Oleh: Ust Arifin, S.H.I.

Telah kita pelajari sebelumnya sebab kedua, ketiga dan keempat, di antara sebab-sebab dosa kecil dihukumi sebagai dosa besar, yaitu meremehkan atau menganggap kecil perbuatan dosa, bergembira atas perbuatan dosa yang dilakukan dan melakukan dosa secara terang-terangan atau dengan istilah al-mujaharoh. Pada pembahasan kali ini, kita akan membahas sebab yang kelima dan keenam.

Sebab kelima yang menjadikan dosa kecil dihukumi sebagai dosa besar adalah senang dengan perbuatan maksiat. Seperti orang yang merasakan ketenangan jiwa jika berbuat maksiat. Atau dia membanggakan diri dihadapan manusia karena telah melakukan maksiat ini dan itu! Na’udzubillahi min dzalik

Imam al-Ghozali rahimahullah berkata, “Termasuk dosa besar adalah merasa senang dengan perbuatan dosa kecil dan bergembira serta bangga.”

Waspadalah wahai saudaraku akan hal ini, karena apabila setan telah berputus asa untuk menjerumuskan manusia ke dalam dosa besar maka dia akan membujuk manusia untuk melakukan dosa kecil, yang mana apabila telah terkumpul banyak pada diri manusia dosa kecil maka dosa kecil tersebut akan membinasakannya.

Sebab keenam yang menjadikan dosa kecil dihukumi dosa besar adalah dosa kecil tersebut dilakukan oleh seorang ulama yang dijadikan sebagai teladan.

Jika Anda ditanya, siapakah ulama? jawaban apakah yang kira-kira akan anda berikan? Apakah seperti asumsi kebanyakan orang yang memandang bahwa ulama itu adalah setiap penceramah yang membicarakan agama? Atau seperti yang diyakini beberapa kalangan bahwa ulama adalah seorang yang mempunyai kesaktian? Atau mungkin seperti pandangan kaum Barat yang memandang bahwa ia adalah seorang pemegang jabatan keagamaan?

“Ulama adalah pewaris nabi,” begitu jelas Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Dawud dan Tirmidzi.

Tentunya, kita semua tahu apa dan bagaimana tugas nabi itu, bukan? Ya, membina dan membimbing umat dari jalan kesesatan menuju jalan kebenaran dengan berlandaskan pada wahyu. Menuntun umat menuju kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat. Membebaskan umat dari kegelapan dan kehancuran. Menyelamatkan umat dari kebodohan dan kenistaan. Dan yang terpenting, menyampaikan amanat risalah dari Rabb sekalian alam. Itulah tugas nabi.

Begitu halnya dengan ulama, ulama adalah penerus estafet perjuangan nabi, ulama adalah pemangku tugas nabi, semua tugas nabi, ulama yang mewarisinya. “Para nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham, yang mereka wariskan adalah ilmu. Siapa yang mengambil warisan itu berarti ia telah mengambil bagian yang banyak,” demikian sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Jika ulama adalah pewaris nabi, berarti dialah yang bertugas membimbing dan membina umat sepeninggal nabi.

Jika ulama adalah penerus estafet perjuangan nabi, maka dialah yang berkewajiban menuntun umat menuju kehidupan yang bahagia, sebagaimana dicontohkan nabi.

Dan jika ulama adalah pemangku tugas nabi, maka dialah yang berhak membebaskan dan menyelamatkan umat dari kegelapan, kehancuran, kebodohan, dan kenistaan.

Jika demikian, sungguh berat amanah yang ada dipundak ulama, dan sungguh sangat mulia pekerjaan ulama. Ulama adalah pewaris nabi. Sungguh, hanya orang pilihanlah yang mampu mengambil warisan nabi.

Maka seorang ulama, jika berbuat dosa kecil, maka dosa tersebut bisa dihukumi sebagaimana dosa besar. Hal ini karena ulama tersebut memiliki kedudukan di masyarakat sebagai teladan dan panutan dalam praktek beramal, dalam rangka mengikuti perintah Allah Ta’ala. Jika perbuatan tersebut diikuti oleh orang-orang awam, maka dosa kecil tersebut bisa dihukumi sebagaimana dosa besar.

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Orang yang berbuat dosa sedangkan dia adalah seorang alim yang menjadi panutan, jika dia paham dan tahu akan dosanya akan tetapi justru berani menerjang dosa tersebut maka dosa yang dia dapat adalah besar juga.”

Imam al-Ghozali rahimahullah mengatakan bahwa, “ketahuilah, sesungguhnya dosa kecil bisa menjadi besar dengan beberapa sebab, di antaranya: Apabila terus-menerus dikerjakan dan menganggap kecil sebuah dosa. Karena sebuah dosa acapkali seorang hamba menjadikannya suatu yang besar dalam dirinya maka akan kecil di sisi Allah azza wa jalla, akan tetapi jika dia menilainya sesuatu yang kecil maka akan besar di sisi Allah.

Di antara sebab yang lain adalah merasa senang dengan dosa kecil, merasa bangga, bahkan dia merasa mengerjakan dosa itu adalah suatu kenikmatan, dia lalai bahwa dosa itu sebab kebinasaan, sebab itu tatkala kenikmatan dosa kecil itu telah menguasai  diri seseorang maka jadilah dosa kecil itu menjadi dosa besar.”

Dosa kecil tidak hanya dihukumi sebagai dosa besar setelah ulama tersebut meninggal dunia, namun juga ketika ulama tersebut masih hidup. Karena ketika itu, perbuatan dosa tersebut akan diikuti oleh orang-orang awam dan menjadi tersebar luas di masyarakat. Semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah-Nya kepada kita semua, amin.

Imam Hulaimi rahimahullah berkata, “Tidaklah sebuah dosa melainkan  ada di dalamnya dosa kecil dan dosa besar. Dosa kecil bisa saja menjadi dosa besar dengan tanda-tanda yang disertakan padanya. Dosa besar bisa menjadi sebuah perbuatan yang sangat buruk dengan tanda-tanda yang disertakan padanya, kecuali kufur pada Allah subhanahu wa ta’ala karena ia merupakan perbuatan yang paling buruk.

Demikianlah sebab-sebab yang menjadikan dosa kecil dihukumi dosa besar. Semoga kita bisa meninggalkan dosa-dosa kecil, amin, wallahu a’lam bisshowab.

Artikel berseri: