Jilbab Ribet ?

“Jilbab?” “Ribet!” Begitu komentar sebagian wanita. Mereka cukup berargumen dengan contoh; ketika seorang muslimah berbelanja ke warung, selalu butuh waktu untuk berjilbab plus kaos kaki. Hal ini dianggap ribet, karena biasanya wanita lain tidak pikir-pikir untuk mengganti pakaian, langsung saja pergi ke warung. Begitu juga ketika menyapu di halaman rumah, ketika menemui tamu, ataupun ketika kumpul dengan keluarga besar. Semuanya dianggap menyusahkan alias ribet, bahkan yang lebih parahnya lagi sering dikatakan sebagai pengaruh dari “belajar agama yang terlalu fanatik”.

Penilaian negatif terhadap jilbab ini bukan baru lahir pada dekade ini. Banyak pihak mendengungkan emansipasi dan humanisasi untuk mengusung busana non Islami.  Ide ini telah mempengaruhi sebagian muslimah yang seharusnya menyadari kesejatian dirinya hanya mampu terealisasi dengan nilai-nilai Ilahi. Mereka pun tidak menyadari peran setan dibalik populernya busana non Islami yang telah menimbulkan sangat banyak kerusakan bahkan mewariskan dosa hingga terancam ke jurang neraka.

Rosululloh sholallohu alaihi wasallam bersabda, “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.”(HR. Muslim)

Salah satu tren busana non Islami adalah rok mini. Beberapa waktu yang lalu kasus perkosaan terhadap wanita memunculkan kontroversi antara kalangan yang mengecam wanita berbusana rok mini dan mereka yang mengusung emansipasi. Ada yang menyalahkan korban, ada pula yang tidak sepakat jika menyalahkan korban lantaran mengenakan rok mini. Lebih jauh, Komnas Perempuan yang mewakili pemikiran emansipasi dan humanisasi mengatakan bahwa pakaian tak dapat menjadi ukuran untuk seseorang dilecehkan atau tidak, alias, pakaian tidak menjadi faktor yang turut berkontribusi terhadap terjadinya pemerkosaan di tempat umum. Sebagaimana pernyataan  Komisioner Komnas Perempuan, “Orang yang berpakaian tertutup tak lantas bebas dari pelecehan seksual dan pemerkosaan di tempat umum. Di Bali, orang merasa aman dan nyaman meski ‘telanjang’ di depan umum. “Orang terbiasa memakai blazer dan rok pendek, apalagi di kota besar yang heterogen seperti Jakarta. Melarang menggunakan rok pendek menyelewengkan kebiasaan yang sudah menjadi kelaziman. Setiap orang berhak memakai pakaian selama dalam batas kesopanan. Rok mini bukan menjadi alasan atas terjadinya pemerkosaan. Karena tindak kejahatan terjadi bukan karena rok mini, tetapi karena iklim dan mindset,” terangnya. “Kalau ada orang yang tergoda dengan rok mini, alihkan saja pandangan bukan justru memelototinya. Juga jangan menempatkan perempuan selalu pada pihak yang dipersalahkan atas pilihannya berpakaian.” (Kompas.com,16/9/2011)

Intrik Setan

Pandangan di atas sangat mungkar, beracun dan berbahaya,karena dikhawatirkan berdampak pada penolakan wahyu Alloh subhanahu wa ta’ala terhadap kebenaran dan kesempurnaan syari’at Islam. Dalam hal ini, busana muslimah termasuk yang sudah diatur dalam ketentuan syar’i, sebagaimana firman Alloh,

 وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ 

Katakanlah kepada wanita yang beriman : Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang (biasa) nampak dari mereka. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Alloh, hai orang-orang yang beriman supaya kalian beruntung.” (QS. An-Nur[24]: 31)

Alloh ta’ala juga berfirman :

 يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا 

“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Alloh adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.”(QS. Al-Ahzab[33]: 59)

Masih banyak intrik setan dalam hal busana yang tidak disadari oleh sebagian muslimah. Setan sering memanfaatkan hawa nafsu agar muslimah melepaskan hijab (jilbab) seperti memunculkan  kebanggaan ketika memperlihatkan keindahan tubuh di hadapan laki-laki yang bukan mahrom. Inilah yang dibisikkan oleh setan dan turut diusung oleh para emansipator. Sebagaimana argumen mereka bahwa pakaian apapun termasuk hijab (jilbab) itu tidak ada kaitannya dengan agama, ia hanya sekedar pakaian atau mode hiasan bagi para wanita. Jadi tidak ada pakaian syar’i. Pakaian ya pakaian, apa pun bentuk dan namanya. Sehingga akibatnya, ketika zaman telah berubah, atau kebudayaan manusia telah berganti, maka menurut mereka tidak ada masalah jika mode pakaian ikut ganti juga. Demikian pula ketika seseorang berpindah dari suatu negeri ke negeri yang lain, maka harus menyesuaikan diri dengan pakaian penduduknya, apapun yang mereka pakai.

Lain halnya dengan seorang muslimah yang berkeyakinan bahwa jilbab adalah pakaian syar’i (identitas keislaman), dan memakainya adalah ibadah bukan sekedar mode. Mereka tetap mempertahankan hijab syar’i (jilbab) di mana pun dan kapan pun.

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ ۖ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي ۖ فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ ۖ مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ ۖ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِنْ قَبْلُ ۗ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ 

“Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: Sesungguhnya Alloh telah menjanjikan kepada kalian janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepada kalian tetapi aku menyalahinya.  Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadap kalian, melainkan (sekedar) aku menyeru kalian lalu kalian mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kalian mencerca aku, akan tetapi cercalah diri kalian sendiri.  Aku sekali-kali tidak dapat menolongm kailan dan kalisn pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatan kalian mempersekutukan aku (dengan Alloh ) sejak dahulu. Sesungguhnya orang-orang yangzholim itu mendapat siksaan yang pedih.” (QS. Ibrohim [14]: 22)

Semoga kita dapat senantiasa menjaga adab dalam berpakaian sesuai perintah Alloh dan Rosul-Nya di kehidupan sehari-hari kita demi menggapai ridho-Nya. Wallohu a’lam.

 

Artikel: Hasmi.org


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05