Oleh: Ust. Umar Muhsin, Lc., M.Pd.I.

Kemudian syarat LaailaahaIllallah yang Keempat, adalah al-Inqiyād (yakni tunduk dan pasrah).

Perbedaan antara al-inqiyād atau tunduk dengan al-qabūl atau menerima adalah bahwa al-inqiyād artinya mengikuti dengan perbuatan. Sedangkan al-qabūl adalah menampakkan kebenaran yang dikandung makna syahadat dengan ucapan, meskipun dalam keduanya sama-sama terkandung makna ittibā’ (mengikuti). Jadi, al-Inqiyād artinya menyerahkan diri dan tunduk secara total terhadap hukum-hukum Allah. Allah azza wa jalla berfirman:

“Barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh.(QS. Luqmān [31]: 22)

Salah satu Bentuk ketundukkan kepada Allah ta’ala adalah dengan beribadah hanya kepada-Nya, sedangkan bentuk inqiyād kepada Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam adalah dengan menerima sunnah-nya dan mengikuti syari’atnya serta ridha terhadap hukumnya, sebab jika seorang hamba telah menerima dan melaksanakan hukum-hukum Allah dan Rasul-Nya, berarti ia telah benar imannya.

Kelima, adalah al-Shidq yaitu benar atau jujur. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya:

Barangsiapa yang mengucapkan Lā Ilāha Illallah dan benar-benar keluar dari lubuk hatinya, niscaya ia masuk surga.” (HR. Ahmad)

Adapun orang yang mengucapkan syahadat dengan lisannya saja, namun dia mengingkari kandungannya, maka dia tidak disebut sebagai orang yang jujur dalam syahadatnya dan ia tidak akan masuk surga sebagaimana orang-orang munafik yang Allah kisahkan ceritanya dalam firman-Nya:

“Di antara manusia ada yang mengatakan: Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.(QS. al-Baqarah (2): 8)

Syarat Laailaaha Illallah yang Keenam, adalah al-Ikhlāsh yaitu memurnikan kalimat LailahaIllallah. Sedangkan Kebalikannya adalah syirik atau tidak ikhlāsh.

Maksud ikhlāsh di sini adalah beribadah hanya kepada Allahsemata, tanpa menyelewengkan salah satu bentuk ibadah tersebut kepada selain-Nya, baik itu kepada malaikat yang dekat dengan-Nya ataupun kepada nabi yang diutus. Adapun Ikhlāsh dalam mengikuti Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam adalah dengan cara mencukupkan diri hanya mengikuti sunnahnya, mengikuti hukumnya, menjauhi bid’ah dan hal-hal yang menyelisihi sunnahnya, serta dengan meninggalkan hukum, undang-undang ataupun adat-istiadat buatan manusia yang bertentangan dengan syari’at beliau shalallahu alaihi wasallam. Maka dari itu, siapa saja yang ridha dengan hukum (buatan) tersebut atau memutuskan hukum dengan hukum Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, berarti dia adalah orang yang tidak ikhlāsh. Allah ta’ala berfirman:

Maka beribadahlah kepadaAllah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).”  (QS. al-Zumar [39]: 2-3)

Selain itu, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam juga bersabda:

Orang yang paling berbahagia dengan syafa’atku adalah yang mengucapkan Lā Ilāha Illallah dengan ikhlash dari dalam hatinya.”  (HR. Bukhori)

Kemudian, syarat yang terakhir atau Ketujuh, al-Mahabbah (mencintai).

Maksudnya seorang hamba wajib mencintai Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya serta mencintai semua perkataan dan perbuatan baik. Selain itu, termasuk bagian mencintau Allah dan Rasul-Nya adalah mencintai wali-wali-Nya dari kalangan para Nabi, Shiddiqin, syuhada dan kaum muslimin yang taat dan tidak bermaksiat kepada Allah. Cinta yang benar mempunyai pengaruh yang kuat bagi anggota badan seorang hamba. Maka kita akan melihat seorang hamba yang benar-benar taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya, beribadah kepada-Nya dengan sebenar-benarnya, merasa nikmat dalam ketaatan kepada-Nya serta bersegera mengerjakan semua perkataan dan perbuatan yang menimbulkan kecintaan-Nya. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

Tiga hal apabila ketiganya terdapat dalam diri seseorang, maka dia akan mendapatkan manisnya iman, (yaitu) menjadikan Allah dan Rosul-Nya lebih dicintai melebihi selain keduanya, seseorang mencintai orang lain dan dia tidak mencintainya kecuali karena Allah dan dia benci untuk kembali kepada kekafiran sebagaimana dia membenci untuk dilemparkan kedalam neraka.(HR. Bukhari & Muslim)

Selain itu, kita juga akan melihat bahwa orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya adalah orang yang sangat berhati-hati dan takut dari berbuat maksiat dengan menjauhinya, dan membenci para pelakunya. Kalau seperti ini, maka itulah cinta yang benar lagi tulus.

Demikianlah beberapa syarat syahadat yang harus kita tunaikan dan laksanakan pada kehidupan sehari-hari. Semoga kita dapat mengamalkan dan mendakwahkannya. Amin. Wallahu a’lam

[Selesai]

Artikel berseri: