Assalamu’alaikum pak ustad….

Saya mau tanya, bagaimana tata cara pernikahan yg syar’i itu? Adakah uang seserahan utuk biaya pernikahan dari pihak ikhwan kepada pihak akhwat? Kemudian bolehkah mempelai wanita itu berdandan seperti pengantin pada umumnya?….

syukron jazaakumulloh khoer.

[divide]

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Sebelum memilih pasangan yang akan menjadi calon pendamping, istri atau suami ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

1. Minta Pertimbangan, Sebelum memutuskan  untuk  mempersunting seorang wanita untuk menjadi isterinya, hendaklah ia juga minta pertimbangan dari kerabat dekat wanita tersebut yang baik agamanya.  Mereka hendaknya orang yang tahu benar tentang hal ihwal wanita  yang akan dilamar oleh lelaki tersebut, agar ia dapat memberikan pertimbangan dengan jujur dan adil. Begitu  pula bagi  wanita yang akan dilamar oleh seorang lelaki, sebaiknya ia minta pertimbangan dari kerabat dekatnya yang baik agamanya.

2. Shalat Istikharah, Hendaknya ia melakukan shalat istikharah sampai hatinyadiberi kemantapan oleh Allah Ta’ala dalam mengambil  keputusan.

3. Khithbah (peminangan), hendaklah menghadap orang tua/wali dari wanita pilihannya itu untuk meminta agar ia direstui untukmenikahi anaknya.

4. Melihat Wanita yang Dipinang, Islam  adalah agama yang hanif yang mensyari’atkan pelamar untuk melihat wanita yang dilamar dan mensyari’atkan wanita yang dilamar untuk melihat laki-laki yang meminangnya, agar masing-masing pihak benar-benar mendapatkan kejelasan tatkala menjatuhkan pilihan pasangan hidupnya.

Dari  Jabir radliyallahu ‘anhu, bersabda Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Apabila salah seorang di antara kalian meminang seorang  wanita, maka apabila ia mampu hendaknya ia melihat kepada apa yang mendorongnya  untuk  menikahinya.” Jabir berkata: “Maka  aku meminang seorang  budak wanita dan aku bersembunyi untuk bisa melihat  apa yang mendorong aku untuk menikahinya. Lalu aku menikahinya.” (HR. Abu  Daud  dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani di  dalam  Shahih Sunan Abu Dawud, 1832).

Dalam  aqad  nikah ada beberapa syarat  dan  kewajiban  yang harus dipenuhi:

a. Adanya suka sama suka dari kedua calon mempelai.

b. Adanya ijab qabul. Hadits yang bersumber Sahl  bin  Sa’id berkata:

“Seorang perempuan datang  kepada  Nabishallallahu  ‘alaihi  wa sallam untuk  menyerahkan  dirinya,  dia berkata:  “Saya serahkan diriku kepadamu.” Lalu ia  berdiri  lama sekali  (untuk menanti). Kemudian seorang laki-laki  berdiri  dan berkata: “Wahai Rasulullah kawinkanlah saya dengannya jika engkau tidak  berhajat padanya.” Lalu Rasulullah shallallahu  ‘alaih  wa sallam bersabda: “Aku kawinkan engkau kepadanya dengan mahar yang ada padamu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadist Sahl di atas menerangkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengijabkan seorang perempuan kepada Sahl dengan mahar atau mas kawinnya ayat Al-Qur’an dan Sahl menerimanya.

c. Adanya Mahar (mas kawin). Hal ini berdasarkan Hadits Dari ‘Uqbah bin ‘Amir, bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:  “Sebaik-baik mahar adalah yang paling ringan.” (HR.  Al-Hakim  dan Ibnu Majah,  shahih, lihat Shahih  Al-Jami’us  Shaghir 3279 oleh Al-Albani)

d. Adanya Wali. Dari Abu Musa radliyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah sah suatu pernikahan tanpa wali.” (HR. AbuDaud dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 1836). Wali  yang mendapat prioritas pertama di antara sekalian wali-wali yang ada adalah ayah dari pengantin wanita. Kalau tidak ada barulah kakeknya (ayahnya ayah),  kemudian saudara lelaki seayah seibu atau seayah, kemudian anak saudara lelaki. Sesudah itu barulah kerabat-kerabat terdekat yang lainnya atau hakim.

e. Adanya Saksi-Saksi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak  sah  suatu pernikahan tanpa seorang wali  dan  dua  orangsaksi  yang  adil.” (HR. Al-Baihaqi dari Imran dan  dari  Aisyah,shahih, lihat Shahih Al-Jami’us Shaghir oleh Syaikh Al-Albani no. 7557).

Menurut sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebelum aqad nikah diadakan khuthbah lebih dahulu yang dinamakan khuthbatun nikah atau khuthbatul-hajat.

f. Walimah. Walimatul ‘Urus hukumnya wajib. Dasarnya adalah sabda Rasulullahshallallahu ‘alaih wa sallam kepada Abdurrahmanbin ‘Auf:”….Adakanlah walimah sekalipun hanya dengan seekor kambing.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Al-Alabni dalam Shahih  Sunan Abu Dawud no. 1854)

Adapun  Sunnah  yang harus  diperhatikan  ketika  mengadakan walimah adalah sebagai berikut:

  1. Dilakukan selama 3 (tiga) hari setelah hari dukhul (masuk-nya)   seperti  yang dibawakan oleh  Anas  radliallahu  `anhu,katanya: Dari Anas radliallahu `anhu, beliau berkata: “Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam telah menikahi Shafiyah  dengan maskawin ‘pembebasannya’ (sebagai tawanan  perang Khaibar) dan mengadakan walimah  selama tiga hari.” (HR. Abu Ya’la, sanad hasan, seperti yang  terdapat  pada Al-Fath 9/199 dan terdapat di  dalam Shahih Bukhari  7/387 dengan makna seperti itu. Lihat Adabuz  Zifaf fis Sunnah Al-Muthaharah oleh Al-Albani hal. 65)
  2. Hendaklah mengundang orang-orang shalih, baik miskin atau kayasesuai dengan wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Jangan bersahabat kecuali dengan seorang mukmin dan jangan makan makananmu  kecuali  seorang yang bertaqwa.” (HR. Abu  Dawud,  At- Tirmidzi,  Ibnu  Hibban dan Al-Hakim dari  Abi  Sa’id  Al-Khudri, hasan,  lihat   Shahih Al-Jami’us Shaghir 7341  dan  Misykah  Al- Mashabih 5018).
  3. Sedapat mungkin memotong seekor kambing atau lebih, sesuaidengan taraf ekonominya. Keterangan ini terdapat dalam hadits   Al-Bukhari, An-Nasai, Al-Baihaqi dan lain-lain dari Anas   radliallahu `anhu. Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa   sallam kepada Abdurrahman bin Auf: “Adakanlah  walimah meski hanya dengan seekor kambing.” (HR.  Abu Dawud dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud no. 1854)

Adapun terkait dengan uang seserahn, maka ini adalah urf atau tradisi yang berlaku dimasyarakat yang tidak dilarang oleh islam. Hanya saja yang harus dihindari adalah bermewah-mewahan dalam melaksanakan walimah. Mempelai wanita boleh didandani dengan dandanan yang tidak menyalahi syari’at, tetapi khusus diperuntukkan calon suaminya atau menemui tamu-tamu perempuan. Dan haram bagi mempelai wanita dilihat oleh tamu laki-laki.

Dijawab oleh tim lajnah Fajri FM


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05