Oleh: Rahendra Maya, S.Th.I, M.Pd.I

Kaum Muslimah satu dengan yang lainnya ibarat benteng dari benteng-benteng Islam yang tidak boleh dijamah dengan seenaknya, apalagi dirusak dan diporak-porandakan. Di pundak seluruh kaum Muslimin, terutama di pundak mereka sendiri ada tanggung jawab besar untuk melindungi, mentarbiyah, dan menjaga kaum Muslimah dari berbagai kerusakan dan kesesatan.

Apabila para Muslimah istiqāmah dalam membina umat, maka seluruh masyarakat pun akan terlindungi. Kesholehan dan ‘iffah (kesucian jiwa) mereka merupakan jalan untuk melindungi umat dari berbagai kemunduran, khususnya penurunan moral dan dari beragam tindakan memperturutkan hawa nafsu.

Di sisi lain, musuh-musuh mereka, baik dari kalangan Westernis (pengikut kebudayaan Barat) maupun kaum Sekuleris berusaha keras untuk menghancurkan benteng kokoh yang mulia, dan untuk memecahkan permata suci yang mulia tersebut. Mereka menyebarkan racun dan rayuan maut untuk menjerumuskan kaum Muslimah dari agamanya.

Mereka memobilisasi berbagai media massa untuk mengiklankan beragam bentuk fāhisyah (perbuatan keji lagi lacur) yang diklaim sebagai suatu seni atau dipropagandakan sebagai sebuah peradaban. Mereka pun begitu antusias mengekspor peradaban semu yang hina, seperti komoditi seksual (pelacuran), dengan tujuan untuk merubah tatanan masyarakat dan opini publik terhadap kaum Muslimah secara khusus, atau harga diri seorang wanita secara umum.

Hal ini bukanlah sesuatu yang aneh, karena ini merupakan slogan dan adat-istiadat yang telah mendarah daging bagi mereka. Namun yang sebaiknya diperbuat oleh setiap Muslimah yang ridho kepada Alloh subhanahu wa ta’ala sebagai Robbnya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad sholallohu alaihi wasallam sebagai Nabi dan Rosul-Nya, adalah untuk saling bertanya dengan tulus dalam lubuk hatinya:

“Apa yang telah dilakukan oleh setiap Muslimah dalam mengayomi kaumnya, permata berkilau indah yang mulia?”

Yang paling berhak untuk merenungkan pertanyaan besar ini adalah para wanita Muslimah yang sholihah, yang peduli, simpati dan memiliki empati terhadap nasib saudari-saudarinya.

Sesungguhnya kita semua –baik Muslimin maupun Muslimat– dituntut untuk mengetahui dengan seksama bahwa realita umat kita, baik dari segi sosial-masyarakat maupun dari sisi dakwah, menunjukkan satu kesimpulan bahwa kita semua kurang memberikan porsi dan perhatian yang cukup untuk mendakwahi kaum Muslimah. Kitapun melihat kebanyakan Muslimah yang sholehah, –terlebih awamnya– lebih banyak diam, berpangku tangan, “puas sekedar menjadi penonton” dan tidak mampu berbuat banyak dalam berdakwah kepada kalangannya sendiri, kaum Muslimin yang tercinta. Bahkan kebanyakan mereka hanya pandai mencari berbagai alasan atau mencari kambing hitam –terlebih kambing congek–, agar ketidakmampuan dan sifat diam mereka dapat dilegalkan dan dibenarkan.

Secara pasti, kita semua mengetahui bahwa rintangan-rintangan dakwah yang dihadapi kaum wanita adalah lebih banyak dari yang menimpa saudara-saudaranya, kaum lelaki?

Atau sebaliknya, apakah hal ini sepantasnya menjadi alasan kuat bagi setiap wanita dan juga setiap Muslimah untuk bersiap menyongsong kebangkitannya?

Ataukah dibenarkan bagi seorang da’iyah untuk bermalas-malasan dan ber-futūr ria (berpangku tangan)?

Wahai saudari-saudariku kaum Muslimah, marilah sejenak bersama-sama kita merenungi kisah indah nan menawan yang dituturkan Shahabat mulia Abu Huroiroh rodhiallohu anhu yang berkata:

“Ada seorang wanita berkulit hitam meninggal dunia dan ia adalah orang yang senantiasa menyapu masjid, namun kematiannya belum diketahui oleh Rosululloh. Maka ketika diinformasikan tentang hal tersebut, maka beliau bertanya: “Apakah yang telah dikerjakannya?” Lalu dijawab: “Ia telah meninggal, wahai Rosululloh!” Beliau berkata: “Maukah kalian menginformasikannya lebih lanjut?” Maka merekapun menjawab, sesungguhnya ia itu begini dan begini –tentang kisah hidupnya–, seakan-akan merendahkannya. Maka beliau berkata: “Tolong tunjukkan kepadaku kuburannya!” Kemudian beliau mendatangi kuburannya dan menyolatkannya.” (HR. al-Bukhāri dan Muslim)

Subhānallah…seorang wanita yang oleh kebanyakan orang dipandang dengan sebelah mata dengan hina, namun nilai kemuliaannya di sisi Rosululloh sholallohu alaihi wasallam sangatlah agung, sehingga beliau menanyakan keadaannya dan menyolatkannya.

