Gencatan senjata sebulan yang ditawarkan pejuang bersenjata Rohingya, Arakan Rohingya Salvation Army atau ARSA nampaknya ditolak oleh pemerintah Myanmar. Hal itu terlihat melalui pernyataan juru bicara pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi, Zaw Htay, Ahad (10/09/2017) kemarin.

ARSA mengumumkan opsi gencatan senjata unilateral selama sebulan di Arakan. Gencatan bertujuan untuk memberi ruang kepada lembaga kemanusiaan menyalurkan bantuan kepada warga Rohingya di kamp-kamp pengungsian.

Palang Merah Internasional di Myanmar mendukung gencatan senjata ini. Pejabat ICRC Joh Singhal menyebutkan bahwa ini merupakan perkembangan positif. Akan tetapi, sampai saat ini, pemerintah Myanmar tidak memberi akses lembaga kemanusiaan memasuki Arakan untuk membantu minoritas Muslim Rohingya.

Hal itu sebagaimana diungkapkan Manager Aksi Cepat Tanggap atau ACT, Lukman Aziz Kurniawan, yang beberapa hari terakhir relawannya berhasil mencapai kamp pengungsi Rohingya di Bangladesh.

Kurniawan menunjukkan, lembaga kemanusian bukan dipersulit oleh pemerintah Myanmar. Namun yang terjadi adalah blokade. Sehingga tidak ada satupun lembaga yang bisa masuk.

(kiblat.net)