Oleh: Ust Arifin, S.H.I.

Sebagaimana yang kita telah ketahui, para ulama mengategorikan dosa menjadi dua, yaitu dosa besar, yaitu al-kabaa’ir dan dosa kecil, yaitu ash-shaghaa’ir. Dosa besar adalah segala perbuatan yang pelakunya diancam dengan api neraka, memperoleh laknat atau mendapatkan murka Allah di akhirat atau mendapatkan hukuman had di dunia.

Sedangkan jika pelakunya tidak diancam dengan api neraka, tidak memperoleh laknat atau tidak mendapatkan murka Allah di akhirat atau tidak mendapatkan hukuman had di dunia maka termasuk dalam dosa kecil . Namun perlu diketahui bahwa ketika para ulama membagi dosa menjadi dosa kecil dan dosa besar, bukanlah maksudnya menganggap remeh atau menyepelekan dosa kecil.

Bahkan terdapat beberapa sebab yang menjadikan dosa kecil berubah menjadi dosa besar. Yang dimaksud dengan “dosa kecil berubah menjadi dosa besar” adalah berubah dari sisi dosa dan hukumannya, bukan perubahan dosa kecil itu sendiri (secara dzatnya) menjadi dosa besar.

Ibnu Hajar Al-Haitamy rahimahullah  di dalam kitab Syarh Jauharut Tauhiid, halaman 196 berkata, “Dosa kecil terkadang dihukumi sebagaimana dosa besar, bukan dosa kecil itu sendiri yang berubah menjadi dosa besar.”

Pada pokok bahasan kali ini dan beberapa pembahasan yang akan datang, kita akan mengkaji beberapa sebab yang menjadikan dosa kecil dihukumi dosa besar. Insya Allah, pada kesempatan ini kita akan mengkaji satu sebab, yaitu

Sebab pertama: terus-menerus berbuat dosa atau al-Ishraar

Terus-menerus berbuat dosa kecil dan juga adanya tekad untuk kembali melakukan dosa kecil, akan menjadikan dosa kecil tersebut dihukumi sebagaimana dosa besar.

Imam Bukhori meriwayatkan hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

“Berikanlah kasih sayang, niscaya Engkau akan disayangi. Berilah maaf, niscaya Allah akan mengampuni kalian. Celakalah orang-orang yang tidak memperhatikan aturan syariat dan tidak beradab dengan adab-adab syariat.  Dan celakalah orang-orang yang berbuat ishraar, yaitu orang yang terus-menerus di atas perbuatan (dosa) yang mereka lakukan, sedangkan mereka mengetahui.”  (HR. Bukhari)

Ancaman yang terdapat dalam hadits tersebut adalah ancaman yang sangat keras, yang tidak diberikan kecuali untuk dosa besar. Dari hadits tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa dosa kecil mendapatkan ancaman yang sama seperti dosa besar, salah satunya disebabkan oleh al-ishraar.

Sebaliknya, jika pelaku dosa besar bertaubat dan tidak terus-menerus mengulangi dosa besar yang pernah dia lakukan, maka dia akan diampuni. Hal ini tidak seperti pelaku dosa yang terus-menerus berbuat dosa, dia tidak akan diampuni, meskipun yang dia lakukan tersebut pada asalnya adalah dosa kecil. Allah Ta’ala berfirman di dalam al-Qur’an, yaitu:

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali ‘Imraan: 135)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, Firman Allah Ta’ala,

‘Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” Yakni mereka bertaubat dari dosa-dosa mereka dan kembali kepada Allah dalam waktu dekat serta tidak terus-menerus berbuat maksiat dan menekuninya. Jika dia mengulangi perbuatan dosanya, maka dia bertobat lagi. Al-Hafidz Abu Ya’la al-Mushili rahimahullah meriwayatkan dalam musnadnya, dari mantan budak Abu Bakar, dari Abu Bakar radhiallahu anhu, dia berkata bahwa: Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda;

“Tidak dikatakan terus menerus dalam dosa orang yang beristighfar, walaupun dia mengulangi dosa dalam sehari selama tujuh puluh kali dalam sehari.”

Imam Baghowi rahimahullah berkata, “Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu”. Yakni mereka tidak menetapi dosa dan tidak terus-menerus dalam dosa akan tetapi mereka bertaubat, kembali kepada Allah dan beristighfar. Asal kata ishror adalah menetapi atas sesuatu.

Al-Hasan berkata, ‘Seorang hamba sengaja melakukan dosa secara terus menerus hingga ia bertaubat. As-sudi berkata, Ishror adalah diam dan meninggalkan istighfar. “Sedang mereka mengetahui”. Ibnu Abbas, al-Hasan, Muqotil, al-Kalbi berkata, ‘Mereka mengetahui bahwa hal itu adalah kemaksiatan.’ Ada juga yang berpendapat; mereka mengetahui bahwa ishror (terus-menerus) adalah sesuatu yang membahayakan.

Adh-Dhohak berkata, ‘Mereka mengetahui bahwa Allah memiliki ampunan dosa. Al-Hasan bin al-Fadl berkata, ‘Sesungguhnya mereka memiliki Robb yang mengampuni dosa.’ Ada juga yang berpendapat; sedang mereka mengetahui bahwa Allah tidak keberatan mengampuni dosa-dosa meskipun banyak. Ada juga yang berpendapat; mereka mengetahui bahwa jika mereka bertaubat, niscaya mereka akan diampuni.

Syarat adanya ampunan atau maghfiroh adalah tidak terus-menerus melakukan dosa tersebut. Perbuatan ishraar akan mencegah pemberian ampunan dari Allah Ta’ala. Hal ini menunjukkan bahaya perbuatan ishraar, meskipun ishraar di atas dosa kecil. Ayat di atas menyebutkan perbuatan ishraar secara mutlak dan tidak memberikan batasan tertentu, sehingga mencakup ishraar  di atas dosa kecil ataupun ishraar di atas dosa besar. Semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah kepada kita sehingga tidak terus-menerus terjerumus dalam perbuatan dosa dan maksiat.

Wallahu a’lam.

Artikel berseri: