Dari Ummu Khonsa di Bogor. Pak Ustadz bagaimana dengan hukum tidak melaksanakan puasa Romadhon bagi wanita hamil dan menyusui? Apakah cukup membayar fidyah saja atau membayar fidyah dan juga qodho? Selama 4 tahun saya terus berlanjut hamil dan menyusui 2 kali, jadi saya hanya membayar fidyah saja. Apa cukup Pak Ustadz? Jazakalloh.

Jawaban :

Para ulama membolehkan wanita hamil dan menyusui untuk tidak berpuasa pada bulan Romadhon. Tentu jika memang kondisinya tidak memungkinkan atau memberatkan, baik bagi dirinya atau bagi bayi yang dikandungnya atau disusuinya.

Dan yang menjadi pertanyaan, kewajiban apa yang harus dilaksanakan oleh wanita hamil atau menyusui apabila mereka tidak berpuasa di bulan Romadhon. Sebab tidak nash yang menyebutkan bagaimana cara penggantiannya.

Maka wajar bila dalam hal ini beberapa ulama berbeda pendapat. Sebagian mewajibkan qodho saja tanpa fidyah, sebagian ada yang mewajibkan Qodho plus fidyah juga. Bahkan ada juga yang mewajibkan fidyah saja tanpa Qodho.

Pendapat Pertama : “Qodho Saja Tanpa Fidyah”

Pendapat yang pertama ini menyerupakan wanita hamil dan menyusui seperti orang yang sakit. Apabila mereka (wanita hamil dan menyusui) tidak berpuasa di bulan Romadhon, maka harus membayar Qodho (tidak perlu fidyah).

Sebagaimana yang diwajibkan atas orang sakit apabila meninggalkan puasa di bulan Romadhon. Imam Abu Hanifah, Abu Ubaid dan juga Abu Tsaur rohimahumulloh mendukung pendapat ini.

Pendapat ini berdasarkan firman Alloh sebagai berikut:

 أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Artinya: (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka jika di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (Q.S. Al-Baqoroh: 184)

Pendapat Kedua : “Fidyah Saja Tanpa Qodho”

Dalam kitab Bidayatul Mujtahid, Ibnu Umar dan Ibnu Abbas rodhiyallohu’anhum menyerupakan wanita hamil dan menyusui seperti orang yang tidak sanggup melaksanakan puasa, semisal orang lanjut usia. Jika mereka tidak berpuasa di bulan Romadhon sebab mengkhawatirkan kondisi dirinya ataupun bayinya, maka harus membayar Fidyah tanpa perlu meng-Qodho.

Pendapat ini mengambil dasar dalil firman Alloh sebagai berikut:

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

Artinya: Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fid-yah, (yaitu): Memberi makan seorang miskin. (Q.S. Al-Baqoroh: 184)

Pendapat Ketiga : “Qodho dan Fidyah”

Imam Syafi’i rohimahulloh mengatakan bahwa wanita hamil dan menyusui serupa dengan orang sakit dan juga orang yang terbebani dalam melakukan puasa.

Apabila mereka tidak berpuasa di bulan Romadhon, maka mereka harus membayar Qodho dan Fidyah juga.

Dalam kitab Fiqhus Sunnah Juz I, disebutkan bahwa Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hambal menambahkan bahwa wanita hamil atau menyusui, apabila ia tidak berpuasa sebab mengkhawatirkan kondisi bayinya, yang wajib ia lakukan adalah qodho sekaligus fidyah. Akan tetapi bila ia mengkhawatirkan dirinya saja, atau mengkhawatirkan dirinya dan juga bayinya, maka yang harus ia lakukan adalah membayar Qodho tanpa fidyah.

Pendapat Keempat : “Hamil = Qodho Saja , Menyusui = Qodho sekaligus Fidyah”

Ulama dari madzhab Imam Maliki membedakan antara wanita hamil dan wanita yang menyusui. Wanita hamil diserupakan dengan hukum orang sakit, yang apabila meninggalkan puasa di bulan Romadhon, ia wajib mengganti dengan Qodho.

Sedangkan wanita menyusui diserupakan dengan orang sakit sekaligus orang yang terbebani melakukan puasa. Apabila ia tidak berpuasa di bulan Romadhon, maka ia wajib membayar Qodho dan juga fidyah.

Lepas dari perbedaan pendapat, maka dari berbagai pendapat tersebut kami sarankan agar anda membayar Qodho sekaligus juga fidyah, sebagai sikap kehati hatian (ihtiyath). Selain itu tentu akan menjadi kebaikan tersendiri bagi ibu dan anak, karena telah berbuat baik buat fakir miskin lewat fidyah.

Wallahu a’lam bishshawab.

Tim Lajnah Ilmiah FAJRI FM


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05