Amsterdam, Belanda – Larangan pada penutup wajah penuh, termasuk cadar bagi Muslimah, yang diberlakukan oleh Belanda mendapat kecaman dari banyak pihak. Rabi Lody Van de Kamp mengatakan bahwa larangan itu akan membuat umat Muslim Belanda, yang sudah terpolarisasi, semakin terpinggirkan di masyarakat.

Menurut Rabi Lody, larangan pemakaian cadar dapat menyebabkan tindakan ekstrimisme dan rasisme yang lebih tinggi. Dia juga mengatakan bahwa larangan itu mengingatkannya pada serangan terhadap kebebasan berekspresi dan praktik keagamaan dalam Perang Dunia II.

Tidak jauh berbeda dengan Van de Kamp, Erwin Sengers, seorang akademisi yang mengajar di beberapa universitas Belanda, mengatakan ia malu dengan orang-orang Belanda yang ingin menerapkan pelarangan cadar.

Sengers mengatakan orang-orang di Belanda menuntut toleransi untuk segala jenis keanekaragaman, tetapi tidak menunjukkan toleransi kepada beberapa wanita yang memilih untuk mengenakan cadar.

Dia mengatakan sampai hari ini tidak ada seorang pun wanita yang mengenakan cadar terlibat dalam suatu tindakan yang menyebabkan masalah di Belanda.

Amnesti International dan Dewan Negara Belanda menentang larangan itu, dengan mengatakan bahwa hal itu membatasi kebebasan beragama. Diperkirakan ada sekitar 150 wanita di Belanda yang saat ini mengenakan cadar. (arr/admin)

%d bloggers like this: