Banyak sekali di antara manusia bahkan mungkin kita sendiri bertahun-tahun tenggelam dalam lumpur dosa dan kemaksiatan. Berbagai macam dosa hampir-hampir pernah dicicipi dan disambangi. Bukan hanya dosa-dosa kecil, dosa-dosa besarpun menjadi hobi setiap hari. Saat itu kita mengira bahwa kita berada di puncak kenikmatan yang hakiki atau merasa sedang menikmati kebahagiaan yang sejati. Akan tetapi secara tidak sadar sebenarnya kita sedang mengubur diri sendiri. Ya, menimbun diri dengan tumbukan dosa yang mematikan hati.

Oleh karena itu taubat merupakan pintu gerbang kemerdekaan bagi seorang hamba. Siapa saja yang belum melewati pintu gerbang itu maka ia akan berada dalam “penjajahan” setan yang durhaka. Bahkan ia akan senantiasa mengalami “penindasan” iblis yang menyeret ke neraka. Taubat juga merupakan awal kebangkitan seorang hamba. Begitu juga momentum kebangkitan umat manusia setelah terpuruk dalam kubangan lembah kemaksiatan yang penuh nista.

Berawal Dari Taubat

Berawal dari taubat kebangkitan jiwa manusia akan berjalan menuju ridha-Nya. Oleh karena itu jangan pernah bernah berputus asa meski kita berlumuran dosa. Jangan pula bersedih hati jika kita bukan orang yang suci. Ingatlah selalu kisah jiwa-jiwa yang merekah dengan taubat yang indah. Meski mereka dahulunya pernah terhanyut arus jahiliyah, namun mereka segera bangkit dan tak pernah menyerah.

Saudaraku yang dirahmati Alloh subhanahu wa ta’ala, tidak ingatkah kita kisah besar nabi Adam alaihissalam yang turun ke dunia dari surga? Memang hal tersebut terjadi dengan takdir Alloh , namun nabi Adam alaihissalam sebagai hamba yang sholih menyadari bahwa dirinya berbuat khilaf kepada Alloh subhanahu wa ta’ala. Saat itu tidak sungkan nabi Adam alaihissalam pun bertaubat kepada Alloh. Hingga akhirnya Alloh ta’ala menerima taubat nabi Adam alaihissalam dan mengembalikannya ke Surga lagi.

Kisah para penyihir Fir’aun juga menjadi inspirasi bagi kita untuk senantiasa tidak berputus asa dari rahmat Alloh subhanahu wa ta’ala. Barangkali mereka sepanjang hidup berprofesi sebagai penyihir. Setiap hari mereka bergelut dengan kekufuran dan dosa besar. Namun di akhir hidupnya Alloh  mengetuk hati mereka untuk bertaubat. Cahaya keimananpun menyusup dan merasuk ke jiwa mereka dan akhirnya menuntun mereka bertaubat kepada Alloh subhanahu wa ta’ala.

Meskipun resiko taubat mereka harus dipotong silang tangan dan kakinya,  dibunuh bahkan disalib oleh Fir’aun, namun mereka justru senantiasa tegar. Dengan tegas sekali mereka menjawab, seperti yang telah Alloh abadikan pada firman-Nya;

قَالُوا لَنْ نُؤْثِرَكَ عَلَىٰ مَا جَاءَنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالَّذِي فَطَرَنَا ۖ فَاقْضِ مَا أَنْتَ قَاضٍ ۖ إِنَّمَا تَقْضِي هَٰذِهِ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا 

 

“Mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang Telah datang kepada kami dan daripada Tuhan yang Telah menciptakan Kami; Maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu Hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja. (QS. Thoha [20]:72 )

Subhanalloh, kebangkitan jiwa mereka dengan taubat mampu membendung arus intimidasi yang diberikan Fir’aun dan bala tentaranya. Sedikitpun mereka tak bergeming dengan ancaman itu. Justru mereka teguh dengan indahnya balasan bagi orang yang bertaubat. Ibnu Abbas rodhiallohu anhu berkata dalam menjelaskan ayat tersebut.

“Mereka (tukang sihir Fir’aun) di pagi hari masih berstatus kafir sebagai penyihir, namun di sore hari berubah menjadi para Syuhada”

Sungguh luar biasa dampak kebangkitan taubat dalam jiwa mereka.

Tak lain halnya dengan kisah laki-laki Bani Isroil pembunuh 99 orang. Dengan bertaubat menjadikan ia bangkit dan bergerak menuju keridhaan Alloh ta’ala. Hatinya sudah tidak sanggup lagi menampung dosa, jiwanya telah muak dengan pertumpahan darah.  Akhirnya ia pun ingin hidup damai dan bahagia. Dengan tegas ia memilih jalan taubat. Kesana-kemari ia berkelana dan bertanya. Karena kejujurannya dalam bertaubat maka Alloh  pertemukan dia dengan seorang yang berilmu dan bertakwa. Berawal dari itulah lembaran baru ia buka dengan langkah pasti menuju ridho-Nya.

Di zaman nabi  pun sangat banyak para sahabat yang menjadi mulia dengan lembaran taubat. Bahkan mereka lebih mulia setelah bertaubat.  Umar bin Khottob, Kholid bin Walid, Saad bin Abi Waqqos, Hamzah bin Muthalib  rodhiallohu anhum  dan banyak sahabat nabi sholallohu alaihi wasallam lainnya yang bangkit dengan bertaubat.

Mereka seolah hidup kembali setelah puluhan tahun “mati” dalam kejahiliyahan. Cahaya taubat mampu menyulut jiwa mereka untuk menjadi lebih baik. Jadi setelah bertaubat bukan malah mereka minder untuk berjuang. Atau minder untuk menjadi barisan terdepan dalam berjuang. Namun mereka berlomba menjadi garda terdepan. Mereka tebus kejahiliyahan yang mereka pernah lakukan dengan prestasi gemilang yang terukir sepanjang zaman. Dulu mereka adalah para pembenci Islam, namun celupan taubat mengubah mereka menjadi para pejuang islam. Itulah kejujuran taubat mereka.

Subhanalloh, indah sekali ungkapan Imam Ibnu Al Qoyyim rohimahulloh menyifati tentang taubat. Beliau berkata, taubat merupakan permulaan dan penghujung perjalanan seorang hamba, kebutuhan hamba terhadap taubat di penghujung perjalanan merupakan satu hal yang tidak bisa tidak harus dipenuhi sebagaimana kebutuhannya dipermulaan perjalanan.

Dan sungguh Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ 

 

“Dan bertaubatlah kepada Alloh seluruhnya wahai orang yang beriman agar kalian beruntung.” (QS. An Nur [24]:31)

Jangan Sampai Terpedaya

Terkadang ada diantara manusia yang sengaja dibiarkan Alloh SWT subhanahu wa ta’ala saat berbuat dosa. Namun semua itu bukan berarti Alloh lupa dengan perbuatan mereka. Memang terkadang juga Alloh ta’ala tidak mengadzab fisik secara langsung dengan perbuatan dosa kita. Namun coba sejenak renungkanlah. Bukankah seringkali perbuatan dosa sesaat saja mewariskan kepedihan yang berlarut lama dalam hati kita? Bukankah pula banyaknya dosa yang kita lakukan tak terasa menghalangi kita dari sholat malam? Dan betapa sering pandangan yang haram memadamkan cahaya hati kita? Itulah sebenarnya bagian dari adzab Alloh ta’ala atas dosa kita.

Jadi jika kita selama ini merasa aman-aman saja tatkala berbuat dosa atau bahkan kita justru bertambah sehat mesti selalu berbuat dosa, maka janganlah senang terlebih dahulu. Tunggu dulu saudaraku, Coba kembali tanyakan kepada diri kita, Apakah dengan badan kita yang sehat menjadikan kita rajin beribadah? Apakah dengan harta kita yang bertambah banyak menjadikan kita rajin berinfak? Ataukah kegersangan hati senantiasa kita rasakan saat kita bermunajat? Jika hal itu yang kita rasakan, maka boleh jadi itulah balasan dosa yang seringkali kita tak menyadarinya. Takutlah dengan petaka dosa ini karena ia jauh lebih berbahaya dari sekedar ujian badan.

Maksimalkanlah Momentum yang Penuh Quantum Itu

Taubat adalah momentum yang penuh dengan quantum. Taubat juga saat yang paling berharga dalam kehidupan seorang muslim. Momen itulah waktu di mana ia bangkit dari keterpurukan yang membelenggunya. Taubat akan menjadikan jiwa pecundang menjadi pejuang. Taubat juga merubah penakut menjadi pahlawan. Ia juga memacu prestasi gemilang yang terukir sepanjang zaman.

Hakikatnya mulai saat itulah seseorang membuka lembaran baru dalam hidupnya. Ia kembali menoreh asa yang sekian lama hilang ditelan masa. Bahkan ia kembali merajut cita demi meraih cinta dan indahnya surga.

Meski harus berjalan tertatih, namun ia berusaha berjuang gigih. Walau harus sekian kali terjatuh, namun ia tak lagi suka mengeluh. Ia tak ingin sisa umurnya terbuang sia-sia. Dia juga tak mau kesempatannya berlalu tanpa makna. Taubat telah men-sibghah (mencelup dan mewarnai) dia dengan warna baru. Dia sekarang bukan dia yang dulu. Tapi sosok baru yang harapannya tidak hanya tersembunyi di balik batu, namun terbang keangkasa menembus langit yang biru. Wallohu’alam bishawab.

 

Artikel: Gerimis


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05