Libya – Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan pertempuran antara milisi dari Tentara Nasional yang dipimpin Khalifa Haftar atau LNA dan pasukan pemerintah yang berlangsung sejak awal April lalu untuk memperebutkan Ibu Kota Tripoli, Libya telah menewaskan setidaknya seribu orang. Eskalasi pertempuran yang terus memburuk dikhawatirkan dapat menimbulkan lebih banyak korban berjatuhan, khususnya warga sipil.

Sebelumnya, Dewan Keamanan PBB telah mendesak semua pihak yang terlibat dalam konflik di Libya menghindari aksi militer dan menghentikannya segera.

Tindakan Haftar yang mengerahkan pasukan ke Tripoli dinilai dapat semakin menghambat proses politik yang diperlukan dan terus membuat warga sipil dalam bahaya, serta memperburuk penderitaan mereka.

Namun, seruan itu masih diabaikan. Bahkan, pada awal bulan ini, LNA mengatakan bersiap memulai pengeboman besar-besaran yang menargetkan Tripoli dengan alasan ‘cara tradisional’ perang telah usai.

Sejak presiden Muammar Gaddafi digulingkan pada 2011, Libya dilanda kekacauan dengan faksi-faksi bersenjata yang ingin menguasai pemerintahan secara penuh. Pemerintahan negara itu terbagi atas dua, di mana di Ibu Kota Tripoli, didukung oleh internasional, sementara LNA menguasai wilayah timur dan membentuk pemerintahan. (admin/republika)

%d bloggers like this: