Oleh: Ust. Umar Muhsin, Lc,. M.Pd.I.

Banyak orang yang tidak bisa memanfaatkan kesempatan untuk berdoa, padahal boleh jadi seseorang itu tergolong yang mustajab doanya. Akan tetapi, kesempatan baik itu banyak disia-siakan. Maka sudah seharusnya bagi setiap muslim, untuk memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berdoa sebanyak mungkin baik memohon sesuatu yang berhubungan dengan dunia ataupun akhirat.

Di antara orang-orang yang doanya sangat berpeluang besar untuk segera dikabulkan adalah sebagai berikut:

Pertama adalah doa seorang muslim terhadap saudaranya dari tempat yang jauh.

Hal ini berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari jalur Abu Darda’ bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda.

“Tidaklah seorang muslim berdoa untuk saudaranya yang tidak ada di hadapannya, maka malaikat yang ditugaskan kepadanya berkata : “Amin, dan bagimu seperti yang kau doakan.”

Berkaitan dengan hal ini, dalam kitab Syarh Shahih Muslim Imam An-Nawawi mengatakan bahwa hadits tersebut menjelaskan tentang keutamaan seorang muslim yang mendoakan saudaranya dari tempat yang jauh. Jika seandainya dia mendoakan sejumlah atau sekelompok umat Islam, maka tetap mendapatkan keutamaan tersebut.

Oleh sebab itu, sebagian ulama salaf tatkala berdoa untuk diri sendiri dia menyertakan saudaranya dalam doa tersebut, karena di samping terkabul, dia akan mendapatkan sesuatu semisalnya.

Berkaitan dengan hal ini pula, Syaikh Al-Mubarak Furi dalam kitab Mir’atul Mafatih mengatakan bahwa, jika seorang muslim mendoakan saudaranya kebaikan dari tempat yang jauh, dan tanpa diketahui oleh saudara tersebut, maka doa tersebut akan dikabulkan. Sebab, doa seperti itu lebih berbobot dan ikhlas karena jauh dari riya’ dan sum’ah serta berharap imbalan, sehingga lebih diterima oleh Allah.

Kedua adalah orang yang memperbanyak berdoa pada saat lapang dan bahagia.

Hal ini berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari jalur Abu Huroiroh radhiallahu anhu bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya,

“Barangsiapa yang ingin doanya terkabul pada saat sedih dan susah, maka hendaklah memperbanyak berdoa pada saat lapang.”

Syaikh Al-Mubarak Furi mengatakan bahwa makna hadits tersebut adalah, hendaknya seseorang memperbanyak doa pada saat sehat, kecukupan dan selamat dari cobaan, sebab ciri seorang mukmin  adalah selalu dalam keadaan siaga sebelum membidikkan panah. Maka sangat baik jika seorang mukmin selalu berdoa kepada Allah sebelum datang bencana berbeda dengan orang kafir dan zhalim. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat az-Zumar ayat 8.

“Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon pertolongan kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa kepada Allah untuk menghilangkannya sebelum itu.”

Golongan yang ketiga yang termasuk doanya berpeluang besar untuk dikabulkan adalah al-mazhlum atau orang yang teraniaya.

Hal ini berdasarkan sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari jalur Mu’adz bin Jabal radhiallahu anhu bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, yang artinya;

“Takutlah kepada doa orang-orang yang teraniaya, sebab tidak ada hijab antaranya dengan Allah untuk mengabulkan doanya.”

Yang keeempat dan kelima adalah doanya orang tua terhadap anaknya dan doanya seorang musafir.

Hal ini berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Imam Tirmidzi dari jalur Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, yang artinya:

“Tiga orang yang doanya pasti terkabulkan. Pertama, doa orang yang teraniyaya; kedua, doa seorang musafir, dan ketiga, doa orang tua terhadap anaknya.”

Kemudian yang keenam adalah doa orang yang sedang puasa.

Hal ini berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi, dari jalur sahabat mulia Anas bin Malik radhiallahu anhu bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, yang artinya:

“Tiga doa yang tidak ditolak. Pertama, doa orang tua terhadap anaknya. Kedua, doa orang yang sedang berpuasa. Dan ketiga doa seorang musafir.”

Selanjutnya yang ketujuh atau yang terakhir adalah doa orang dalam keadaan terpaksa.

Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat an-Naml ayat 62.

“Atau siapakah yang memperkenankan doa orang yang dalam kesulitan, apabila ia berdoa kepadanya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kalian sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan yang lain? Amat sedikitlah kalian mengingat-Nya.”

Berkaitan dengan ayat ini, Imam As-Syaukani mengatakan, bahwa yang menjadi alasan doa tersebut dikabulkan karena kondisi terpaksa bisa mendorong seseorang untuk ikhlas berdoa dan tidak meminta kepada selain-Nya.

Demikianlah pembahasan tentang orang-orang yang dikabulkan doanya. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala membimbing kita semua untuk senantiasa hanya berdoa kepada-Nya.  Amin. Wallahu A’lam…