Merajut keharmonisan dan kasih sayang rumah tangga bagi pasangan suami-istri berusia muda atau tua dapat diraih kapanpun juga, termasuk pada bulan Romadhon. Bahkan kalau kita meresapi makna sebuah pernikahan, niscaya kita dapati bahwa hakikat terjalinnya ikatan pernikahan bertujuan untuk menaburkan benih-benih cinta dan menumbuhkan kasih sayang antara pasangan suami isteri. Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian isteri-isteri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Q,S. ar-Rum [30] :21)

Ibnu Katsir berkata: “Seandainya Alloh menjadikan Bani Adam (manusia) semuanya laki-laki, dan menjadikan wanita-wanita (isteri-isteri) mereka dari jenis selain mereka, mungkin dari jin atau binatang, maka tidak akan terjadi persatuan antara mereka dengan isteri-isteri mereka. Bahkan pasti akan terjadi keengganan, seandainya isteri-isteri itu bukan dari jenisnya. Kemudian, di antara kesempurnaan rahmat Alloh terhadap Bani Adam, bahwa Dia menciptakan isteri-isteri mereka dari jenis mereka sendiri, dan menjadikan di antara mereka rasa kecintaan, dan sayang. Karena seorang laki-laki menahan isterinya, kemungkinan kecintaannya kepada isterinya, atau karena sayangnya, karena dia telah memiliki anak darinya, atau karena dia membutuhkan nafkah darinya, atau karena keakraban antara keduanya, atau lainnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”.

Kiat mewujudkan kehangatan keharmonisan dan kasih sayang dalam rumah tangga pada bulan Romadhon

Banyak cara yang bisa dilakukan oleh pasangan suami-isteri untuk merajut benang-benang keharmonisan rumah tangga di bulan puasa. Pada kesempatan ini kami hanya memberikan dua kiat:

1. Kerjasama dalam menghidangkan sajian sahur atau berbuka.

Tugas memasak dan menyajikan hidangan makanan merupakan tugas utama isteri. Tapi bukan berarti suami tak peduli dan cuek-cuek saja di kala sang isteri super sibuk dalam rangka menyiapkan makanan sahur atau berbuka. Untuk meringankan dan mensukseskan pekerjaan isteri, suami boleh ikutserta membantunya jika memiliki kesempatan dan waktu luang. Sebab kesempatan seperti ini bisa dijadikan sarana berbagai rasa, menciptakan kebersamaan, menumbuhkan cinta dan kasih sayang.

Bukankah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam ikut turun tangan membantu pekerjaan para istrinya. Dan ini tidak terjadi melainkan karena begitu tingginya kemulian akhlak beliau.

“Urwah bertanya kepada ‘‘Aisyah , “Wahai Ummul Mukminin, apakah yang dikerjakan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam tatkala bersamamu (di rumah)?” ‘‘Aisyah menjawab, “Beliau melakukan seperti apa yang dilakukan salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya. Beliau memperbaiki sandalnya, manjahit bajunya dan mengangkat air di ember.” (HR. Ibnu Hibban)

2. Kerjasama dalam menunaikan peribadatan di bulan Romadhon.

Romadhon merupakan kesempatan emas bagi pasangan suami istri memburu pahala yang berlipat ganda. Maka hendaklah mereka saling mengingatkan pasangannya.

Bila istri belum mengkhatamkan al-Qur’an, seyogyanya suami mengingatkan akan pahala membaca al-Qur’an.

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Siapa saja yang membaca satu huruf dari al-Qur’an maka baginya satu kebaikan dari bacaan tersebut. Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan alif, lam, mim satu huruf akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf. (HR. Tirmidzi.)

     Bila suami ternyata masih tidur padahal telah tiba waktu sahur, maka isteri membangunkannya dengan penuh santun.

     Bila istri memasak hidangan untuk berbuka, maka berilah motivasi agar memberikan hidangan berbuka kepada orang berpuasa.

     Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga .” (HR. Tirmidzi)

     Bayangkan, bila setiap hari isteri memberikan hidangan kepada seorang saja hingga satu bulan penuh, maka ia akan mendapatkan pahala puasa satu bulan. Suami pun akan mendapatkan pahala sepertihalnya isteri karena suami yang berperan memberikan motivasi.

Wallohua’lam.

Artikel : Gerimis


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05