Oleh: Syeful Rohim, M.A.Pd

Zainab bin Jahsy rodhiallohu anha shohabiyah mulia masuk Islam di awal perjuangan dakwah Nabi sholallohu alaihi wasallam sebelum rumah al-Arqom dijadikan basis perkembangan Islam. Beliau memiliki jiwa perindu kehidupan yang suci dan bersih dari kesyirikan, maka tidak heran lagi saat semerbak harumnya Islam menyebar di kota Makkah, hati yang bersih itu menyambut kedatangannya. Zainab binti Zahsy menerima dakwah Islam melalui saudaranya, Abdulloh bin Jahsy. Dengan hati yang tunduk, beliau menyatakan diri masuk agama Islam.

Saat iman merasuk ke dalam jiwa, maka kebahagiaan menyelimuti kehidupannya, walaupun rintangan besar menghadangnya. Zainab binti Jahsy termasuk salah satu orang yang merasakan hal itu, beliau tetap bersabar dan bertawakal kepada Alloh subhanahu wa ta’ala dari segala rintangan dari kaum musyrikin Quraisy dan dari kalangan keluarga besarnya. Sehingga Alloh memberikan kemudahan kepada kaum Muslimin untuk berhijrah ke Madinah Munawaroh.

Di Madinah, keimanan Zainab binti Jahsy bertambah besar. Hal itu dapat dilihat dari ketekunan dalam bermunajat kepada Alloh pada malam hari, dan beliau menyerahkan segala urusannya kepada Alloh subhanahu wa ta’ala tanpa ada rasa enggan dan pilihan. Pada suatu hari, Rosululloh sholallohu alaihi wasallam datang bermaksud meminang Zainab untuk dinikahkan pada Zaid bin haritsah rodhiallohu anhu. Tatkala Zainab mendengar hal itu, beliau mengusulkan kepada Nabi sholallohu alaihi wasallam untuk tidak menikah dengan Zaid. Akan tetapi kehendak Alloh subhanahu wa ta’ala berbeda, maka turunlah ayat,

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

“Tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Alloh dan Rosul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab [33]: 36)

Zainab berkata: “Wahai Rosululloh, apakah engkau benar-benar menghendaki aku menikah dengannya? Rosululloh sholallohu alaihi wasallam menjawab: “Benar”. Zainab menerima hal itu dengan ungkapan: “Kalau begitu, aku tidak mau durhaka kepada Rosululloh sholallohu alaihi wasallam. Saat itu pula aku bersedia menikah dengannya!” (Fi Dzilalil Qur’an, Sayyid Qutub)

Dalam pernikahan ini, Zaid memberi Zainab rodhiallohu anha mahar 10 dinar, 60 dirham, seperangkat pakaian, kerudung, kasur, 50 mud makanan, dan 10 mud kurma. Zaid mendapatkan itu semua dari Rosululloh sholallohu alaihi wasallam. (35 sirah Nabawiyah, Mahmud al-Mishri)

Zainab melalui kehidupannya bersama sang suami dalam mahligai rumah tangga dengan penuh ketawakalan kepada Alloh. Tetapi kemudian mereka harus melewati rintangan-rintangan selayaknya ada pada rumah tangga lainnya. Perselisihan terjadi di antara mereka dalam keluarga. Hal itu terjadi berulang-ulang, Zaid rodhiallohu anhu meminta saran kepada Rosululloh sholallohu alaihi wasallam. Tetapi beliau selalu menasehati Zaid, “Pertahankanlah isterimu dan bertakwalah kepada Alloh.” Hanya saja Alloh subhanahu wa ta’ala berkehendak lain dan Alloh berkuasa atas segala kehendak-Nya, selang beberapa waktu Zaid menceraikan isterinya.

Zainab bertawakal kepada Alloh subhanahu wa ta’ala dalam menghadapi kesendiriannya ini dan beliau hanya bergantung kepada Alloh dalam menjalani masa depannya. Dengan itu, Zainab rodhiallohu anha yakin akan mendapatkan hikmah yang besar, sebagaimana janji Alloh subhanahu wa ta’ala; “orang yang bertawakal kepada Alloh, maka Dia akan mencukupi (keperluan)nya.” (Lihat: QS. al-Tholaq [65]: 3).

Dinikahkan oleh Alloh dari Langit Ketujuh

Dengan keteguhan dan tawakal kepada Alloh, Zainab memperoleh keutamaan besar dan kedudukan tinggi, yaitu menjadi istri Rosululloh sholallohu alaihi wasallam pemimpin umat manusia, dan menjadi ummul Mukminin.

Sebuah hadis diriwayatkan oleh Anas bin Malik rodhiallohu anhu; “Ketika masa iddah Zainab selesai, Rosul sholallohu alaihi wasallam berkata kepada Zaid: “Maka, sebutkanlah pinangan kepadanya untukku.” Zaid  pun pergi menuju rumahnya. Ketika sampai di sana, Zainab rodhiallohu anha sedang membuat adonan. Zaid membelakanginya dan berkata: “Hai Zainab, Rosululloh sholallohu alaihi wasallam mengutusku agar meminangmu untuk diri beliau.” Zainab menjawab: “aku tidak akan membuat keputusan apa pun sampai aku menyampaikannya kepada Robbku”. (HR. Muslim)

Setelah itu, Zainab beranjak menuju tempat sholatnya untuk bermunajat kepada Alloh, dan turunlah wahyu kepada Rosululloh sholallohu alaihi wasallam sebagai perintah menikahi Zainab. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَنْعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللَّهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَا اللَّهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ تَخْشَاهُ ۖ فَلَمَّا قَضَىٰ زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لَا يَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَائِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا ۚ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا

“(ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Alloh telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: “Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Alloh”, sedang kamu Menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Alloh akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allohlah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Alloh itu pasti terjadi.” (QS. Al-Ahzab [33]: 37)

Dengan perintah pernikahan ini dari Alloh subhanahu wa ta’ala , maka terhapuslah sistem tabanni (adopsi anak) dan terhapuslah pula tradisi larangan menikah dengan bekas istri anak angkatnya. Wallohu a’lam…


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05