Satu topik menarik untuk dikaji secara mendalam oleh kalangan ibu-ibu, atau isteri-isteri tentang pembicaraan atau pernyataan yang banyak tersebar “Suamiku Pelit”.

Ada dua kata yang perlu diperhatikan dalam bahasan kali ini. Dua kata itu, pertama: Suamiku, dan kedua: pelit. Kedua kata itu harus diperhatikan dengan baik. Perhatian yang lebih condong kepada kata “pelit” akan menimbulkan tindakan-tindakan yang tidak berkenan dan mendzalimi “suamiku”. Tetapi bukan sebaliknya, perhatian kita yang lebih condong kepada “suamiku” tidak akan menimbulkan tindakan yang tidak berkenan dan mendzalimi sifat “pelit”.

Kata pertama “suamiku”. Siapakah dia? Kenapa dia menjadi sosok yang dekat dengan anda? Seberapa besar perhatian dia kepada anda? Nafkah apa yang telah diberikan kepada anda? Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin akan membuat anda lebih mengetahui makna kata “suamiku”.

Suami adalah seorang yang menjadi pendamping hidup pasangan sang isteri. Di mana hal itu telah melewati beberapa aturan dalam Islam, sampai pada jenjang akad penikahan yang suci. Kebanyakan waktu dihabiskan suami bersama dengan isterinya. Bahkan tidur pun bersama-sama dalam satu ranjang yang penuh dengan kenangan indah. Kedekatan antara suami dan isteri mengantarkan pada pengetahuan sifat-sifat suami dan isteri yang paling rahasia, tidak mustahil mengetahui hal yang paling rahasia kecuali keduanya saja.

Manusia bukan malaikat tanpa salah dan dosa, sebaik-baik manusia tetap melakukan kesalahan juga, hanya saja pendampingnya yang dapat membantu dan menasehatinya agar tidak terjatuh pada kesalahan yang kedua kalinya. Suami isteri sejati tentu dapat saling menjaga rahasia antara mereka berdua. Rosululloh sholallohu alaihi wasallam bersabda:

Sesungguhnya manusia yang paling jelek kedudukannya di sisi Alloh ialah suami yang menggauli istrinya, dan istrinya bergaul dengannya, kemudian ia membeberkan rahasia hubungan suami-istri tersebut.” (HR. Muslim)

Suami adalah sosok yang mengemban tanggung jawab keluarga. Kewajiban suami dalam memberi nafkah kepada anggota keluarga sangatlah besar. Kewajiban itu mulai dari memimpin keluarga dan mengantarkannya kepada jalan yang benar menuju surga Alloh ta’ala baik dengan mendidik dan menasehati setiap anggota keluarga. Kewajiban suami juga memenuhi kebutuhan hidup bagi isteri dan anak-anaknya, baik kebutuhan lahir dan batin. Setiap hari bekerja keras untuk menutupi kewajibannya, hanya saja, kemampuan manusia ada batasnya, manusia hanya dapat berusaha, dan hasilnya hanya Alloh ta’ala yang memberikannya. Ketika dalam keluarga terdapat sedikit kekurangan maka wajar, mungkin hal itu adalah ujian dari Alloh subhanahu wa ta’ala agar kita bersabar dan bersyukur.

 إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ 

Sesungguhnya Alloh Dialah Maha pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh. (QS. Al-Dzariyat [51]: 58)

Dengan bersyukur kepada Alloh subhanahu wa ta’ala, akan menambah rezeki pelakunya;

 وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ 

“Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrohim [14]: 7)

Rezeki setiap orang telah ditetapkan, dan Alloh tidak akan pernah mendzalimi hamba-Nya, walaupun dalam masalah rezeki yang dijanjikan.

Suami merupakan orang yang terdekat dengan pasangannya. Maka kesulitan yang dialami oleh seorang isteri, atau musibah yang menimpa isteri, tentu orang pertama yang siap menolong dan membantunya keluar dari kesulitan adalah sang suami. Suami siap antar jaga, saat isteri dalam keadaan lemah akan melahirkan anak.

Suami adalah seorang laki-laki yang memiliki tanggung jawab lain dari keluarga sendiri, yaitu dia dituntut untuk berbakti kepada kedua orang tuanya yang masih hidup, terlebih lagi orang tuanya dalam kondisi membutuhkan pertolongan anaknya, maka anak laki-laki lah yang berhak dan berkewajiban dalam hal itu.

Suami setiap isteri pasti berbeda-beda sikap dan tingkah lakunya dalam memainkan peran dalam keluarga. Kemungkinan paparan tanggung jawab suami di atas sedikit sekali bagi seseorang karena dia menemukan banyak hal dari diri suaminya, tetapi pemaparan di atas sudah cukup menyatakan arti penting suami dalam satu keluarga. Sehingga Rosululloh sholallohu alaihi wasallam pernah bersabda:

“Seandainya aku memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada orang lain, niscaya akan aku perintahkan para isteri untuk sujud kepada para suami mereka, karena besarnya hak yang Alloh berikan kepada para suami atas mereka”. (HR. Abu Dawud)

 

Perbincangan kedua tentang sifat “Pelit”. Di dalam Islam dikenal dengan kata bakhil. Bakhil dalam islam dipandang sebagai sifat yang buruk dan negatif. Penyakit bakhil ini banyak menghinggapi orang-orang yang memiliki harta, dan dia tidak mau menafkahkan harta tersebut kepada orang-orang yang berada di bawah tanggung jawabnya. Bahkan seorang dapat bakhil kepada dirinya sendiri dengan tidak memberikan hak pada tubuhnya. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

  1.  وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَىٰ (8)  وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَىٰ (9)  فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَىٰ (10)

Adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. (QS. al-Lail [92]: 8-10)

Bakhil mendatangkan celaka pada pelakunya sendiri, dan diharamkan dari kebaikan yang banyak. Rosululloh sholallohu alaihi wasallam mengajarkan umatnya untuk selalu berlindung kepada Alloh subhanahu wa ta’ala agar terhindar dari sifat bakhil.

« اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الهَمِّ وَالحَزَنِ، وَالعَجْزِ وَالكَسَلِ، وَالبُخْلِ وَالجُبُنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ »

“Ya Alloh, aku berlindung kepadaMu dari rasa gelisah dan sedih, lemah dan malas, kikir dan pengecut, dibebani hutang dan dikuasai orang.(HR. al-Bukhori dan Muslim)

Seorang mukmin dilarang berbuat bakhil kepada orang lain, karena hal itu penyebab hancurnya kaum terdahulu. Rosululloh sholallohu alaihi wasallam bersabda:

“Hati-hatilah kalian terhadap sifat bakhil, karena bakhil telah merusak orang-orang sebelum kalian.” (HR. Ahmad)

Sebaliknya, seorang muslim juga dilarang berlebihan dalam menyalurkan dan menghabiskan hartanya. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

 وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَىٰ عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا 

“Janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (QS. al-Isroo’ [17]: 29)

Dalam ayat di atas melarang seseorang terlalu kikir, dan jangan pula terlalu Pemurah. Jadi tuntutan kegunaan harta pada hal yang bermanfaat, terutama pada perkara yang menjadi kewajiban.

“Suami pelit”, sebutan ini kemungkinan terjadi pada diri seseorang, apabila dia enggan memberikan harta yang dimilikinya untuk diberikan kepada isterinya sebagai nafkah kehidupan sehari-harinya. Akan tetapi suami yang memberikan nafkah (primer) kepada keluarganya, tetapi ada beberapa kemauan (sekunder) yang belum terpenuhi oleh suami, maka suami tak layak diberi sebutan “suamiku pelit”. Contoh suami yang rutin menafkahi keluarganya dalam hal makan, sandang dan papan, walaupun kebutuhan papannya masih ngontrak. Apabila isterinya minta untuk membelikan televisi atau laptop, tetapi suaminya belum memenuhi kemauannya itu, maka suami bukan berarti masuk dalam kategori pelit.

Diumpamakan seorang suami pelit secara hakikatnya. Dia memberikan kebutuhan keluarganya dengan jumlah yang kurang, padahal dia memiliki harta yang cukup, bahkan lebih dari itu. Hanya saja apakah layak bagi isterinya yang menjadi pendamping hidupnya menyebarkan salah satu sifat buruk suaminya kepada orang lain dan kalayak banyak?. Menyebarkan hal itu kepada halayak banyak dapat menyebabkan keretakan dan kehancuran keluarganya sendiri. Dua orang suami isteri saling menyakiti satu sama lain dengan membuka aibnya kepada orang lain. Padahal Rosululloh sholallohu alaihi wasallam bersabda:

“Barasiapa menutupi (aib) saudaranya seislam di dunia, maka Alloh akan menutupi (aib)nya di hari kiamat.” (HR. Ahmad, shohih)

Bukan berarti sang isteri membiarkan sifat buruk melekat pada suaminya, tetapi dia dan orang tertentu sajalah yang mengetahui hal itu untuk menasehati dan menolong suaminya dari lilitan sifat bakhil yang menyusup dilingkungan keluarganya.

Wallohu A’lam


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05