Seperti dilaporkan media lokal, pada Senin 28 Maret kemarin, pemimpin Asosiasi Mahasiswa Muslim di Universitas Princeton, Nabil Shaikh, menyatakan bahwa Ledakan mematikan di Brussels telah berdampak negatif terhadap kehidupan masyarakat Muslim di Amerika Serikat.

Shaikh menambahkan bahwa keadaan semakin buruk bagi Muslim yang tinggal di AS sejak serangan tahun lalu di Paris.

Banyak Muslim yang datang ke Amerika dengan harapan kehidupan yang lebih baik, namun sekarang mereka berjuang menghadapi prasangka dan khawatir dengan harapan mereka di negara ini. Hal ini disayangkan, Shaikh mencatat, bahwa sentimen anti-Islam juga telah dilakukan oleh politisi AS.

Sejak berita tragedi Brussels muncul, para pemimpin politik AS, membuat kondisi lebih sulit bagi umat Islam untuk mendapatkan toleransi dan diterima di Amerika.

 (Arrahmah.com, Washington DC)