1. Apakah darah nifas itu?

Jawaban:

Nifas adalah darah yang keluar dari rahim karena melahirkan. Baik darah itu keluar bersamaan ketika proses melahirkan, sesudah atau sebelum melahirkan, yang disertai dengan dirasakannya tanda-tanda akan melahirkan, seperti rasa sakit, pembukaan, adanya cairan ketuban dan lain-lain. Rasa sakit yang dimaksud adalah rasa sakit yang kemudian diikuti dengan kelahiran. Jika darah yang keluar tidak disertai rasa sakit, atau disertai rasa sakit tapi tidak diikuti dengan proses kelahiran bayi, maka itu bukan darah nifas.

  1. Jika darah nifas berhenti sebelum empat puluh hari, apakah boleh bagi seorang wanita untuk mandi wajib serta melakukan shalat?

Jawaban:

  • Jika wanita nifas telah mendapatkan kesuciannya (tidak mengeluarkan darah nifas lagi) sebelum mencapai hari ke empat puluh maka ia harus mandi, shalat serta puasa dan bagi suaminya dibolehkan untuk mencampurinya.
  • Jika ia tetap mengeluarkan darah setelah empat puluh hari maka ia tetap menganggap dirinya dalam keadaan suci, karena hari ke empat puluh dianggap hari terakhir dari masa nifas menurut pendapat yang lebih kuat di antara dua pendapat para ulama.

Dari Ummu Salamah rodhiallohu anha, ia berkata:

“Dulu para wanita yang nifas pada masa Rosululloh menahan diri selama empat puluh hari.” (HR. Ibnu Majah, Abu Dawud dan Tirmidzi)

  • Sementara darah yang keluar setelah empat puluh hari dianggap darah penyakit dan hukumnya sama dengan hukum darah istihadhah, kecuali jika darah itu keluar sebagai darah haidh yang menyusul darah nifas, maka pada saat itu ia dianggap dalam keadaan haidh yang harus meninggalkan shalat dan puasa serta diharamkan suaminya untuk mencampurinya.
  1. Apa saja hal-hal yang diharamkan bagi wanita yang nifas?

Jawaban:

Para ulama telah bersepakat bahwa wanita yang sedang nifas diharamkan melakukan apa saja yang diharamkan bagi wanita yang haid. Antara lain :

Wanita yang haid dan nifas haram melakukan sholat fardhu maupun sunnah, dan mereka tidak perlu menggantinya apabila suci.

“Bila kamu kedatangan haid maka tinggalkan shalat, dan bila telah suci mandilah dan kerjakan shalat.” (HR. Bukhori)

Wanita yang sedang nifas tidak boleh melakukan puasa wajib maupun sunnah. Akan tetapi ia wajib mengqadha puasa wajib yang ia tinggalkan pada masa nifas. Berdasarkan hadits Aisyah rodhiallohu anha: “Ketika kami mengalami haid, kami diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha shalat.” (HR. Bukhori dan Muslim)

  • Thowaf.

Wanita haid dan nifas diharamkan melakukan thowaf di Ka’bah, baik yang wajib maupun sunnah, dan tidak sah thowaf-nya. Rosululloh sholallohu alaihi wasallam bersabda kepada Aisyah rodhiallohu anha: “Lakukanlah apa yang dilakukan jamaah haji, hanya saja jangan melakukan thowaf di Ka’bah sampai kamu suci.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Menggauli wanita nifas sama halnya dengan wanita haid, hukumnya haram menurut kesepakatan ulama. Di antara dalilnya, Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman

 وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ 

“Mereka bertanya kepadamu tentang wanita haid, maka katakanlah, “Bahwa haid adalah suatu kotoran, maka janganlah kalian mendekati mereka sebelum mereka suci.” (QS. al-Baqoroh [2]: 222)

  • Tidak boleh diceraikan.

Diharamkan bagi suami menceraikan istrinya yang sedang haid atau nifas. Alloh ta’ala berfirman,

 يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ وَأَحْصُوا الْعِدَّةَ 

“Hai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (dengan wajar).” (QS. ath-Tholaq [65] : 1)

  1. Apakah diperbolehkan bagi seorang pria menyetubuhi isterinya yang telah habis masa haidhnya atau masa nifasnya sebelum isterinya itu mandi wajib?

Jawaban:

Tidak boleh bagi seorang pria menyetubuhi isterinya setelah habis masa haidh atau masa nifasnya sebelum sang istri bersuci (mandi wajib) berdasarkan firman Alloh.

 وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ ۖ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ 

“Dan janganlah kalian mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Alloh kepada kalian.” (QS. Al-Baqoroh [2] : 222)

Ayat ini menerangkan bahwa Alloh tidak mengizinkan seorang pria menyetubuhi isterinya yang sedang haidh sebelum berhenti haidhnya dan sebelum bersuci (mandi haidh), dan bagi pria yang menyetubuhi isterinya sebelum mandi maka pria itu telah berbuat dosa. Hukum itupun sama bagi wanita yang sedang nifas.

  1. Bagaimana tata cara mandi seusai suci dari haid dan nifas?

Jawaban:

Tata cara mandi haid atau nifas yang terdapat dalam hadits Nabi sholallohu alaihi wasallam, ringkasnya sebagai berikut:

  • Membasuh dua telapak tangan tiga kali.
  • Mencuci kemaluan dengan tangan kiri, lalu membersihkan tangan itu.
  • Berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat.
  • Menyiramkan air ke atas kepalanya lalu menggosok-gosokkannya dengan kuat sehingga air dapat sampai pada tempat tumbuhnya rambut. Dalam hal ini disunnahkan untuk menguraikan jalinan rambutnya.
  • Menyiramkan air ke badannya. Dimulai badan sebelah kanan lalu badan sebelah kiri.
  • Mengambil secarik kain atau kapas (atau semisalnya), lalu diberi minyak wangi kasturi atau semisalnya kemudian mengusap bekas darah (farji) dengannya.

Catatan: ketika mandi ini memakai sabun atau wangi-wangi lainnya bersamaan dengan air.

 

Wallohu A’lam

 Dijawab oleh: Ust. Arifin, S.H.I.


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05