Oleh: Ust. Solahudin, Lc., M.A.

Di kesempatan kali ini kita akan membicarakan masalah yang sangat kental dengan pemuda. Kamu yang masih muda, sudah bisa tebak kan, apa itu? Ya, masalahnya adalah tentang PACARAN.

Kalau kita lihat saat ini, banyak sekali muda mudi yang terlenakan dengan yang namanya pacaran. Padahal dalam agama Islam, pacaran jelas-jelas dilarang dan merupakan pintu masuk perzinaan yang paling lebar. Memang, di antara mereka juga ada yang paham, tapi sayangnya mungkin karena godaan fitnah lawan jenis, mereka jadi pura-pura tidak tahu dengan keharaman pacaran. Atau ada juga yang mencari-cari alasan, untuk melegalkan aksi pacaran mereka. Na’udzubillah.

Sudah terlalu banyak bukti maraknya pacaran di kalangan pemuda Islam zaman ini. Pada saat ini kebanyakan pemuda bercampur baur dalam melaksanakan aktivitas mereka. Bahkan mereka dengan bangga duduk-duduk berduaan di tempat-tempat yang sunyi alias berpacaran. Dan hasilnya, sudah bisa ditebak, banyak sekali kasus zina yang berawal dari pacaran ini. Astaghfirullah

Sekali lagi ditegaskan bahwa pacaran itu pintu yang paling lebar menuju perzinaan. Awalnya mungkin hanya kenalan, ngobrol-ngobrol, berdua-duaan, hingga mereka berani berpegangan dan pada akhirnya berzina. Setelah terjadina perzinaan, yang ada tinggal penyesalan. Sang perempuan tidak menyangka bahwa akan terjadi perbuatan keji tersebut karena tertipu dengan kata-kata cinta. Padahal, semua itu sebenarnya merupakan tipuan dari setan durjana yang selalu menghiasi kemaksiatan dengan kata-kata indah. Namun apa daya, penyesalan semata tidak akan mampu mengembalikan waktu yang telah berlalu.

Oleh karena itu, sejak awal Allah ta’ala telah mewanti-wanti hamba-Nya dari perzinaan dengan berfirman:

“Janganlah kalian mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan sangat buruk.” (QS. al-Isra: 32)

Di ayat ini Allah ta’ala telah mengantisipasi kita, khususnya para pemuda, untuk sekadar mendekati zina saja, tidak boleh, apalagi melakukannya. Dan seperti tadi yang disebutkan, pada faktanya pacaran itu merupakan faktor terbesar terjadinya perzinaan.

Jadi, untuk kita yang mengaku pemuda muslim, baik laki-laki maupun perempuan, sudahlah… tidak usah mencari-cari alasan lagi untuk melegalkan pacaran. Mau bagaimanapun alasannya, bentuknya dan caranya, tetap saja HARAM.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, sebagai nabi dan panutan kita, juga sudah memperingatkan, untuk tidak berdua-duaan dengan lawan jenis yang bukan mahrom. Dalam sebuah hadits Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya,

“Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahromnya” (HR. Ahmad)

Di hadits yang lain, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menjelaskan tentang keterikatan setiap manusia dengan yang namanya potensi zina. Beliau bersabda:

“Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina, dan ini suatu yang pasti terjadi. Zina kedua mata adalah dengan melihat, Zina kedua telinga adalah dengan mendengar, Zina lisan adalah dengan berbicara, Zina tangan adalah dengan menyentuh, Zina kaki adalah dengan melangkah, Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan, lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.”

Masya Allah, ternyata mengerikan juga ya. Setiap kita punya potensi untuk berzina, dengan berbagai bentuk yang tadi disebutkan. Dan kita yakin, kita sepakat, bahwa dalam pacaran, semua potensi itu benar-benar terbuka lebar. Sampai akhirnya terjadilah zina kemaluan. Na’udzubillah.

Tapi, sayang seribu sayang. Meski sudah jelas dan gamblang haramnya pacaran, masih terlalu banyak muda-mudi Islam yang terjebak di dunia pacaran ini.

Banyak dari mereka yang begitu mudahnya membuktikan cinta namun dengan jalan yang keliru yaitu dengan zina atau istilah kerennya making love alias berhubungan intim. Sekeren apapun namanya namun hakekatnya tetap saja sama yaitu menerjang larangan Allah subhanahu wa ta’ala. Padahal, bagaimana mungkin zina dinamakan cinta sejati sedangkan terdapat pelanggaran terhadap larangan Allah yang termasuk dosa besar?

Namun, lagi-lagi, kita harus mengelus dada dengan fakta yang ada di negeri kita. Survey data yang diperoleh dan dipublikasikan oleh banyak kalangan, semakin membuat hati kita miris, dan menunjukkan betapa akhlak serta kepribadian para pemuda sudah rusak. Terlalu banyak datanya jika harus disebutkan di kesempatan ini. yang jelas, faktanya memang sudah benar-benar parah, bahkan kampung-kampung yang tidak terjamah dengan gemerlapnya kota pun, kini tak ada bedanya.

Lalu, bagaimana seharusnya? Apa tidak ada solusi dalam masalah ini?

Nah, Islam sebagai agama yang sempurna, tentu tidak hanya menuntut tapi tidak memberikan solusi.

Seorang pemuda atau pemudi yang memang sudah berhasrat memiliki pasangan hidup, maka sebaiknya dia segera menikahi pasangan pilihannya. Tentunya, proses ini juga harus tetap memperhatikan aturan-aturan agama Islam. Dengan demikian diapun akan memperoleh pertolongan dari Allah. Mengenai hal ini, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

“Ada tiga kondisi orang yang berhak mendapatkan pertolongan Allah, yaitu orang yang berjihad di jalan Allah, seorang budak yang ingin membebaskan dirinya dan orang yang ingin menjaga kehormatan dirinya dengan segera menikah.” (HR. at-Tirmidzi)

Jadi, di antaranya solusinya adalah dengan menikah. Tapi, kalau ternyata masih terlalu muda untuk menikah, atau masih terikat dengan pendidikan sekolah, harus bagaimana? Nah, untuk kondisi yang kedua ini, maka ada solusi lain. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,

“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan.

Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; karena puasa dapat menekan syahwatnya.”

Nah, inilah solusi yang diberikan oleh Islam kepada para pemuda untuk menahan gejolak syahwat mereka. Dengan menikah, atau dengan berpuasa. Jadi, sekarang telah jelas buat kita semua, tentang haramnya pacaran, efek negatif dari pacaran, juga solusi untuk berhenti dari pacaran. Semoga apa yang disampaikan kali ini, membuka hati para pemuda, untuk segera berhenti dan bertaubat dari pacaran. Amin. Wallahu a’lam.