Dari Hamdan di Cipanas, Puncak.

Pak ustad ana punya istri sedang mengandung usia kandungan insya Alloh sudah tujuh bulan. Yang ana tanyakan, apa hukumnya mengadakan acara tujuh bulanan dan aqiqah, beserta dalilnya?

[divide style=”2″]

Jawaban:

Tradisi selametan kandungan atau tujuh bulanan dan semisalnya ketika seorang istri sedang hamil yang biasa dilakukan oleh sebagian kaum muslimin di Indonesia adalah bukan termasuk ajaran Islam. Maka kita wajib meninggalkannya karena Rosululloh sholallohu alaihi wasallam sebagai imam dan panutan kita yg terbaik dan paling sempurna tidak pernah melakukan tradisi seperti itu ketika istri beliau Khodijah rodhiallohu anhu hamil empat bulan atau tujuh bulan sebanyak enam kali kehamilan.

Demikian pula Fatimah rodhiallohu anhu putri Rosululloh sholallohu alaihi wasallam, ketika ia hamil beberapa kali kehamilan, tidak pernah sekali pun melakukan ritual atau tradisi empat bulan atau tujuh bulan ketika masa kehamilannya. Kemudian para wanita sahabat Nabi sholallohu alaihi wasallam juga demikian, tidak ada seorang pun dari mereka yg melakukan tradisi empat bulan atau tujuh bulan ketika mereka hamil.  Rosululloh sholallohu alaihi wasallam bersabda:

“Jauhilah semua perkara baru (dalam agama), karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah merupakan kesesatan.” (HR Abu Dawud, no. 4607; Tirmidzi, 2676; Ad Darimi; Ahmad; dan lainnya dari Al ‘Irbadh bin Sariyah)

Kemudian, jika selamatan kehamilan tersebut disertai dengan keyakinan akan membawa keselamatan dan kebaikan, dan sebaliknya jika tidak dilakukan akan menyebabkan bencana atau keburukan, maka keyakinan seperti itu merupakan kemusyrikan. Karena sesungguhnya keselamatan dan bencana itu hanya di tangan Alloh Subhanahu wa Ta’ala semata. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

قُلْ أَتَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللهِ مَا لاَ يَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلاَ نَفْعًا واللهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَليِمُ

“Katakanlah: “Mengapa kalian menyembah selain daripada Alloh, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat kepada kalian dan tidak (pula) memberi manfa’at?” Dan Alloh-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. Al Maidah: 76)

Adapun amalan-amalan yg semestinya dikerjakan oleh wanita yang sedang hamil adalah sebagaimana amalan para wanita muslimah pada umumnya, baik ketika hamil ataupun tidak hamil, misalnya seperti mengerjakan ibadah-ibadah wajib seperti sholat lima waktu, memakai hijab syar’i ketika berada di luar rumah dan di hadapan selain mahromnya, Mentaati suami dalam kebaikan dan melayaninya dengan baik, memperbanyak dzikirulloh dan amalan-amalan sunnah seperti baca Al-Qur’an, tasbih, tahmid, takbir, istighfar, sholat sunnah, dan yang lainnya, memperbanyak doa kepada Alloh agar diberi kesehatan, kekuatan, kemudahan dan keselamatan selama hamil hingga proses melahirkan kandungannya.

Dengan demikian, tidak ada amalan khusus yang disyari’atkan dalam agama islam ketika seorang wanita muslimah hamil.

Kemudian berbeda dengan hukum tujuh bulanan, yang tidak dicontohkan Nabi sholallohu alaihi wasallam dan para sahabatnya, hukum aqiqah yakni menyembelih kambing karena kelahiran anak hukumnya adalah sunnah muakkadah dan tidak wajib menurut pendapat yang kuat, dan hendaknya orang yang memiliki kemampuan melaksanakan sunnah ini.

Dalilnya sangat banyak sekali, diantaranya adalah al-Hasan dari Samurah meriwayatkan dari Rosululloh sholallohu alaihi wasallam, beliau bersabda:

Semua anak (yang lahir) tergadaikan dengan ‘aqiqahnya, disembelihkan (kambing ‘aqiqah) untuknya pada hari ketujuh, dicukur rambutnya dan diberi nama.[Shahih: [Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 2563)], Sunan Ibni Majah (no. 3165), Sunan Abi Dawud (no. 2821), Sunan at-Tirmidzi (no. 1559), Sunan an-Nasa-i (VII/166).] 

Kemudian perlu diingat pula bahwa selain aqiqah, ada beberapa hal lagi yang disunnahkan untuk dilaksanakan yang merupakan hak anak yang dilahirkan

  • Mentahniknya

pengertian tahnik dijelaskan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah,

“Tahnik ialah mengunyah sesuatu kemudian meletakkan/memasukkannya ke mulut bayi, lalu menggosok-gosokkan ke langit-langit mulutnya. Dilakukan demikian kepada bayi agar supaya ia terlatih terhadap makanan dan untuk menguatkannya. Dan yang patut dilakukan ketika mentahnik hendaklah mulut bayi tersebut dibuka sehingga sesuatu yang telah dikunyah masuk ke dalam perutnya. Dan yang lebih utama ketika mentahnik ialah dengan kurma kering (tamr). Jika tidak mudah mendapatkan kurma kering (tamr), maka dengan kurma basah (ruthab). Dan kalau tidak ada kurma dengan sesuatu yang manis dan tentunya madu lebih utama dari yang lainnya (kecuali kurma).”(Fathul Bari, 9:558,  Darul Ma’rifah, Beirut, 1379 H, syamilah)

Himah tahnik adalah agar yang paling pertama masuk di perut bayi adalah sesuatu yang manis dan ketika itu berdoa mengharapkan keberkahan.

Dari Abu Musa rodhiallohu anhu, ia berkata, ‘Aku dianugerahi seorang anak, kemudian aku membawanya kepada Rosululloh sholallohu alaihi wasallam, maka beliau menamainya dengan Ibrohim, mentahniknya dengan kurma serta mendo’akannya agar ia diberkahi. Kemudian beliau menyerahkannya kembali kepadaku.’” Bayi itu adalah anak Abu Musa yang paling besar. [Muttafaq ‘alaih: Shahiih al-Bukhari (no. 5467) lafazh hadits di atas adalah milik beliau, Shahiih Muslim (no. 2145) tanpa perkataannya: “Serta mendo’akannya,” dan seterusnya.]

  • Mencukur rambutnya pada hari ketujuh dan bersedekah dengan perak seberat rambut yang dicukur

Dari al-Hasan dari Samurah dari Rosululloh sholallohu alaihi wasallam, beliau bersabda:

Semua anak (yang lahir) tergadaikan dengan ‘aqiqahnya, disembelihkan (kambing ‘aqiqah) untuknya pada hari ketujuh, dicukur rambutnya dan diberi nama.” [Shahih: [Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 2563)], Sunan Ibni Majah (II/1056, no. 3165), Sunan Abi Dawud (VIII/38, no. 2821), Sunan at-Tirmidzi (III/38, no. 1559), Sunan an-Nasa-i (VII/166).]

  • Dikhitan pada hari ketujuh

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam ath-Thabrani dalam kitab al-Mu’jamush Shaghiir. [Ath-Thabrani dalam ash-Shaghiir (II/122, no. 891), al-Baihaqi (VIII/328).] Dari Jabir rodhiallohu anhu:

Bahwasanya Rosululloh sholallohu alaihi wasallam mengadakan ‘aqiqah karena kelahiran al-Hasan dan al-Husain dan mengkhitan keduanya pada hari yang ketujuh.” Dan juga hadits yang beliau riwayatkan dalam al-Aushath. [Ath-Thabrani dalam al-Ausath (I/334, no. 562) dibawakan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam kitab Tamaamul Minnah (hal. 68)].

Walaupun kedua hadits ini dho’if namun masing-masing saling menguatkan yang lainnya, sebab jalan periwayatannya berbeda dan dalam sanadnya tidak ada perawi yang tertuduh (pendusta). Wallohu a’lam.


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05