Oleh: Ust. Umar Muhsin, Lc., M.Pd.I.

Kalimat LailaahalIllallah adalah kalimat agung dalam Islam. Bahkan kalimat ini menjadi kunci masuk surganya seorang muslim. Akan tetapi, untuk benar-benar dapat meraih surga, seorang muslim harus memenuhi syarat-syarat Laa ilaaha Illallah. Dalam kitab sohih al-Bukhori disebutkan bahwa seorang Tabi’in bernama Wahb bin Munabbih rahimahullah pernah ditanya:

Bukankah kalimat Laa ilaaha Illallah itu kunci masuk surga?”

Wahb bin Munabbih rahimahullah menjawab:

Betul bahwa kalimat Laa ilaaha Illallah itu kunci masuk surga, akan tetapi setiap kunci pasti memiliki geriginya. Jika engkau membawa kunci yang tepat geriginya, maka pintu tersebut akan kebuka. Sebaliknya, jika kunci yang engkau bawa tersebut tidak cocok geriginya, maka pintu tersebut tidak akan bisa engkau buka.

Pintu surga itu dapat kita buka, jika kita memiliki gerigi-gerigi di kunci surga yang telah kita ucapkan, maksudnya yaitu kita tidak bisa memasuki surga kecuali telah memenuhi syarat-syarat Laa ilaaha Illallah. Lalu Apa Syarat-syarat Laa ilaaha Illallah?

Para ulama telah menetapkan adanya tujuh syarat Laa ilaaha Illallah yang harus dipenuhi oleh setiap muslim. ketujuh syarat ini ditetapkan oleh para ulama, berdasarkan penelitian mereka terhadap ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam.

Dalam kitab Syarah Arkanul Islam dijelaskan tentang penjelasan ketujuh syarat ini, di antaranya:

Pertama, al-‘Ilm yaitu mengetahui dan memahami hakikat Laa ilaaha Illallah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (Yang Haq) melainkan Allah(QS. Muhammad [47]: 19)

Selain itu, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam juga bersabda

Barangsiapa meninggal dunia dan dia mengetahui tentang La Ilaha Illallah, niscaya masuk surga.(HR. Muslim)

Maksud dari syarat pertama ini adalah kita harus mengetahui secara hakiki kandungan dan tuntutan amal dua kalimat syahadat. Selain itu kita pun tidak boleh Jahil atau bodoh seperti bodohnya orang-orang musyrik dari ummat ini yang mengingkari makna Laa ilaaha Illallah, walaupun mereka seringkali mengucapkannya. Sebab maksud dari syahadat adalah maknanya, bukan lafazh-nya saja. Itulah yang menyebabkan orang-orang musyrik dahulu yang mengerti Makna laa ilaaha Illallah mengingkari kandungannya seraya berkata,

Mengapa ia menjadikan ilah-ilah itu Ilah Yang Satu saja.”(QS. Shod [38]: 5)

Syarat kedua dari Laa ilaaha Illallah adalah al-Yaqīn yaitu meyakini. Sedangkan Kebalikannya adalah syak atau ragu.

Maksudnya, siapa yang telah berikrar dengan dua kalimat syahadat, maka ia harus meyakini di dalam hatinya tentang kebenaran ucapannya, kebenaran hak-hak ketuhanan Allah, kebenaran akan kenabian Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, kebatilan peribadahan selain Allah, dan kebatilan orang yang mengaku Nabi setelah Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam. Apabila kita ragu terhadap kebenaran maknanya atau ragu terhadap kebatilan ibadah kepada selain Allah, maka dua kalimat syahadat yang kita ucapkan tidak akan memberikan manfaat apa-apa. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

Tidaklah seorang hamba bertemu Allah dengan membawa dua kalimat syahadat dan tidak ragu-ragu terhadapnya, kecuali dia akan masuk surga.(HR. Muslim)

Sehingga, tidak diragukan lagi bahwa orang yang meyakini makna dua kalimat syahadat, maka seluruh anggota badannya akan tergerak untuk beribadah hanya kepada Allah semata dan akan taat kepada Rosul-Nya.

Selanjutnya syarat Ketiga dari syahadat adalah, al-Qabūl (atau menerima), dengan meniadakan penolakan.

Ada orang yang mengetahui makna dua kalimat syahadat dan meyakini kandungannya, namun ternyata dia menolaknya. Baik karena sombong ataupun karena dengki. Hal ini sebagaimana yang dialami oleh para ulama Yahudi dan Nashrani yang telah bersaksi akan ketuhanan Allah dan mengetahui Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, sebagaimana mereka mengetahui anak-anaknya sendiri, namun tetap saja mereka menolaknya. Demikian pula yang terjadi pada orang-orang musyrik yang mengetahui makna La Ilaha Illallah dan kebenaran Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, tetapi tidak mau menerimanya karena sombong.  Allah ta’ala berfirman:

Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka, “La Ilaha Illallah (Tiada Ilah yang berhak disembah melainkan Allah), mereka menyom-bongkan diri(QS. ash-Shoffat [37]: 35)

[Bersambung]

Artikel berseri: