Oleh: Ali Maulida, S.S, M.Pd.I

 مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ 

“Perumpamaan (infak yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Alloh adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Alloh melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Alloh Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (QS. al-Baqoroh [2]: 261)

Harta dengan segala bentuk dan jenisnya sesungguhnya adalah milik Alloh. Manusia memilikinya karena diberikan oleh-Nya sebagai nikmat, amanah, sekaligus ujian. Dengan harta, Alloh menguji hamba-hamba-Nya, siapakah diantara mereka yang menggunakannya dengan baik dan siapa pula yang menyia-nyiakan dan menyimpangkannya.

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

 إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ 

“Sesungguhnya harta dan anak-anak kalian adalah ujian (bagi kalian), dan di sisi Alloh-lah pahala yang besar”. (QS. at-Taghobun [64]: 15)

Diantara manusia ada yang menggunakan harta dengan membelanjakannya hanya sekedar memperturutkan hawa nafsu, sehingga tak jarang mereka terjatuh pada hal-hal yang diharamkan. Harta yang dimiliki hanya menjadikan mereka semakin jauh dari Alloh. Mereka ini adalah orang-orang yang merugi  dan celaka. Dititipi harta tapi tak pandai bersyukur. Diberi karunia tapi malah semakin kufur.

Diantara manusia ada pula yang membelanjakan hartanya semata-mata mengharapkan ridho Alloh ta’ala. Mereka mengerti bahwa harta yang saat ini di tangan mereka hakikatnya adalah milik Alloh. Ada dalam genggaman mereka hanyalah untuk sementara waktu.

Mereka menjadi hamba yang pandai bersyukur, dan mewujudkan rasa syukur kepada-Nya dengan benar. Mereka akan selalu membelanjakan harta sesuai dengan aturan-Nya. Untuk apa harta itu akan digunakan, dan apa saja yang akan dibeli dengannya, selalu diukur dengan timbangan syariah-Nya. Dengan demikian harta yang mereka miliki itu semakin menambah kedekatan mereka kepada Alloh. Mereka inilah orang-orang yang beruntung dan bahagia, yang akan meraih janji Alloh berupa pahala terbaik di surga-Nya kelak atas seluruh kesabaran mereka dalam beramal selama di dunia ini.

Sedekah Adalah Bukti Iman

Salah satu bentuk pembelanjaan harta yang sangat mulia dan bahkan menjadi bukti keimanan seseorang kepada Alloh adalah dengan berinfak atau bersedekah.

Rosululloh sholallohu alaihi wasallam bersabda:

“Suci adalah separuh dari iman, membaca Alhamdulillah dapat memenuhi timbangan (di akhirat), Subhanalloh dan Alhamdulillah dapat memenuhi sepenuh langit dan bumi, sholat adalah cahaya, sedekah adalah bukti keimanan, sabar adalah pelita, dan al-Qur’an menjadi hujjah yang dapat menolongmu atau sebaliknya mencelakakanmu. Setiap orang pada waktu pagi menjual dirinya (dengan mentaati Alloh), kemudian ada yang membebaskan dirinya (dari adzab) dan ada pula yang membinasakannya.” (HR. Muslim).

Seorang mukmin sangat yakin dengan janji Alloh subhanahu wa ta’ala, Dia akan memberi ganti atas amal hamba-Nya dengan yang lebih baik.

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

… وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ 

“… Apa saja yang kalian infakkan, maka Alloh pasti akan menggantinya. Dia-lah pemberi rizki yang terbaik”. (QS. Saba’ [34]: 39)

Rosululloh sholallohu alaihi wasallam bersabda: “Sedekah tidaklah mengurangi harta” (HR. Muslim)

“Pada setiap pagi ada dua malaikat yang turun kepada seorang hamba. Salah seorang dari mereka berdo’a: ‘Ya Alloh, berilah ganti kepada orang yang berinfak’. Yang lainnya berdoa: ‘Ya Alloh, berilah kebinasaan kepada orang yang enggan berinfak’.” (HR. al-Bukhori dan Muslim)

Balasan Pahala Berlipat Ganda

Terkait ayat dalam Surat Al-Baqoroh [2]: 261 diatas, Imam Ibnu Katsir rohimahulloh menjelaskan bahwa Alloh memberikan perumpamaan berupa balasan pahala berlipat ganda bagi orang yang berinfak di jalan-Nya dan mengharapkan ridho-Nya.

