Sesungguhnya Alloh subhanahu wa ta’ala telah memberikan karunia yang begitu banyak dan melimpah kepada kita. Karunia tersebut mengalir setiap detik tanpa henti. Terus melimpah kepada kita tanpa kita memintanya sekalipun. Udara pagi yang penuh dengan oksigen yang segar, hujan yang menumbuhkan tanaman yang hijau, sinar matahari yang memancar tak kunjung padam, dan masih banyak lainnya. Semua karunia itu “gratis” dinikmati oleh manusia. Namun karena kebodohan manusia, maka terkadang mereka tak mengerti betapa mahalnya jika semua itu harus dinilai dengan harta.

Nikmat harta hanyalah bagian kecil dari nikmat yang diberikan Alloh subhanahu wa ta’ala. Ia bukanlah segalanya. Ia bukan pula alat pembeli kebahagiaan. Namun sebenarnya ia adalah ujian yang seringkali melenakan. Betapa banyak karena kecintaan manusia terhadap harta menjadikan ia semakin kikir dan bakhil untuk mengeluarkan hak-haknya. Betapa sering kita dengar, demi meraup harta, manusia menerjang larangan dalam kitab suci-Nya. Begitulah kebanyakan manusia yang telah dikaruniai Alloh subhanahu wa ta’ala dengan harta, kecuali mereka yang dirahmati Alloh.

Harta Adalah Amanah

Sedikit ataupun banyak harta yang ada pada kita pada hakikatnya adalah amanah. Kelak Alloh ta’ala akan bertanya dari mana dan untuk apa harta tersebut dibelanjakan. Alangkah bahagianya orang yang mendapatkan amanah harta lalu ditunaikan sesuai dengan haknya, Tidak sedikitpun hartanya terbuang di jalan setan, bahkan ia hanya mengeluarkan harta di jalan-jalan yang diridhai Alloh seperti bersedekah. Jalan sedekah inilah sebenarnya jalan keberkahan harta. Karena dengannya harta tersebut mengalir bermanfaat. Bahkan multi manfaat. Dengan sedekah baik yang bersifat wajib (zakat) atau sunnah (infak atau pemberian lainnya) inilah distribusi kekayaan akan merata. Dengan sedekah pula harta tidak hanya beredar pada orang-orang kaya saja. Ia akan berputar dan bersinergi dari satu sektor ke sektor lain dalam kehidupan ini.

Berbeda dengan harta yang mengendap tak disedekahkan. Ia ibarat darah yang berhenti di dalam tubuh. Darah tersebut akan menyumbat sirkulasi dan akhirnya menyebabkan berbagai macam penyakit yang sangat berbahaya. Begitu juga dengan harta yang mengendap di tangan seorang hamba. Jika tidak sedikitpun harta tersebut disedekahkan di jalan Alloh subhanahu wa ta’ala maka hal itu akan menyebabkan peyakit berupa tamak, kikir, bakhil, sombong dan tabdzir (penyia-nyiaan harta). Apalagi tabiat manusia yang memang dijadikan cinta dengan harta. Tentu kecintaan tersebut jika tidak disinari hidayah maka akan menjadikan dirinya sebagai hamba harta. Waktunya untuk harta, kekuatannya terkuras demi harta, cita-citanyapun sebatas menumpuk harta dan menghitung-hitungnya seolah mampu megekalkannya.

Jika keadaan kita seperti itu maka sungguh celakalah kita. Celaka karena jika kita mati ternyata kita tidak membawa harta. Padahal ketika hidup kita habis-habisan mencarinya. Panas dilibas, hujan diterabas, rintanganpun dipangkas tak kenal malas demi harta.

Coba sejenak renungkanlah betapa banyak para jutawan dikubur tanpa membawa selembar uangpun yang ia kumpulkan selama hidupnya. Di akhiratpun tak memiliki apa-apa. Berbeda dengan orang yang selalu memberikan hartanya untuk berinfak, meskipun di dunia tak punya tumpukan harta, maka di akhirat ia meraup pahala yang luar biasa. Itulah amalan yang menemani dia di akhiratnya. Bahkan ketika manusia kepanasan di padang mahsyar ia nyaman berteduh di bawah sedekahnya. Subhanalloh!

Jangan Sampai Menyesal

Sungguh betapa menyesalnya orang yang tidak bersedekah. Ia akan kecewa saat kematian menghampirinya. Ia akan bersedih karena ternyata harta yang selama ini menjadikan ia jumawa tak mampu mengobati sakitnya sakarotul maut saat menjemputnya. Ia juga akan menyesal saat di padang mahsyar kepanasan, sementara ada golongan lain yang mungkin lebih miskin dari dia di dunia berteduh di bawah sedekahnya. Bahkan ia sangat menyesal saat mendapatkan adzab, ternyata hartanya tidak mampu menebus adzab Alloh   meskipun berupa emas sebesar bola bumi.

Saat mengetahui hartanya tidak bermanfaat itulah orang-orang kafir sangat menyesal karena tidak beriman dan bersedekah di dunia. Bahkan karena penyesalannya yang dalam, mereka meminta walau sesaat untuk dikembalikan lagi ke dunia agar bisa bersedekah. Alloh  berfirman:

 وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ 

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepada kalian sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kalian; lalu ia berkata: “Ya Robb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku Termasuk orang-orang yang sholeh?” (QS. al-Munafiqun [63]: 10)

Saudaraku yang dirahmati Alloh ta’ala Itulah penyesalan yang tiada guna. Penyesalan yang seharusnya direnungkan oleh orang beriman di dunia ini. Direnungkan untuk diambil pelajaran yang berharga dalam bersedekah di jalan Alloh. Bersedekahlah karena ia adalah bukti keimanan. Jangan sampai penyesalan itu terjadi pada kita. Masih banyak kesempatan untuk bersedekah maka jangan disia-siakan. Percayalah harta kita tidak akan berkurang dengan bersedekah. Karena harta yang kita sedekahkan itulah sebenarnya harta kita yang sejati di akhirat nanti. Wallohu A’lam Bishowab..


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05