Oleh: Ust. Hawari, Lc., M.E.I.

Di era globalisasi ini tantangan kaum muslimah terasa semakin berat. Berbagai gerakan dan arus pemikiran datang dari segala penjuru untuk melucuti jati diri kaum muslimah. Gagasan feminisme, emansipasi dan trans gender pun semakin marak diserukan kaum sekuler dan liberal untuk menyerang kaum muslimah. Pembiasan identitas bahkan pembunuhan karakter muslimah  juga terlihat santer di media masa yang beredar dan mendominasi masyarakat islam. Bahkan, arus budaya barat yang kian tak terbendung, menjadikan kaum muslimah banyak terseret ke dalam lembah keterpurukan.

Beragam fitnah tersebut mengepung kaum muslimah saat ini. Hampir setiap lini kita dapati para penyeru yang mengajak muslimah ke pintu-pintu Jahanam. Mereka membuat bermacam program untuk menggiring muslimah kepada tradisi jahiliyah di zaman modern ini.

Cobalah amati program TV, radio, dan mayoritas media masa di negeri ini. Apakah program-program tersebut membantu kaum muslimah dalam menjaga iffah atau justru membiaskan dan merusaknya? Rata-rata media masa tersebut merupakan corong untuk membunuh karakter muslimah.

Dampak nyata dari hal tersebut bisa kita saksikan saat ini. Betapa banyak wanita yang mengaku muslimah namun tidak mencerminkan kepribadiannya sebagai seorang muslimah. Seolah-olah kita tidak bisa membedakan antara wanita muslimah atau kafiroh (wanita kafir) lantaran jati diri mereka yang hilang atau telah mati.

Selain kepungan dari luar. Serangan dari dalampun gencar dilakukan. Berbagai kelompok seperti Syiah sangat mengancam muslimah dalam menjaga iffah-nya. Mereka mulai menggeliat di Indonesia beberapa tahun ini. Jika kaum muslimah tidak semakin waspada dan membentengi diri dengan aqidah yang benar, maka bisa jadi aqidah Syiah akan merusak keimanannya. Bukan sekedar itu, doktrin nikah mut’ah yang dianut kaum Syiah juga siap merobek dan menghancurkan harga diri muslimah negeri ini.

Tidak ada cara terbaik bagi seorang muslimah untuk selamat dari fitnah tersebut melainkan Istiqomah dalam menjaga iffah. Maksud menjaga iffah adalah senantiasa menjaga dan menahan diri dari segala perkara yang dilarang Allah dan Rasul-Nya. Meskipun jiwanya condong dan ingin berbuat maksiat, namun keimananannya mampu melawan dan membendung semua itu.

Seorang muslimah yang menjaga iffah-nya tidak akan tergiur dengan kemanisan dunia. Ia pun tidak akan pernah rela telanjang dada dan paha demi menuruti aturan kerja. Meskipun diiming-imingi gaji jutaan rupiah, sedikitpun tak tergiur mengambilnya jika berasal dari jalan yang tidak berkah. Dia juga tidak silap mata (silau) dengan kata-kata yang merayunya untuk berbuat nista. Meski manis dan menggoda, namun ia tolak dengan tegas karena tidak halal baginya.

Agar kaum muslimah tetap istiqomah menjaga ‘iffah atau kesucian dirinya, beberapa hal di bawah ini bisa membantu meraih hal tersebut.

  1. Teruslah meningkatkan ilmu, iman, dan takwa kepada Allah. Inilah sebenarnya perisai utama kaum muslimah dalam menghadapi serangan musuh-musuh Islam yang ingin menghancurkan mereka.
  2. Hati-hatilah dalam bergaul dan memilih teman. Usahakan teman pergaulan kita adalah teman yang sholih, cerdas, dan bertakwa. Sebab seseorang akan senantiasa berada pada agama dan kebiasaan temannya. Jika temannya baik maka akan senantiasa mengajaknya kepada kebaikan. Sebaliknya, jika teman pergaulan buruk ia juga akan senantiasa mengajaknya kepada keburukan. Oleh karena itu, perhatikanlah dengan siapa seseorang berteman dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Perkuatlah rasa malu kepada Allah. Tidaklah rasa malu ini mekar dalam diri muslimah melainkan kebaikan yang akan ia raih. Alangkah indahnya jika rasa malu ini senantiasa menghiasi kaum muslimah. Sebaliknya jika rasa malu telah dicabut Allah subhanahu wa ta’ala dalam diri seorang wanita maka hal itu adalah petaka bagi wanita. Betapa banyak wanita berpakaian tapi telanjang, bercampur baur dengan laki-laki asing, bahkan sampai berani berpeluk cium dengan orang lain menunjukkan bahwa rasa malu telah hilang dalam diri wanita tersebut. Oleh karena itu, selalu memperbanyak doa agar diteguhkan Allah subhanahu wa ta’ala dalam menjaga kesucian diri.
  4. Senantiasalah meneladani perangai istri nabi shalallahu alaihi wasallam dan shohabiah radhiallahu anhuma dalam menjaga ‘iffah. Mereka adalah para muslimah teladan yang Allah pilih di dunia ini untuk kaum muslimah. Dengan meneladani mereka, keistiqomahan seorang muslimah akan terbangun dan menguat.
  5. Berusahalah untuk ikut andil dalam berdakwah dan memperbaiki kondisi kerusakan umat sesuai dengan kemampuan dan batasan syar’i yang dibolehkan.

Betapa banyak wanita yang mengaku muslimah namun tidak menjaga kesucian dirinya. Ada di antara mereka yang terjaring dalam perilaku-perilaku asusila atau tindakan dosa. Setiap hari mereka bersolek dan berdandan demi ditonton jutaan orang dilayar kaca. Ada juga di antara mereka yang bangga bisa tampil telanjang di cover majalah atau surat kabar hanya dengan bayaran beberapa juta saja. Ia lupa bahwa ada harga yang lebih mahal yang harus ia bayar di akhirat kelak. Yaitu siksa Allah yang tidak bisa ditebus dengan apa saja di dunia ini.

Menjaga ‘iffah merupakan akhlak tinggi dan mulia. Oleh karena itu, akhlak ini harus senantiasa dibina dan ditempa. Akhlak ini juga harus ditanamkan para mudarisah (guru), daiyah (juru dakwah), murobiyah (pendidik), mursyidah (pembimbing) dan siapa saja yang diamanahi Allah subhanahu wa ta’ala mendidik kaum muslimah di berbagai sekolah.

Dengan istiqomah menjaga ‘iffah  insya Allah subhanahu wa ta’ala kaum muslimah akan menjadi sosok mulia dan indah di sisi Allah dan manusia. Wallahu a’lam bishawab.