Oleh: Ust. Hawari, Lc., M.E.I.

Pada kesempatan yang berbahagia kali ini, kita akan membahas penyebab konflik dalam rumah tangga. Semoga dengan pembahasan penting ini, keluarga kita terhindar dari beragam konflik yang meretakkan bahkan menghancurkan keluarga kita. Sehingga keluarga kita menjadi keluarga sakinah, mawadah, wa rahmah.

Seringkali dalam membina rumah tangga seorang muslim mengahadapi banyak tantangan. Jika kita cermati, biasanya konflik rumah tangga yang banyak terjadi disebabkan oleh hal-hal berikut ini.

Pertama, Niat yang salah dalam membangun rumah tangga.

Niat yang baik adalah modal utama seseorang meraih kesuksesan dalam membina rumah tangga. Banyak orang yang tidak meniatkan ketika membina rumah tangga untuk beribadah dan menyempurnakan peribadahan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Kebanyakan mereka-kecuali yang dirahmati Allah -meniatkan pernikahan mereka sekedar memenuhi kebutuhan biologis saja. Ada juga yang menikah karena ingin mendapatkan kecantikan atau harta dari pasangannya. Maka tak jarang jika semua itu hilang dari mereka, biasanya hancur pula keharmonisan rumah tangga mereka.

Memang tak salah ketika seseorang hendak menikah mempertimbangkan pasangannya dari segi penampilan dan finansial. Namun, perlu diinggat bahwa semua itu bukan hal yang pokok. Di antara standar utama kebahagian berumah tangga adalah masalah kesholihan agama pada pasangan kita. Dalam hal ini nabi bersabda:

”Wanita itu dinikahi karena empat hal, karena hartanya,  karena nasabnya, karena kecantikannya, karena agamanya. Maka pilihlah karena agamanya niscaya engkau tidak akan rugi.” (HR. Bukhari & Muslim)

Salah satu pandangan yang keliru dalam masyarakat kita terutama kaum muda adalah bahwa pernikahan harus diawali dengan pacaran. Bahkan, mereka menganggap pacaran tersebut seolah sebagai syarat wajib sebelum pernikahan dengan dalih mengenal lebih dekat pasangan mereka. Pandangan ini jelas-jelas keliru dan salah kaprah. Karena pacaran menutup pintu obyektivitas. Para pelaku pacaran selalu tidak jujur disebabkan hanya ingin memperlihatkan hal-hal yang baik pada pacarnya. Inilah yang menjadikan mereka akhirnya kecewa saat berumah tangga.

Kedua, Tidak paham Hak dan kewajiban Suami-Istri.

Salah satu penyebab terjadinya konflik dalam rumah tangga adalah tidak pahamnya pasutri akan hak dan kewajiban dalam rumah tangga. Banyak sekali kewajiban berumah tangga yang harus dikerjakan oleh seorang istri seperti melayani suami, menyusui anak dan mendidiknya dan lain-lain. Begitu juga tak kalah banyaknya kewajiban seorang suami dalam rumah tangga seperti menafkahi, menjadi pemimpin dalam keluarga, mengajari agama pada keluarga dan sebagainya. Semua kewajiban tesebut jika terabaikan seringkali timbul konflik dalam rumah tangga.

Oleh karena itu, wajib bagi siapa saja yang hendak dan telah berumah tangga belajar tentang seluk-beluk pernikahan dan konsekuensinya. Sehingga, ketika terjadi konflik rumah tangga bisa meredamnya dengan mudah dan bijaksana.

Ketiga, Su’udzon (buruk sangka) terhadap pasangan.

Membangun rumah tangga harus didasari dengan berprasangka baik (husnudzon) kepada pasangan. Sikap buruk sangka kepada pasangan adalah sumber kehancuran berumah tangga. Pasutri seharusnya mengedepankan sikap berprasangka baik ketika didapati hal-hal yang kiranya janggal dalam rumah tangga. Artinya tidak langsung menuduh pasangan salah tanpa bukti yang valid dan benar. Sebaliknya tabayyun (meneliti) terlebih dahulu akan kebenarannya. Karena boleh jadi kabar yang menjadikan konflik rumah tangga hanyalah fitnah dari orang yang dengki atau hendak menghancurkan rumah tangga kita.

Keempat, Masalah finansial keluarga.

Salah satu titik panas yang seringkali menyebabkan konflik dalam rumah tangga adalah kondisi finansial keluarga. Bentuknya sangat beragam seperti gaji suami yang pas-pasan dan tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.  Bisa juga gaji istri yang lebih besar daripada gaji suami sehingga memicu istri berbuat nusyuz (merasa tinggi) pada suami. Atau bahkan terbelit hutang dan kepayahan dalam mengembalikannya sehingga keluarganya berantakan atau tuntutan-tuntutan ekonomi lainnya.

Pasutri yang tipis imannya pasti saling menyalahkan satu sama lain. Kedua belah pihak saling menuduh dan membuat alasan pembenaran setiap tindakan yang dilakukannya. Oleh karena itu, masing-masing pasutri harus bersikap dingin mencari solusi yang bijak sembari berdoa dan berusaha. Kedua belah pihak harus mau men-cancel kebutuhan-kebutuhan tambahan di luar kebutuhan yang telah disepakati keduanya.  Kemudian Mulai menata diri untuk tidak bergaya hidup sederhana jika memang masalah finansial menjadi pemicu konflik dalam rumah tangga.

Kelima, Masalah ranjang dan keturunan.

Masalah ini seringkali menjadi prahara besar dalam kehidupan rumah tangga. Konflik ini tidak hanya menyerang kalangan orang kaya saja. Bahkan, orang miskin pun seringkali cekcok masalah ranjang dan keturunan. Terlalu banyak konflik yang muncul akibat masalah ini. Seperti suami atau istri yang ditakdirkan bertahun-tahun belum punya anak atau bahkan impoten, hubungan ranjang yang selalu terjadi diskomunikasi, dan masih banyak masalah ranjang lainnya yang bisa menjadi penyebab konflik dalam rumah tangga.

Dampak dari problematika ini adalah seringkali terjadinya perselingkuhan. Oleh karena itu, berterus terang kepada pasangan dan mencoba memahami selera yang mungkin berbeda harus saling dimengerti. Jika problemnya masalah keturunan, perlu sekali mengkonsultasikan hal tersebut pada dokter yang berkompeten untuk mendapatkan solusi terbaik. Adapun bagi keluarga yang belum dikarunia Allah keturunan, semoga hal tersebut hanyalah masalah waktu saja. Karena tidak ada yang menjamin bahwa seseorang tidak bisa punya anak. Jika Allah menghendaki hal tersebut sangatlah mudah. Kisah Maryam dan nabi Zakariya dalam al Qur’an adalah bukti nyata akan kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala dalam hal itu.

Di samping lima hal tersebut, masih banyak sekali hal-hal yang menyebabkan konflik dalam rumah tangga. Terlebih masalah perbedaan agama dan keyakinan. Oleh karena itu di dalam Islam muslim dilarang menikahi wanita musyrik walaupun cantik menawan hati. Hikmah yang terkandung dari larangan tersebut di antaranya untuk menjaga keharmonisan dalam rumah tangga.

Semoga rumah tangga kita disinari dengan cahaya Islam dan dijadikan sebagai keluarga yang dipenuhi sakinah, mawadah wa rahmah. Wallahu a’lam.