Alhamdulillah, kembali berjumpa dengan saya melalui jalinan udara, untuk sama-sama kita menambah ilmu dan iman, sebagai bekal mengarungi kehidupan di masa yang akan datang, baik dunia maupun akhirat kelak.

Kali ini kita akan berbicara masalah masjid. Ada apa dengan masjid? Ya, tentunya kita semua sudah tidak asing lagi dengan yang namanya masjid, terlebih di negeri kita ini sudah sangat banyak sekali jumlahnya.

Tapi, jangan salah, masih banyak di antara kita, termasuk juga pemudanya, yang masih benar-benar asing dengan ruangan masjid. Ya, ruangannya, karena ia sama sekali belum pernah memasuki atau sangat jarang masuk masjid. Mudah-mudahan kita tidak termasuk orangnya.

Nah, tahukah Anda, bahwa ada keutamaan besar yang tersembunyi di balik sebuah masjid. Seseorang yang hatinya terpaut dengan masjid, maka kelak di akhirat ia akan mendapatkan perlindungan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Tentunya perlindungan di akhirat nanti, sangat sangat kita perlukan, karena di sana tidak akan ada satu pun pihak yang mampu melindungi, kecuali Allah.

Dalam hadits shohih dari Nabi shalallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan Imam Bukhori dan Imam Muslim, disebutkan bahwa ada 7 golongan manusia yang nantinya di hari akhir akan mendapatkan perlindungan Allah subhanahu wa ta’ala dan disebutkan bahwa salah satu dari 7 golongan itu ialah “orang yang hatinya terpaut pada masjid”.

Para ulama menjelaskan bahwa dalam hadits ini terdapat keutamaan bagi siapa saja yang sering mendatangi masjid untuk shalat berjamaah, karena masjid adalah rumah Allah, dan rumah bagi setiap orang yang bertaqwa, dan siapa saja yang bertamu maka berhak untuk mendapat kehormatan dan pemuliaan dari sang tuan rumah. Lalu bagaimana jika yang menjadi tuan rumah itu Allah yang maha mulia?

Layaknya rumah, masjid merupakan sarana pembinaan bagi siapa pun yang berada di dalamnya. Masjid pun merupakan salah satu sarana pembinaan umat yang mendapat perhatian begitu besar dari Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Bahkan, ketika Rasul sampai di Madinah, bangunan pertama yang didirikan adalah masjid yang kemudian dinamai masjid Nabawi.

Oleh karena itu, sebagai Muslim semestinya kita memiliki perhatian dan kecintaan yang besar terhadap Masjid. Kecintaan yang besar kepada masjid akan membuat kita memiliki rasa tanggung jawab yang besar terhadap pemakmurannya.

Dan penting untuk diingat, bukan hanya tugas sang marbot atau penjaga masjid saja untuk memakmurkannya… Kita pun wajib ambil bagian…

Miris ketika mengetahui masjid yang jumlahnya banyak, namun minim jamaahnya. Sedih ketika mengetahui masjid hanya penuh diisi oleh para orang tua, bapak-bapak yang lanjut usia… Ke mana para pemudanya? Di mana kita sebagai pemuda, ketika seruan untuk shalat berkumandang?

Ya, sedih memang, kita lihat pemuda sekarang lebih senang berada di kafe-kafe, bahkan rela menempuh jarak jauh untuk sekadar mencari hiburan… Namun berat melangkah sekian meter untuk penuhi seruan adzan…

Yang menjadi persoalan kita kemudian adalah, bagaimana kita menumbuhkan rasa cinta kepada masjid? Sebagai bahan renungan dan motivasi, ada beberapa tanda atau cara agar kita terpaut dengan masjid…

Pertama, Rindu pada Masjid.

Cinta kepada sesuatu biasanya membuat seseorang rindu pada sesuatu tersebut karena memang hatinya telah terikat dan terpaut kepadanya. Karena itu, kecintaan kita kepada masjid seharusnya membuat hati terpaut kepadanya sejak kita keluar dari masjid hingga kembali lagi ke masjid. Ketika kita telah memiliki ikatan hati yang kuat dengan masjid, maka kita, insya Allah akan menjadi salah satu kelompok orang yang kelak akan dinaungi oleh Allah pada hari akhirat.

