Sahabat hijrah, kita sebagai pemuda adalah harapan bagi masa depan islam. Oleh karena itulah kita selayaknya menjadi penggerak perubahan, menjadi titik tolak perubahan peradaban.

Dan untuk menjadi pemuda yang berkualitas, tentunya kita harus menjadikan nilai-nilai iman sebagai landasan. Selain itu, kita harus menjadi pemuda yang unggul. Pemuda yang memiliki kelebihan dan kualitas sehingga bisa menjadi agen perubahan.

Pemuda yang unggul itu memiliki karakter yang khas. apa saja itu?

Yang pertama., Pemuda unggul itu pemuda yang memanfaatkan potensi mereka.

Banyak kita lihat remaja atau pemuda yang jauh dari nilai-nilai islam, mereka lebih memilih jalan hidup yang menurut mereka menyenangkan, mereka menghabiskan usia muda dan kesehatan mereka dengan hura-hura. sampai-sampai ada slogan, muda hura-hura, tua kaya raya, mati masuk surga.

Mungkinkah seseorang kaya di hari tua jika di masa mudanya dia hura-hura? mungkinkah seseorang masuk surga jika masa mudanya dihabiskan untuk kesenangan belaka?  tentunya tidak.

Oleh karenanya, kita harus memperhatikan waktu dan usia kita, karena kebanyakan manusia, khususnya para pemuda selalu lalai dan tidak mensyukuri nikmat kesempatan atau waktu luang dan kesehatan.

Hal seperti yang Rasulullah sabdakan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang.”

Berkaitan dengan hadits tersebut, Ibnu Baththol -rha-  mengatakan bahwa  hendaknya orang yang memiliki dua nikmat ini, yaitu waktu senggang dan nikmat sehat, menjalani hidupnya dengan penuh bersemangat, jangan sampai ia tertipu dengan meninggalkan syukur pada Allah atas nikmat yang diberikan.

Bersyukur adalah dengan melaksanakan setiap perintah Allah  dan menjauhi setiap larangan Allah., cobalah kita perhatikan dengan jeli, ada orang yang sehat tubuhnya tapi dia tidak memiliki waktu yang luang, dia sibuk dengan urusan dunia. dan terkadang ada juga orang yang memiliki waktu luang, tapi tidak dalam kondisi sehat badannya. nah, apabila ada terkumpul pada diri kita waktu luang dan kesehatan, maka itu adalah anugerah yang besar.

Jika tidak memanfaatkan keduanya dengan baik, yakni dengan beramal serta melakukan kegiatan bermanfaat, berarti kita telah tertipu. kita tidak lulus ujian. ya, Allah  menguji kita dengan waktu luang dan kesehatan.

Tak heran jika Ibnu Jauzi  mengatakan bahwa dunia adalah ladang beramal untuk menuai hasil di akhirat kelak. Dunia adalah tempat kita menjajakan barang dagangan. sedangkan keuntungannya akan diraih di akhirat nanti.  Barangsiapa yang memanfaatkan waktu luang dan nikmat sehat dalam rangka melakukan ketaatan, maka dialah yang akan berbahagia. Sebaliknya,  barangsiapa memanfaatkan keduanya dalam maksiat, dialah yang betul-betul tertipu. Sesudah waktu luang akan datang waktu yang penuh kesibukan. Begitu pula sesudah sehat akan datang kondisi sakit yang tidak menyenangkan.

Dan yang lebih parah, ada orang yang tidak bekerja untuk dunianya, dan juga tidak beramal untuk akhiratnya. makanya Umar bin Khatab radiyallahu anhu mengatakan.

إنِّي أَكْرَهُ الرَّجُلَ أَنْ أَرَاهُ يَمْشِي سَبَهْلَلًا أَيْ : لَا فِي أَمْرِ الدُّنْيَا ، وَلَا فِي أَمْرِ آخِرَةٍ .

Aku tidak suka melihat seseorang yang berjalan seenaknya tanpa mengindahkan ini dan itu, yaitu tidak peduli penghidupan dunianya dan tidak pula sibuk dengan urusan akhiratnya.”

Ibnu Mas’ud juga mengatakan,

إنِّي لَأَبْغَضُ الرَّجُلَ فَارِغًا لَا فِي عَمَلِ دُنْيَا وَلَا فِي عَمَلِ الْآخِرَةِ

Aku sangat membenci orang yang menganggur, yaitu tidak punya amalan untuk penghidupan dunianya ataupun akhiratnya.”

Kemudian sahabat, karakter pemuda unggul yang kedua adalah pemuda yang kuat.

Kuat di sini bermakna umum, bisa mencakup seluruh aspek dari kehidupan, yakni kuat jasadnya, kuat aqidahnya, kuat amalnya, dan kuat ilmunya.

Di dalam penggalan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda.

الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ

Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun masing-masing ada kebaikan.

Semangatlah meraih apa yang manfaat untukmu dan mohonlah pertolongan kepada Allah-st- , dan jangan bersikap lemah.

Jadi sahabat, Maksud mukmin kuat dalam hadits ini adalah kuat imannya, bukan semata kuat fisik atau materi. Karena kuatnya fisik dan materi akan membahayakan diri jika digunakan untuk kemaksiatan kepada Allah .

Pada dasarnya, kuatnya fisik dan materi bukan sebagai pijakan mulia atau tercela. Hanya saja, jika keduanya digunakan untuk kemanfaatan di dunia dan akhirat,ia menjadi terpuji. Sebaliknya, jika digunakan untuk kemaksiatan terhadap Allah, ia menjadi tercela.

Sedangkan makna mukmin lemah adalah kebalikan dari semua yang disebutkan, yakni lemah imannya, lemah ilmunya, lemah fisiknya atau lemah materinya. Namun tidak boleh diremehkan, sebab ia masih dalam lingkup baik karena masih ada iman dalam dirinya.

Kemudian sahabat,  Nabi memerintahkan setiap mukmin, baik yang kuat maupun yang lemah, untuk bersemangat dalam mencari apa yang manfaat untuk dirinya dari urusan dunia dan akhiratnya.Namun tidak boleh lupa terhadap kuasa Allah dengan senantiasa meminta pertolongan kepada-Nya dalam menjalankan usaha tersebut.

Selanjutnya, karakter pemuda unggul yang ketiga adalah pemuda atau remaja yang optimis. optimis dalam menatap masa depan, tidak pesimis ketika melihat umat terpuruk dengan melakukan segala ikhtiar.

Marilah kita sejenak menyimak kisah dari seorang ulama ilmu Nahwu bernama Imam al-Kasa’i , dikisahkan, saat mulai bejalar ilmu Nahwu beliau mendapati kesulitan sehingga hampir putus asa, Kemudian beliau menemukan seekor semut membawa makanan ke atas tembok, Setiap semut itu naik sedikit, ia terjatuh. Begitu berulang-ulang sehingga ia berhasil naik ke atas. Imam al-Kasai mengambil pelajaran dari semut tersebut, beliau bersungguh-sungguh dalam belajar sampai menjadi imam besar dalam ilmu Nahwu.

Akhir kalam, Kami ingin mengajak sahabat hijrah semua untuk terus meningkatkan kualitas dan kuantitas iman. Mengajak untuk menjadi hamba Allah yang bertakwa, dengan memanfaatkan waktu dan kesehatan, menguatkan iman, ilmu dan amal, dan selalu optimis menatap masa depan,

Semoga bermanfaat.