Pengaruh bagi keimanan seorang hamba yang mentadabburinya tentunya sangatlah besar, dimana pada ayat tersebut Alloh memberi perumpamaan dengan: “sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, dan setiap bulir terdapat seratus biji”. Tujuh ratus kali lipat…!! Sebuah ganjaran pahala yang sangat besar. Jika seorang mu’min tidak merasa tergerak dan tersentuh dengan janji-Nya ini, sungguh ada masalah dalam keimanannya yang harus segera ia perbaiki.

Demikianlah Alloh subhanahu wa ta’ala membalas amal sholih hamba-hamba-Nya yang mukmin, dimana amal mereka dilipatgandakan, menjadi tumbuh dan berkembang, seperti halnya Alloh menumbuhkan benih yang ditanam oleh seseorang di tanah yang baik. Benih itu akan tumbuh subur dan terus berkembang sampai pada fase untuk dapat dipetik hasilnya oleh sang penanamnya.

Alloh ta’ala tidak akan menyia-nyiakan amal hamba-Nya. Dia-lah Asy-Syakur (Yang Maha Mensyukuri), Dia membalas amal hamba-Nya sekecil apapun dengan pahala yang sangat besar.

Ayat tersebut juga merupakan penjelasan bagi ayat sebelumnya, dimana Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

 مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ 

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Alloh dengan pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Alloh), pasti Alloh akan melipatgandakan balasan kepadanya dengan lipat ganda yang banyak”. (QS. al-Baqoroh [2]: 245)

Alloh subhanahu wa ta’ala juga berfirman pada ayat yang lain:

 يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ ….

“Alloh memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah ….” (QS. al-Baqoroh [2]: 276)

Alloh menyuburkan harta yang dikeluarkan oleh seorang hamba berupa infak atau sedekah dengan menumbuhkan harta tersebut menjadi berlipat ganda, memberikan keberkahan yang banyak padanya sehingga berbuah manfaat yang optimal bagi pemiliknya, dan memberikan balasan pahala yang besar dan berlipat ganda kepada pelakunya.

Rosululloh sholallohu alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa bersedekah dengan sebutir kurma dari hasil usaha yang baik -dan Alloh tidak akan menerima kecuali yang baik- maka Alloh akan menerima dengan tangan kanan-Nya, lalu mengembangkan untuk pemiliknya (yang berinfak) sebagaimana salah seorang kalian mengembangbiakkan anak kuda atau anak untanya, sampai harta itu menjadi sepenuh bukit”. (HR. Bukhori)

Seluruh ayat maupun hadits tersebut menunjukkan dengan sangat jelas akan keagungan amal sholih berupa infak atau sedekah, dimana kebaikan yang akan didapatkan oleh orang yang berinfak sangat banyak. Selain beberapa manfaat yang telah disebutkan diatas, juga diantaranya; infak dapat menghapus dosa, sebagaimana Rosululloh sholallohu alaihi wasallam bersabda: “Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api”. (HR. Tirmidzi)

Selain itu, di hari kiamat kelak tatkala matahari didekatkan dengan jarak yang sangat dekat diatas kepala manusia, dengan kondisi yang sangat panas, maka infak/ sedekah akan menjadi naungan bagi orang yang mengamalkannya.

Rosululloh sholallohu alaihi wasallam bersabda: “Setiap orang akan berada di bawah naungan sedekahnya (pada hari kiamat) sampai selesai diadilinya seluruh manusia”. (HR. Ahmad)

“Sesungguhnya naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat adalah sedekahnya”. (HR. Ahmad)

Dalam kesempatan lain, beliau sholallohu alaihi wasallam juga memberi kabar gembira kepada tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan dari Alloh di hari kiamat, salah satunya adalah:

“Seseorang yang bersedekah dengan menyembunyikan sedekahnya itu, sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya”. (HR. al-Bukhori dan Muslim)

Saudaraku kaum muslimin… sesungguhnya masih sangat banyak limpahan ganjaran kebaikan yang akan Alloh berikan kepada hamba-hamba-Nya yang gemar berinfak, baik di dunia maupun di akhirat. Ayat-ayat dan hadits-hadits tersebut kiranya dapat menjadi pendorong semangat kita dalam mengamalkannya. Semoga Alloh menerima amal-amal sholih kita, aamiin


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05