Oleh: Ust. Solahudin, Lc., M.A.

Alhamdulillah kami bisa menyapa kembali melalui artikel ini, mudah-mudahan melalui artikel ini bisa menambah keilmuan serta meningkatkan keimanan kita… amin…

Mungkin kamu bertanya-tanya ya, kenapa harus selalu meningkatkan keilmuan dan keimanan? Apa tidak ada waktu jeda untuk libur dulu dari hal seperti itu, walau Cuma sehari saja?

Nah, mungkin untuk orang-orang yang belum menyadari pentingnya ilmu dan senantiasa memelihara keimanan, bisa setuju dengan pernyataan tadi. Tapi bagi yang menyadari betapa pentingnya ilmu dan menjaga keimanan, maka dia akan memanfaatkan setiap kesempatan yang ada untuk meraihnya. Dan, kami berharap, Anda adalah tipe orang yang terakhir disebutkan.

Di antara contoh kasus yang terjadi dikarenakan kurangnya ilmu dan lemahnya iman adalah terjadinya berbagai pelanggaran dalam hal interaksi dengan lawan jenis, seperti adanya campur baur antara laki-laki dan perempuan, pergaulan bebas, pacaran bahkan sampai perzinaan, na’udzubillah.

Tentunya, kesempatan waktu yang singkat ini tidak akan cukup untuk membicarakan semua pelanggaran-pelanggaran tersebut. Jadi, di kesempatan kali ini kita akan fokus bicara tentang campur baurnya antara laki-laki dan perempuan pada suatu tempat. Dalam istilah Islam perbuatan ini dinamakan dengan ikhtilath.

Ada beberapa kondisi ikhtilath antara laki-laki dan perempuan yang harus kita ketahui,

Pertama: Ikhtilathnya para wanita dengan laki-laki mahrom mereka, ikhtilath yang seperti ini dibolehkan. Dan yang dimaksud dengan mahrom adalah setiap laki-laki yang haram untuk menikah dengan wanita karena adanya hubungan darah atau pernikahan.
Kedua: campur baurnya wanita dengan laki-laki yang non-mahrom untuk tujuan yang rusak, maka hal ini jelas keharamannya.
Ketiga: Ikhtilath para wanita dengan laki-laki non-mahrom di tempat umum seperti, sekolah, toko, kantor, rumah sakit dan semisalnya. Nah, untuk ikhtilath yang seperti ini banyak yang menganggap tidak akan mengantarkan kepada fitnah di antara lawan jenis. Namun, pada faktanya ikhtilath yang ketiga ini pun sama berbahayanya dengan ikhtilath yang kedua.

Nah, mungkin kita bertanya-tanya, kenapa sih ikhtilath itu dilarang dan dianggap berbahaya? Apa mungkin gara-gara campur baur seperti itu bisa langsung mengantarkan pada perzinaan dan kerusakan lainnya?

Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan laki-laki dalam keadaan memiliki kecenderungan yang kuat terhadap wanita. Demikian pula sebaliknya, wanita pun memiliki kecenderungan kepada lelaki. Ketika terjadi ikhtilath, maka akan menimbulkan dampak yang negatif dan mengantarkan kepada kejelekan. Kenapa? Karena, jiwa manusia itu, apalagi jiwa pemuda seperti kita, cenderung mengajak kepada kejelekan. Sementara setan mengajak kepada perbuatan keji dan mungkar.

Jadi, faktor-faktor terjadinya keburukan semakin banyak. Pertama, adanya ikhtilath, kedua, jiwa kita menyuruh kepada perbuatan yang keji, dan ditambah lagi adanya setan yang selalu menggoda manusia untuk melakukan perbuatan keji.
Untuk lebih jelasnya, tentang ikhtilath ini, Allah subhanahu wa ta’ala telah memberikan pelajaran kepada kita dari kisah Nabi Yusuf alaihissalaam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

Kemudian istri orang mesir itu jatuh cinta pada Yusuf dan merayunya, kemudian perempuan itu menutup pintu-pintu rumahnya, dan ia berkata kepada Yusuf: marilah dekat kepadaku, Yusuf berkata: Aku berlindung kepada Allah. sungguh tuhanku telah memperlakukan aku dengan baik. Sungguh tidaklah berbahagia orang-orang yang berbuat zalim.” (QS. Yusuf: 23)

Ketika terjadi ikhtilath antara Nabi Yusuf ‘alaihissalam dengan istri Al-Aziz, pembesar Mesir di kala itu, maka sang wanita pun menunjukkan apa yang diinginkannya. Ia meminta Yusuf untuk berzina dengannya. Akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala melindungi Yusuf dengan rahmat-Nya sehingga dia terjaga dari perbuatan keji.

Selain dari ayat-ayat al-Qur’an, banyak pula hadits shahih yang menyatakan terlarangnya ikhtilath. Di antaranya, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian masuk ke tempat para wanita!”

Seorang pria dari kaum Anshar berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana hukumnya kalau dia adalah saudara ipar?” Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Saudara ipar sama dengan kematian” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits ini, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam memperingatkan dengan keras kepada umatnya dari ikhtilath, atau bercampur baur dengan lawan jenis. Bahkan saudara ipar yang mungkin dianggap aman dari fitnah, pun ternyata sama bahayanya dengan yang lain ketika terjadi ikhtilath dengan mereka.

Lalu, bagaimana jika pada kondisi-kondisi tertentu, kita terjatuh dalam ikhtilath yang memang tidak bisa dihindarkan? Seperti ketika kita masuk ke pasar, mall atau tempat-tempat umum lainnya yang pasti terjadi campur baur antara laki-laki dan perempuan.

Dalam kondisi tersebut, maka kita harus ingat bahwa Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan lelaki yang beriman untuk menundukkan pandangan dari melihat wanita yang bukan mahramnya, demikian pula sebaliknya. Hal ini sebagaimana difirmankan oleh Allah dalam surat,

“Katakanlah wahai Muhammad kepada laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka, yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’ Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka”. (QS. an-Nur: 30-31)

Kemudian, selain menjaga pandangan, para muslimah harus menjaga adab-adab dalam berpakaian yang sesuai syari’ah serta menjaga malu. Mereka juga harus menghindari segala sesuatu yang dapat menggoda atau merangsang kaum laki-laki seperti memakai minyak wangi, atau menunjukkan perhiasan.

Nah inilah beberapa hal yang harus kita ketahui tentang bahaya ikhtilath, khususnya bagi pemuda dan pemudi. Juga bagaimana sikap kita jika dalam suatu waktu terjebak dalam kondisi ikhtilath. Mudahan-mudahan dengan mengetahui hal ini, kita terhindar dari bahaya ikhtilath dan dapat menjaga diri dari perbuatan keji dan mungkar. Amin. Wallahu a’lam.