Oleh: Ust Arifin, S.H.I.

Telah kita pelajari sebelumnya sebab pertama di antara sebab-sebab dosa kecil dihukumi sebagai dosa besar, yaitu terus menerus berbuat dosa kecil. Pada pembahasan kali ini, kita akan membahas sebab kedua dan ketiga.

Sebab kedua adalah meremehkan atau menganggap kecil perbuatan dosa.

Siapa saja yang meremehkan atau menganggap ringan dosa kecil biasanya tidak merasa bersedih hati atas perbuatan dosa yang dia lakukan. Hal ini pada akhirnya menyebabkan orang tersebut mengulangi lagi perbuatan dosa yang pernah dia lakukan dan lama-lama akhirnya menjadi sebuah kebiasaan.

Terkait dengan meremehkan dosa, Imam Al-Ghazali rahimahullah di dalam kitab Al-Arba’in fii Ushuulid Diin, halaman 226 berkata, ”Di antara sebab dosa kecil menjadi besar adalah seorang hamba menganggap remeh dosa tersebut dan tidak bersedih karena dosa yang pernah dia lakukan.”

Beliau rahimahullah juga mengatakan di dalam kitab Ihya’ ‘Ulumuddin, juz 4, halaman 32, ”Sesungguhnya dosa, selama seorang hamba menganggap perbuatan dosa tersebut sebagai sesuatu yang besar dari dalam dirinya, maka dosa tersebut akan menjadi kecil di sisi Allah Ta’ala. Ketika dia menganggap dosa tersebut sebagai perbuatan yang besar, hal itu berasal dari larinya hatinya dari dosa tersebut dan kebencian hatinya terhadap dosa. Semua itu menyebabkan tercegahnya seorang hamba dari konsekuensi perbuatan dosa.

Adapun ketika dia menganggap remeh perbuatan dosa, hal itu bersumber dari kegemarannya berbuat dosa. Sehingga menimbulkan pengaruh yang sangat kuat di dalam hati.”

Inilah seharusnya yang dilakukan oleh seorang yang beriman. Yaitu, dia senantiasa takut dan selalu menjaga dirinya dari perbuatan maksiat, menganggap besar dosa kecil yang dia lakukan dan lari serta menjauh darinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di dalam hadist yang diriwayatkan Imam Bukhori berikut ini:

“Sesungguhnya orang yang beriman melihat dosa-dosanya seperti ketika duduk di bawah gunung, dia takut kalau gunung tersebut jatuh menimpanya. Adapun orang yang fajir melihat dosa-dosanya seperti seekor lalat yang lewat (terbang) di depan hidungnya.” 

Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah generasi terbaik sepanjang masa dan zaman. Mereka adalah orang-orang yang bersemangat untuk beribadah kepada Allah. Mereka adalah orang-orang bersegera menunaikan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Mereka adalah orang-orang yang paling menjauh dari perbuatan dosa, sekecil atau sebesar apa pun perbuatan dosa tersebut. Mereka tidak meremehkan dosa dan tidak menganggap ringan suatu dosa. Sikap mereka demikian karena mereka tidak melihat besar atau kecilnya dosa yang diperbuat akan tetapi kepada siapa mereka berbuat dosa.

Diriwayatkan Imam Bukhori, Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

“Sesungguhnya kalian melakukan suatu perbuatan yang lebih halus di mata kalian dibandingkan sehelai rambut, namun kami menilainya pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk dalam dosa yang membinasakan.” 

Mengenai ucapan Anas bin Malik radiallahu ‘anhu ini, Ibnu Hajar rahimahullah berkata di dalam kitab Fathul Baari juz 11 halaman 330, ”Kalian melakukan perbuatan yang kalian anggap remeh, padahal perbuatan dosa tersebut besar atau dapat dihukumi sebagai dosa besar.”

Sebab ketiga adalah bergembira atas perbuatan dosa yang dilakukan

Bergembira atau merasa senang atas perbuatan dosa yang dilakukan menyebabkan dosa kecil tertentu dihukumi sebagai dosa besar. Seseorang yang terjatuh dalam perbuatan dosa, ketika dia merasa senang atau gembira dengan dosa yang dia lakukan, maka dia akan terus-menerus mengulangi lagi perbuatan dosa tersebut.

Bahagianya seseorang atas perbuatan yang dilakukan akan memalingkan orang tersebut dari merenungi dan memikirkan hukuman dan kemurkaan Allah Ta’ala. Sehingga dia pun tidak malu lagi ketika melakukan dosa tersebut, yang pada akhirnya dia pun melakukan perbuatan dosa tersebut secara terang-terangan atau al-mujaaharoh.

Dalil sebab ke tiga ini adalah hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang al-mujaharah. Karena di antara konsekuensi dari al-mujaharah adalah seseorang merasa gembira dengan dosa kecil yang dilakukan.

Sebab keempat adalah melakukan dosa secara terang-terangan atau al-mujaharah.

Terang-terangan dalam melakukan perbuatan dosa akan menyebabkan dosa kecil bisa dihukumi sebagai dosa besar. Orang yang terang-terangan berbuat dosa, maka dia akan menyebabkan orang lain untuk ikut-ikutan dan mendorong mereka untuk meniru perbuatan dosa tersebut. Selain itu, orang tersebut juga akan menghias-hiasi perbuatan dosa tersebut sehingga tampak indah dan menyenangkan di mata manusia dan pada akhirnya mereka menganggap dosa tersebut sebagai perbuatan yang baik.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori:

“Seluruh umatku akan dimaafkan, kecuali yang berbuat dosa secara terang-terangan. Sesungguhnya, yang termasuk dalam berbuat dosa secara terang-terangan adalah seseorang yang melakukan suatu perbuatan (dosa) di malam hari, kemudian pada pagi harinya Allah tutupi dosa tersebut . Orang tersebut kemudian berkata, ‘Wahai fulan, semalam aku berbuat demikian dan demikian.’ Padahal sungguh di malam harinya, Rabb-nya telah menutupi dosa yang dia lakukan, namun di pagi harinya dia sendiri yang membuka tutup Allah tersebut.” 

Demikianlah dua sebab yang menjadikan dosa kecil dihukumi menjadi dosa besar. Semoga kita bisa menjauhi segala bentuk dosa.

Artikel berseri: