Oleh: Wahyu Gumilang, S.Pd.I

 وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang berdakwah (menyeru) kepada Alloh, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri.’” (QS. Fushilat [41]: 33)

Dalam ayat ini Alloh subhanahu wa ta’ala telah menyebutkan keutamaan dakwah sebagai perkataan yang paling baik, ini menunjukkan besarnya kedudukan dakwah di sisi Alloh ta’ala. Karena di dalamnya terdapat ajakan, seruan, nasihat, motivasi dan wasiat yang ditujukan kepada seluruh manusia agar beribadah kepada Alloh subhanahu wa ta’ala semata, yang tidak ada Illah yang berhak disembah dengan benar selain diri-Nya.

Itu semua merupakan tugas utama yang dengannya para nabi dan rosul menyampaikan risalah ilahiyah berupa agama Alloh yang lurus yaitu Islam. Mereka bertugas untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan jahiliyyah menuju cahaya hidayah.

Keterpurukan ruhani yang menyebar di tubuh masyarakat tak dapat diminimalisir kecuali dengan sentuhan dakwah. Kita dapat melihat bagaimana sepak terjang para nabi dan rosul dalam mengubah realita umatnya dari kegelapan, keterpurukan menuju cahaya kebangkitan ruhani adalah dengan berdakwah. Sebagaimana perkataan Nabi Nuh alaihissalam yang telah Alloh abadikan dalam Al-Quran, Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا (5)  فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا (6)

“Nuh berkata: ‘Wahai Robbku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang. Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran).” (QS. Nuh [71]: 5-6)

Oleh karena pentingnya dakwah sebagai perisai penjagaan umat dari keterpurukan ruhani, apalagi pada masa sekarang dimana fitnah kesyirikan, kebid’ahan dan kemaksiatan telah menggerogoti sendi-sendi kehidupan masyarakat, maka dakwah menjadi suatu yang wajib atas setiap individu masyarakat.

Dalam hal ini, keluarga sebagai wujud miniatur kecil dalam sebuah masyarakat memilki peranan penting sebagai benteng pertama dalam menjaga anggota-anggotanya dari serangan fitnah keterpurukan yang merajalela. Di dalam lingkungan keluarga seseorang dididik menjadi sosok manusia yang memilki keimanan yang benar dan merealisasikan amaliyah ibadah sesuai dengan yang telah dicontohkan oleh suri tauladannya yaitu Rosululloh sholallohu alaihi wasallam . Hal ini tak akan mungkin terealisasi, kecuali masing-masing anggota keluarga memiliki rasa kepedulian yang tinggi antar sesamanya dengan senantiasa memberikan nasihat, arahan dan pelurusan dengan hikmah ketika ada salah seorang dari anggota dalam keluarga tersebut yang melakukan pelanggaran syariat. Upaya inilah yang harus senantiasa dipupuk dan dikembangkan dalam sebuah keluarga sehingga terciptalah sustu sosok keluarga pendakwah dalam tubuh masyarakat kita. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ 

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Alloh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At-Tahrim [66]: 6)

Oleh karena itu sudah menjadi tanggungjawab kepala keluarga untuk membentuk keluarganya menjadi sosok da’i minimal bagi diri dan keluarganya dan masyarakat di sekitarnya. Adapun beberapa cara untuk membentuk sosok keluarga pendakwah sebagai berikut:

  1. Menjelaskan kepada anggota keluarga tentang keutamaan dan urgensi dakwah.
  2. Membiasakan kepada anggota keluarga agar saling nasihat menasihati antar sesamanya, yang dicontohkan pertama kali oleh kedua orang tuanya.
  3. Memberikan motivasi dan doa keistiqomahan kepada anggota keluarganya yang menjalankan syariat dan memberikan peringatan dan hukuman kepada yang melanggar syariat.
  4. Membuat majlis keluarga yang di dalamnya dibacakan kisah-kisah perjalanan dakwah para nabi dan rosul.
  5. Mengadakan forum evaluasi harian atau mingguan dalam keluarga sebagai wadah untuk memberikan koreksi sekaligus solusi atas setiap kegiatan yang dilakukan oleh masing-masing anggota keluarga.

Demikian pentingnya peran keluarga dalam gelanggang dakwah saat ini, menuntut kita untuk berbuat maksimal dalam membentuk keluarga kita sebagai sosok keluarga pendakwah yang mengadakan perubahan positif di tengah-tengah masyarakat kita. Wallohu waliyyuttaufiq.

Artikel: Gerimis


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05