Puluhan keluarga Muslim India telah meninggalkan rumah mereka di Agra setelah sebanyak 57 keluarga dilaporkan telah dipaksa dimurtadkan ke Hindu.

Organisasi Muslim telah menuduh kelompok nasionalis Hindu yang dekat dengan partai BJP yang berkuasa, atas kasus pemurtadan paksa tersebut. Kelompok-kelompok Hindu telah membantah tuduhan itu dan mengatakan bahwa mereka pindah agama atas dasar sukarela.

Sementara itu, anggota parlemen oposisi menuduh Hindu garis keras telah merusak persatuan di India.

Masalah ini hangat diperdebatkan di parlemen, partai-partai oposisi menuntut penjelasan dari Perdana Menteri Narendra Modi.

Kritik itu mengatakan bahwa kelompok garis keras Hindu bertindak keras di bawah pemerintahan baru partai Bharatiya Janata Party (BJP), yang dipimpin oleh Modi.

Baru-baru ini, berturut-turut terjadi saat menteri Niranjan Jyoti menggunakan istilah yang kasar untuk menyebut masyarakat non-Hindu.

Modi mengatakan bahwa dia tidak setuju dengan bahasa kasar yang digunakan oleh Jyoti, tapi ia menolak untuk memecatnya.

Pada Kamis (11/12), penduduk kumuh Vednagar di Agra mengatakan kepada wartawan BBC bahwa sekitar 250 orang telah menghadiri puacara havan atau upacara agama Hindu pada Senin (8/12) lalu.

Sebagian besar penduduk daerah kumuh dan miskin itu mengatakan bahwa mereka telah dijanjikan kartu jatah makanan dan fasilitas dasar lainnya oleh aktivis Hindu lokal jika mereka hadir dalam acara tersebut.

Seorang warga daerah kumuh, Salina, mengatakan bahwa dia tidak tahu bahwa itu adalah upacara pemurtadan. Selama upacara, tiba-tiba mereka disuruh untuk menirukan apa yang dilakukan oleh pimpinan agama Hindu. Setelah ritual selesai, aktivis Hindu setempat mengatakan kepadanya bahwa mereka telah menjadi Hindu. Mereka ingin protes, tapi mereka disarakan untuk tetap tenang karena dijanjikan akan mendapatkan kartu ransum dan fasilitas lainnya.

Setelah menerima keluhan dari ummat Islam, polisi telah melakukan penyelidikan terhadap seorang aktivis Hindu yang dituduh mencoba untuk memurtadkan Muslim ke Hindu dengan iming-iming kartu jatah makanan.

Polisi juga telah menanyai seorang Muslim di daerah kumuh itu dan pihak berwenang telah mengerahkan polisi bersenjata di daerah tersebut sebagai langkah pencegahan.