-pandang mereka, maka hendaklah bersabar dan menahan diri serta berusaha untuk mendamaikan antara saudara kita.

Kemudian, hendaknya kita mengusahakan agar tidak menjadi sebab bertambahnya perselisihan, bahkan seharusnya kita menjadi sebab terjadinya penyatuan kalimat diatas kebenaran. Jika kita bersikap seperti itu, maka kita akan tetap berada diatas kebaikan.

Demikianlah penjelasan singkat terkait Tuntunan Islam dalam menghadapi beda masalah, yang bisa kita kaji dalam Rubrik Manhaj edisi kali ini, Kita memohon kepada Alloh agar memberikan taufiq pada semua. Aamiin.

Wallohu’alam, Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokaatuh.

%d bloggers like this: