Oleh: Zainal, Lc

Keadilan merupakan sifat yang harus diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat. Tanpa keadilan, maka segala perkara akan rusak, berantakan, bahkan menimbulkan rasa tidak aman dalam lingkungan masyarakat.

Jika kita perhatikan dalam kehidupan bernegara, berapa banyak kerusuhan terjadi? Perusakan gedung-gedung di jalan-jalan, dan ketakutan serta kekhawatiran selalu menghantui masyarakat, itu semua terjadi karena keadilan dalam negara kita belum tegak.

Mari kita memperhatikan serta mempelajari keadilan yang pernah dilakukan oleh orang-orang mulia sebelum kita, yaitu para sahabat, bagaimana mereka berlaku adil terhadap tanggung jawabnya dalam kepimpinan.

Seorang Amirul mu’minin, Kholifah Umar bin Khoththob rodhiallohu anhu, beliau diberi gelar  sebagai ”Al- Faruq” karena sangat tegas dalam membedakan yang benar dan yang salah, sehingga beliau disegani oleh lawan dan kawannya. Sebagaimana juga para kholifaurosyidin lainnya yang selalu berlaku adil dalam berbagai aspek sosial kehidupan yang multi kultural.

Beliau pernah menghukum putranya sendiri karena melakukan perbuatan zina. Hukum beliau tegakkan tanpa pandang bulu. Beliau putuskan secara adil meskipun terhadap dirinya sendiri.

Dalam sejarah, pernah terjadi suatu peristiwa mengenai ‘Abbas bin Abdul Muthalib yang mempunyai sebuah rumah di sisi Masjid Madinah. Khalifah Umar bin Khaththab rodhiallohu anhu berkata kepada Abbas bin Abdul Muthalib, ”Sebaiknya juallah rumahmu ini kepada kami, sebab kami hendak mengadakan perluasan pada Masjid Rosululloh sholallohu alaihi wasallam”. Tetapi Abbas tidak mau menjual kepadanya. Kemudian Umar berkata, ”Kalau begitu hibahkanlah rumahmu itu kepadaku”. Usulan tersebut juga ditolak oleh Abbas bin Abdul Muthalib. ”Kalau begitu relakan saja untuk perluasan Mesjid,” jawab Umar bin Khoththob. Usulan Umar yang terakhir itu juga di tolak oleh Abbas. Kata Umar lagi, ”Kalau begitu kamu harus memilih salah satu dari ketiga usulanku ini”. Usulan tersebut tetap masih di tolak oleh Abbas bin Abdul Muthalib.

Selanjutnya Umar bin Khattab berkata, ”Mari kita jadikan seseorang untuk menengahi permasalahan ini.” Maka keduanya segera berangkat mencari seseorang yang bisa dijadikan penengah untuk mengentaskan permasalahan tersebut. Mereka menuju rumah Ubay bin Ka’ab rodhiallohu anhu untuk mengadukan permasalahan itu. Ubay berkata kepada Kholifah Umar, ”Kamu tidak berhak untuk mengeluarkan seseorang dari rumahnya, kecuali sampai dia rela”. Kholifah Umar bin Khoththob menjawab, ”Apakah putusanmu ini kamu dapatkan dalam Kitabulloh ataukah dalam sunnah Rosululloh sholallohu alaihi wasallam?”. ”Aku dapatkan putusanku ini dari sunnah Rosululloh sholallohu alaihi wasallam,” balas Ubay bin Ka’ab.

Selanjutnya Khalifah Umar bin Khattab kembali bertanya kepada Ubay bin Ka’ab, ”Bagaimana kisahnya?”. Lalu Ubay bin Ka’ab menjawab pertanyaan Umar, ”Sesungguhnya aku telah mendengar Rosululloh Muhammad sholallohu alaihi wasallam bersabda, ”Ketika Sulaiman putra Dawud hendak membangun Baitul Maqdis (Mesjid Aqsho), maka ia menyuruh orang-orang yang mempunyai rumah-rumah di sekitar itu supaya mengahancurkan rumahnya masing-masing, maka Alloh subhanahu wa ta’ala memberi wahyu kepadanya, ”Janganlah kamu membangun suatu bangunan di atas tanah orang lain, tanpa mendapatkan kerelaannya terlebih dahulu”. Mendengar kata-kata Ubay bin Ka’ab seperti itu, maka Kholifah Umar bin Khoththob tidak bisa berbuat banyak terhadap keputusan yang diajukan Ubay bin Ka’ab. Namun akhirnya, Abbas bin Abdul Muthalib merelakan kediamannya tersebut untuk perluasan Masjid Nabawi di kota Medinah, dan permasalahan pun selesai karena keadilan Umar bin Khoththob.

Demikianlah salah satu keadilan yang dipraktikan oleh kaum muslimin pada waktu itu. Mudah-mudahan hal seperti itu dapat ditiru oleh bangsa kita, sehingga kita aman dari segala kerusuhan yang dilakukan oleh massa yang pernah terjadi di negara kita, yang semuanya disebabkan ketidakadilan pemimpin kita.


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05