Oleh: Ibrahim Bafadhol, S.H.I.

Hanya Alloh-lah Pemilik ‘izzah yang tak pernah pudar. Dia takkan bisa dikalahkan, bahkan Dia-lah yang menentukan semuanya. Al-‘Aziiz diartikan oleh para ulama dengan: “Dzat Yang tak dapat dikalahkan dan dihalangi (kehendak-Nya), bahkan Dia-lah Yang menundukan segala sesuatu, semuanya tunduk dan merendah kepada-Nya”

Maha suci Alloh yang semua ubun-ubun hambanya-hamba-Nya ada dalam genggaman-Nya. Maha suci Alloh Yang Maha perkasa lagi maha wibawa. Hanya kepada-Mu-lah kami ruku`dan sujud hanya kepada-Mu-lah kami merendah dan menghinakan diri. Kami semua adalah hamba-Mu.

Al-‘Aziiz adalah satu dari sekian asma Alloh yang menunjukkan kepada pengertian Maha kuat, dan Maha mengendalikan. Perhatikan bait syair berikut:

“Engkau-lah Yang Maha Perkasa tak ada yang lain. Semua mahluk meminta ridho-Mu”.

Ibnul Qoyyim rohimahulloh juga berkata dalam Nuuniyyah-nya:

“Dia Yang Maha Perkasa, tidak akan menggalami kemusnahan. Bagaimana akan musnah Dzat Yang Mempunyai kerajaan. Dia Yang Maha Perkasa, Maha berkuasa, dan Yang maha kuat pengaruhnya, tak ada yang dapat mempengaruhi-Nya. Ya, dua sifat ini. Dia Maha Perkasa dengan kekuatan-Nya, itulah penjelasan tentang-Nya Keperkasaan yang terhimpun pada tiga makna yang saling melengkapi, tanpa ada kekurangan.”

Al-‘Aziiz juga bermakna Yang Maha Perkasa, artinya tidak pernah menemui kesulitan dalam mewujudkan semua kehendak-Nya. Oleh kerena itu, ketika Nabi Ibrahim memohon kepada Alloh agar menunjukkan kepadanya bukti kekuasaan-Nya dalam menghidupkan orang-orang yang telah mati, maka Alloh berfirman kepadanya agar mengambil empat ekor burung lalu di sembelih dan dicincang, kemudian diletakkan setiap bagian dari burung-burung yang telah dicincang tersebut di atas bukit-bukit

Sebagaimana firman Alloh subhanahu wa ta’ala:

 وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَىٰ ۖ قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي ۖ قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلَىٰ كُلِّ جَبَلٍ مِنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا 

“Dan (ingatlah) ketika Ibrohim berkata,`Ya Robbku, perlihatkanalah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang yang telah mati,” Alloh berfirman: ”Apakah engkau belum yakin (wahai Ibrohim)?.” Ibrohim menjawab: “Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku bertambah tenang”. Alloh berfirman “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semua olehmu, lalu letakan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggilah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera” (QS. al-Baqarah [2]: 260).

Kemudian Alloh ta’ala menutup firman-Nya tersebut dengan kata-kata-Nya:

 وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan ketahuilah sesungguhnya Alloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. al-Baqoroh [2]: 260).

Demikian pula halnya dalam masalah persatuan hati (ta’liiful qulub). Ini adalah suatu perkara yang sangat sulit, bahkan mustahil dilakukan oleh manusia. Akan tetapi bagi Alloh, itu bukan perkara yang sulit. Alloh ta’ala berfirman :

 وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ ۚ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ 

“Dan Dia-lah Yang mempersatukan hati-hati mereka (orang-orang yang beriman) Walapun kamu membelanjakan semua kekayaan yang ada di atas bumi, niscaya kamu tidak akan dapat mempersatukan hati-hati mereka, akan tetapi Alloh-lah yang mempersatukan hati-hati mereka, Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfaal [8]:63).