Kedua, Berkorban Untuk Masjid.

Ketika masjid hendak kita makmurkan sebagaimana mestinya, diperlukan pengorbanan yang besar; baik harta, jiwa, tenaga, waktu, pikiran maupun ilmu, pengalaman dan keterampilan yang dimiliki.

Ketiga, Membersihkan Masjid.

Kecintaan kita pada suatu benda biasanya membuat kita harus selalu memperhatikan dan merawat benda tersebut. Rumah yang kita cintai membuat kita harus merawatnya setiap hari, begitu pula semestinya kecintaan kita kepada masjid dibuktikan dengan senantiasa menjaga kebersihannya.

Keempat, Rajin Mendatangi Masjid.

Kecintaan terhadap masjid membuat seorang muslim, lelaki khususnya rajin mendatangi masjid setiap harinya. Karena itu, shalat berjamaah yang lima waktu semestinya dilaksanakan secara berjamaah di masjid. Tak hanya shalat lima waktu saja, tetapi juga kita giat mencari ilmu di masjid dengan menghadiri majelis-majelis ilmu di dalamnya.

Kelima, Menghormati Masjid.

Bila kita cinta pada seseorang, biasanya kita menghormati orang itu dengan berbagai cara yang baik, pun dengan masjid. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menunjukkan penghormatan kita kepada masjid.

Sebagai contoh: melaksanakan shalat tahiyyatul masjid ketika memasuki masjid, berpakaian yang rapi serta sopan, serta tidak datang ke masjid dengan bau-bau yang tidak menyenangkan. Ini semua merupakan hal-hal yang dianjurkan oleh syariat Islam, dan sudah selayaknya bagi kita untuk melaksanakannya.

Sebagai tambahan motivasi untuk kita semua, ada satu kisah keteladanan dari seorang ulama tabiin yang ahli ibadah, bernama Amir bin Abdullah bin Zubair bin Awwam Al-Asadi. Ulama rabbani keturunan sahabat ini sangat tekun menjaga shalat berjamaah di masjid. Bahkan, pada saat ia sakit keras, ia masih sempat mendengar kumandang adzan Magrib dari masjid Nabawi dan langsung memerintahkan keluarganya untuk memapahnya ke masjid.

Setelah memaksa sekian kali kepada keluarganya, akhirnya dengan terpaksa Amir dibawa ke masjid. Ia memaksakan berdiri di tengah shaf bersama jama’ah lainnya. Ia masih mampu mengikuti bacaan dan gerakan imam sampai rakaat pertama. Namun, ketika imam dan seluruh ma’mum lainnya bangkit untuk rakaat kedua, Amir bin Abdullah tidak mampu bangkit lagi. Allah telah memanggil ruhnya untuk selamanya. Ia meninggal dalam keadaan sujud kepada Allah di tengah shaf, di masjid nabawi yang diberkahi. Subhanallah!

Demikianlah, orang-orang sholeh terdahulu telah memberikan keteladanan yang nyata kepada kita semua, bagaimana mengamalkan firman Allah ta’ala,

إِنَّمَا يَعۡمُرُ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَلَمۡ يَخۡشَ إِلَّا ٱللَّهَۖ فَعَسَىٰٓ أُوْلَٰٓئِكَ أَن يَكُونُواْ مِنَ ٱلۡمُهۡتَدِينَ ١٨

“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut kepada siapapun selain kepada Allah, maka mereka itulah orang-orang yang termasuk golongan yang mendapat petunjuk.” (QS. at-Taubah: 18)

Mereka juga telah memberikan keteladanan yang nyata kepada kita bagaimana menjadi orang-orang yang hatinya selalu bergantung dengan masjid, merindukan masjid dan shalat jamaah serta amal-amal kebaikan yang memakmurkan masjid.

Nah, pertanyaannya, bagaimana dengan kita saat ini? Jangan ragu lagi, kita harus bertekad untuk mencintai dan memakmurkan masjid dengan beragam amal sholeh di dalamnya. Semoga dengan itu, kita mendapatkan perlindungan Allah subhanahu wa ta’ala di akhirat kelak. Amin. Wallahu a’lam.