Berbicara tentang sabar, maka pada dasarnya semua manusia baik yang kafir maupun yang muslim membutuhkan sikap dan perilaku yang satu ini. Karena dalam merealisasikan pekerjaan-pekerjaan yang sedang dilakukannya dan dalam rangka melempangkan tujuan-tujuan yang telah direncanakan dalam kehidupannya, kesabaran adalah satu hal yang fundamental untuk hasil yang maksimal bagi pekerjaan dan tujuan tersebut.

Akan tetapi dalam realitanya, tak jarang di antara kita yang tidak mampu menghadirkan sikap sabar secara maksimal dan bahkan pada tataran tertentu sikap sabar ini telah pudar dan habis di tengah perjalanan kegiatan kita.

Beratnya Sabar Bagi Jiwa

Sebagai seorang muslim, di mana yang menjadi hakikat tujuan hidupnya adalah untuk mendapatkan ridha Alloh ta’ala dan surga-Nya. Tentu untuk merealisasikan tujuan tersebut di antaranya yang utama adalah dengan berusaha semaksimal mungkin melaksanakan seluruh perintah-perintah Alloh ta’ala dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya atau dengan kata lain berusaha untuk selalu berada pada jalur ketaatan kepada Alloh Ta’ala dan Rasul-Nya shollallu alaihi wasallam. Akan tetapi, dalam perjalanannya, banyak sekali godaan, cobaan yang merintangi saat kita tengah asyik menjalankan ketaatan kepada Alloh ta’ala. Sehingga ada di antara kita yang gagal dan ada juga yang sukses melanjutkan perjalanan ketaatannya.

Di samping itu, dalam menunaikan misi menuju surga Alloh ta’ala tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Mengingat ketaatan yang dilakukan oleh seorang muslim secara psikologis tidak sesuai dengan kecenderungan asasi jiwanya. Karena secara asasi, jiwa kita adalah ammârah bi al-su’ (selalu menyuruh kepada keburukan). Sehingga harus diakui kalaulah bukan karena iman dan takwa yang menghujam, jiwa kita telah jauh dari ketaatan kepada Alloh Ta’ala. Hal ini menegaskan betapa surga Alloh dikelilingi oleh perkara-perkara yang cenderung dianggap berat oleh jiwa kita. Sebagaimana sabda Rasululloh sholallohu alaihi wasallam:

Dari Abu Huroiroh bahwa Rasululloh ` bersabda: “Neraka itu dikelilingi oleh syahwat sedangkan surga dikelilingi oleh perkara-perkara yang dibenci.” (HR. Al-Bukhari No. 6487)

Sabar Itu Lentera

Jika saja kita dapati di alam realita tentang sabarnya orang-orang kafir dalam melakukan pekerjaan duniawinya, sehingga mereka mampu menguasai sains dan teknologi. Maka kita sebagai orang Islam jauh lebih utama untuk menghiasi gerak gerik ibadah kita dengan sikap kesabaran. Karena apa yang akan kita peroleh di surga nanti adalah jauh lebih baik dari apa yang telah diraih oleh orang kafir di dunia ini.

Salah satu hal yang menarik dari karakteristik sabar adalah bahwa ia adalah lentera bagi kehidupan seorang muslim. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad shollallu alaihi wasallam:

“Dan sabar itu adalah cahaya..” (HR. Muslim No. 556)

Ibn ‘Utsaimin memberikan makna tentang kata “Dhiyâ’  dalam hadits tersebut dengan kata-kata: “cahaya yang disertai dengan panas, sebagaimana dalam surat Yunus ayat 5: “Dialah Alloh yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya” matahari memiliki cahaya dan panas. Demikian juga dengan sabar, karena sabar berat bagi jiwa dan membuatnya menderita. Sebagaimana manusia menderita jika kepanasan”. (Syarh al-Arba’un al-Nawawiyah, hlm. 37).

Di balik beratnya sabar bagi jiwa, sejatinya ia adalah cahaya lentera yang mampu mengubah nasib seseorang menjadi bahagia baik di dunia maupun di akhirat. Karena segala bentuk pelanggaran syariat, seperti syirik, kebid’ahan, perzinaahan, minum khamar, ghibah dan lain sebagainya adalah titik hitam yang akan menggelapi kalbu seorang muslim. Demikian juga halnya dengan kemalasan untuk melakukan ibadah juga merupakan kegelapan yang lain. Jika ini dibiarkan, maka lambat laun akan menjadi gumpalan kegelapan yang sulit untuk dihilangkan.

Oleh karena itu, kegelapan-kegelapan tersebut sudah semestinya harus diterangi, yaitu dengan sabar. Kita harus sabar dalam melakukan ibadah kepada Alloh, kita juga harus sabar untuk tidak melakukan perkara-perkara yang dilarang oleh Alloh, kita juga harus sabar dalam menghadapi takdir Alloh yang tidak mengenakkan diri kita dan yang lebih penting dari itu semua adalah kita harus sabar untuk selalu istiqamah berada dalam ketaatan kepada Alloh sampai ajal menjemput kita.

Inilah kata kunci yang dapat mengantarkan kita untuk menjadi para penghuni surga Alloh. Sebagaimana Firman Alloh dalam surat al-Furqân ayat 75, yang menjelaskan tentang balasan bagi para ‘Ibâd al-Rahmân:

أُولَئِكَيُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا

“Mereka itulah yang diberi balasan kamar (dalam surga) dikarenakan kesabaran mereka”.

Semoga kita semua dijadikan sebagai hamba-hamba Alloh ta’ala yang pandai bersabar dalam beribadah kepada-Nya. Amien. Wallâhu a’lam.

Ditulis oleh: Ustadz Abu Hasnaa Umar Muhsin, Lc, M.Pd.I.

Artikel: Gerimis


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05