Begitu pula dalam soal peperangan, tidak sulit bagi Alloh untuk memenangkan pasukan yang kecil dalam menghadapi pasukan yang besar dan kuat sebagai mana hal itu pernah terjadi pada perang Badar. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

 إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ (9)  وَمَا جَعَلَهُ اللَّهُ إِلَّا بُشْرَىٰ وَلِتَطْمَئِنَّ بِهِ قُلُوبُكُمْ ۚ وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (10)

“(Ingatlah), ketika kalian memohon pertolongan kepada Rabb kalian, lalu diperkenankan-nya bagi kalian, “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kalian dengan seribu malaikat yang datang beturut- turut. Dan Alloh tidak menjadikan hal itu (mengirim bala bantuan), melainkan sebagai kabar gembira agar hati kalian menjadi tentram kerenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha Pengasih lagi Maha Bijaksana.” (QS. al-Anfaal [8]: 9-10).

Termasuk dalam kandungan makna Al-‘Aziiz ialah Dia Maha berkuasa untuk menjatuhkan hukuman kepada siapa yang berhak menerimanya, oleh kerena itu Alloh berfirman:

 فَإِنْ زَلَلْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْكُمُ الْبَيِّنَاتُ فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ 

“Tetapi jika kalian menyimpang (dari jalan Alloh) sesudah datang kepada kalian bukti-bukti kebenaran maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya Alloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. al-Baqoroh [2]: 209),

Alloh mampu menghukum dan Maha bijaksana. Di antara kebijaksanaan-Nya ialah menghukum siapa yang berhak menerima hukuman. Oleh karennya, Alloh mengiringkan nama al-‘Aziiz  dengan al-Hakim.

Dalam al-Qur’an, penyebutan nama al-‘Aziiz sering kali disertai dengan nama al-Hakiim (Yang Maha bijaksana). Pada sebagian ayat-ayat yang telah kita kutipkan di atas, hal itu kita dapati. Alloh juga berfirman kepada Nabi Musa alaihisallam:

 ا مُوسَىٰ إِنَّهُ أَنَا اللَّهُ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ 

“Hai Musa, sesungguhnya, Aku-lah Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS.An-Naml [27]:9).

Nash-nash lain yang menjelaskan hal ini sangat banyak sekali. Penyertaan kedua nama ini hikmahnya ialah untuk menunjukan bahwa keperkasaan, kekuatan dan kemuliaan Alloh itu diimbangi dengan kebijaksanaan-Nya. Yakni, Alloh Maha Perkasa lagi Maha Kuat, akan tetapi Dia tidak pernah berbuat semena-mena.

Hal ini jauh berbeda dengan sifat makhluk atau kaum yang selalu terjadi ialah, jika suatu kaum itu kuat dan perkasa, pasti ia akan berbuat zholim dan sewenang-wenang. Sikap seperti itu sangat jauh dari Alloh. Di beberapa tempat dalam al-Qur’an, Alloh subhanahu wa ta’ala mengiringkan sifat keperkasaan-Nya itu dengan sifat rahmat (kasih sayang)-Nya, seperti dalam firman-Nya:

 وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ

“Dan sesungguhnya Robbmu benar-benar Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (QS. Asy-Syu’aro [26]`:9).

Dalam surat asy-Syu’aro, ayat tersebut diulang tujuh kali dalam beberapa tempat.

Demikian juga firman-Nya :

 ذَٰلِكَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ 

“Yang demikian itulah Robb yang mengetahui perkara ghaib dan nyata,Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (QS. as-Sajdah [32]:6).

Pengaitan ini bertujuan untuk menunjukan bahwa Alloh Maha Pengasih di samping Maha Perkasa. Jika tidak demikian, yakni jika keperkasaan-Nya itu tidak dibarengi dengan kasih sayang niscaya hal itu akan menjadi kekurangan bagi Alloh. Maha suci Alloh dari semua sifat kekurangan.

Demikianlah sebagian dari buah-buah manis yang akan diperoleh oleh seorang hamba yang telah mengenal nama Alloh, al-‘Aziiz.


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05