Wanita tersebut telah menunaikan tugas dan tanggung jawabnya –meskipun dianggap sepele dan minim–, akan tetapi di sisi Alloh subhanahu wa ta’ala merupakan amalan agung sehingga berhak mendapatkan pujian dan perhatian dari Rosululloh sholallohu alaihi wasallam.

Ini merupakan suatu bentuk kreatifitas, yang mendorong wanita agung tersebut berkhidmat kepada kaum muslimin dalam memenuhi hajat kebutuhan mereka, dan tampil berperan bagi Islam. Itulah gambaran amalan mulia yang berasal dari seorang wanita lemah dalam pandangan orang lain. Namun demikian hatinya dipenuhi dengan ketaatan yang sanggup melahirkan kesungguhan dan pengorbanan, tanpa disertai perasaan malu atau malas sedikitpun.

Sesungguhnya hal ini juga adalah suatu bentuk kreatifitas, yang membuat bangga hati orang-orang yang memiliki nurani yang sensitif dalam kebaikan dan senantiasa bergelora untuk berjuang. Maka iapun segera bangkit untuk mempersembahkan kemampuan dirinya, tanpa dibarengi perasaan berpasrah diri atau menunggu orang lain yang melakukannya.

Ternyata banyak sekali pengaruh yang meresap dalam jiwa tatkala kita menyaksikan kebiasaan yang telah mendarah daging seperti ini.

Namun sebaliknya, kita menyaksikan bahwa kebanyakan wanita sholihah justru berpaling dan menghindar dari amanat dan tanggung jawab yang besar ini.

Subhānallah… Mengapa saudariku meninggalkan medan mulia ini? Lalu kepada siapa saudari akan berharap ada orang lain yang akan menggantikan dan memainkan peranannya?

Ataukah hati saudariku tidak merasa tersayat tatkala melihat berbagai kebejatan yang memberondong kehidupan melalui taring-taring tajam dunia maya (internet) dan juga melalui berbagai media massa? Dengan mudah mereka mempermainkan dan mengombang-ambingkan saudari-saudarimu sehingga merenggut ‘iffah (kesucian diri) dan kemuliaannya?

Tidakkah hati saudariku merasa teriris tatkala menyaksikan beragam kerusakan yang menimpa saudari-saudarimu? Atau bahkan yang tersebar luas di rumah-rumah kita bagaikan kobaran api yang menyala-nyala di setiap saat dan waktu?

Masih sanggupkah saudariku merasakan lezatnya makanan dan minuman tatkala menyaksikan seorang pemudi dan diikuti oleh pemudi lainnya, mulai mencampakkan hijabnya? Atau mulai berdansa ke sana kemari karena terbuai alunan musik durjana pembawa petaka dan fitnah?

Ya Alloh…!! Bagaimana mungkin saudariku masih diam seribu bahasa, sementara engkau memiliki kemampuan –dengan karunia Alloh– untuk melindungi dan mengayomi saudari-saudarimu dari jerat dan tipu-daya para durjana? Sudah keringkah air matamu? Atau sudah tenteramkah hatimu? Ataukah Alloh subhanahu wa ta’ala telah menjamin untuk meridhoi langkahmu?

Sekaranglah saatnya untuk engkau mulai mempersiapkan diri…karena jika tidak, maka sesungguhnya umat ini adalah tanggung jawabmu. Sesungguhnya kelalaianmu merupakan kesempatan yang engkau berikan kepada para durjana untuk bebas melakukan segala upayanya.

Barangsiapa yang menyadari akan besarnya tanggung jawab yang harus diembannya, maka dia akan terbebas dari segala dosa.

Barangsiapa membenarkan Alloh ta’ala, maka Alloh pun akan mengakuinya sebagai hamba-Nya yang jujur.

Saudariku……, bangkitlah, pelajarilah agamamu, dakwahi saudari-saudarimu dan berjuanglah!

Saudariku……, ayunkan langkah pastimu dan akhirilah kepedihanmu sekarang juga!

Saudariku, sesungguhnya Islam butuh peranmu, lagi…, lagi…dan lagi….

Diapresiasi dan diadaptasi dari Ukhayyat …kafā ‘Ajzan karya Ahmad ibn ‘Abd ar-Rahmān ash-Shuwayyān.


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05