Tugas besar yang pertama kali harus dilaksanakan oleh orang tua dalam mendidik anak adalah mengenalkan anak dengan sang pencipta, yaitu Alloh Subhanahu Wa Ta’ala. Inilah “ma’rifatulloh” yang dengannya fitroh insaniyah (fitroh tauhid) terjaga dan terpelihara. Ma’rifatulloh bagi seorang anak merupakan pondasi dasar yang diatasnya akan berdiri bangunan Islam yang megah. Begitu juga kalimat pertama yang seharusnya menoreh dan menggores pada lembaran putih dalam jiwa anak-anak kita.

Generasi tauhid dan robbani tidak akan terwujud tanpa andil orang tua dalam mengenalkan anak pada sang pencipta. Tentunya bukan sekedar mengajarkan bahwa Alloh ‘Azza Wa Jalla itu ada. Lebih dari itu, anak harus selalu dikawal dengan manhaj (metode beragama) yang benar dalam ma’rifatulloh. Seperti mengenalkan tentang sifat dan asma (nama) Alloh ‘Azza Wa Jalla, menanamkan jiwa ketauhidan dan mengubur semua bentuk kesyirikan. Semua itu adalah bagian dari mengenalkan anak pada sang pencipta (ma’rifatulloh)

URGENSI MENGENALKAN SANG PENCIPTA PADA ANAK

Anak akan tumbuh dengan lurus ketika sejak kecil telah mengenal Alloh ‘Azza Wa Jalla. Benih-benih akhlak terpuji pun akan berkembang jika hati yang seolah ladang tempat berseminya tanaman selalu disirami dengan mata air ma’rifatulloh.

Ada beberapa urgensi mengenalkan anak terhadap sang pencipta sejak dini.

Di antara urgensi tersebut adalah:

1. Mengenalkan Sang pencipta kepada anak adalah benteng menjaga kefitrohan.

Tentu semua kita telah faham bahwa setiap anak terlahir dalam keadaan fitroh kemudian orang tuanya-lah yang menjadikan anak tersebut Yahudi, Nasrani ataupun Majusi.Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

 

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، حَتَّى يُعْرِبَ عَنْهُ لِسَانُهُ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah hingga ia fasih (berbicara), maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
[Hadits riwayat al-Baihaqi dan ath-Thabarani dalam al-Mu’jamul Kabir].

Jika anak –anak kita tidak mengenal Alloh ‘Azza Wa Jalla maka yang pertama kali disalahkan adalah orang tuanya. Karena pada dasarnya orang tualah yang menyebabkan anak menjadi yahudi, nasrani maupun majusi. Dengan mengenalkan Alloh ‘Azza Wa Jalla pada anak didik maka akan sirnalah paradigma dalam jiwa anak kita untuk meyakini ada sesembahan selain Alloh ‘Azza Wa Jalla. Inilah benteng perkasa bagi masa depan anak kita.

2. Mengenalkan anak kepada Alloh ‘Azza Wa Jalla merupakan upaya menjaga diri dan keluarga dari siksa api neraka.

Memenuhi kebutuhan ruhani anak-anak -berupa keimanan(poin utamanya adalah ma’rifatulloh) dan amal sholeh- jauh lebih penting daripada memenuhi kebutuhan jasadnya. Karenanya Alloh ‘Azza Wa Jalla dalam Al-Qur`an tidak pernah memerintahkan para orangtua untuk melindungi anaknya dari panasnya terik matahari atau dari panasnya rasa lapar, akan tetapi justru Alloh ‘Azza Wa Jalla memerintahkan mereka untuk melindungi anak-anak mereka dari api neraka. Sudah dipastikan bahwa setiap orangtua tentu sangat menyayangi dan mencintai anak-anaknya dan tidak akan tega membiarkan anak-anaknya tidak makan atau tidak berpakaian, maka apakah dia tega jika anaknya dijadikan sebagai bahan bakar neraka atau berpakaian dengan pakaian dari api neraka?!

Alloh ‘Azza Wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…” (QS. Al-Tahrim: 6)

3. Mengenalkan anak kepada ma’rifatulloh akan menjadikan anak mempunyai kepribadian yang kuat dan membentuk anak berakhlak terpuji dalam kehidupan sehari-hari.

Akhlak (yang terpuji) adalah anugerah dari Allah dan merupakan pembagian dari Allah, serta merupakan bentuk keutamaan yang Allah berikan untuk hamba. Allah yang menganugerahi rezeki, Dia pulalah yang menganugerahi akhlak yang terpuji. Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rohimahulloh berkata,

فإنَّ الأخلاق مواهب يهب الله منها ما يشاء لمن يشاء

Sesungguhnya akhlak yang terpuji adalah anugerah yang Allah berikan kepada para hamba sesuai dengan kehendak-Nya”.

Oleh sebab itu sangatlah penting mengenalkan Asma Alloh Subhanahu wa Ta’ala (Asmaul Husna) dan Sifat Alloh (perbuatanNya, kekuasaannNya, apa saja yang ada pada Dzat Alloh, dan segala informasi tentang Alloh-sesuai dengan kaidah dan dalil syar’i) kepada anak agar anak mengetahui Robb-nya sejak dini.

 

BEBERAPA METODE MENGENALKAN SANG PENCIPTA PADA ANAK

Mengenalkan anak pada sang penciptanya bisa dilakukan dengan berbagai cara. Sebagai orang tua maupun pendidik hendaknya inovatif dan kreatif dalam pelaksanaannya. Beberapa metode yang bisa dilakukan di antaranya:

1. Mengajarkan Aqidah dengan Benar

Para pendidik hendaknya senantiasa belajar ilmu aqidah dengan benar. Keberadaan Alloh ‘Azza Wa Jalla  yang ghoib seringkali menjadi pertanyaan bagi anak kecil. Jangan sampai ketika ditanya oleh anak “Ibu, Alloh itu dimana sih?” maka dijawab dengan “Nak, Alloh itu di mana-mana”. Jawaban tersebut seolah menenangkan anak. Namun tidak mencerminkan jawaban yang benar dalam mengenalkan keagungan Alloh ‘Azza Wa Jalla. Tidak masuk akal jika Alloh Yang Maha Tinggi bersemayam di mana-mana dan di setiap tempat. Alloh telah menjelaskan sendiri bahwa Dia berada di langit dan bersemayam di atas Arsy-Nya. Alloh ‘Azza Wa Jalla berfirman:

 

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

Artinya: “Yang Maha Penyayang di atas ‘Arsy (singgasana) berada.” (Q.S. Thoha : 5)

Hadits Abu Hurairoh rodiallahu’anhu, bahwa Nabi shollallahu ’alaihi wasallam memegang tangannya (Abu Hurairoh) dan berkata:

يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، إِنَّ اللهَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرَضِيْنَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ، ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

“Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya Allah menciptakan langit dan bumi serta apa-apa yang ada diantara keduanya dalam enam hari, kemudian Dia berada di atas ‘Arsy (singgasana).” (HR. An-Nasai dalam As-Sunan Al-Kubra, dishahihkan Al-Albani dalam Mukhtasharul ‘Uluw)

2. Menggunakan Lafadz Alloh dalam percakapan sehari-hari

Menggunakan Lafadz Alloh dalam percakapan sehari-hari dengan anak merupakan cara efisien mengenalkan anak pada ma’rifatulloh. Misalnya dalam memberikan pujian pada anak yang mau menjalankan sholat sendiri walaupun masih asal-asalan. Ucapkanlah pada anak, ‘Subhanalloh adik memang pinter dan rajin, Alloh ‘Azza Wa Jalla sangat suka dengan anak yang rajin.” Dan semisalnya. Hal ini akan mengenalkan dan mendekatkan anak pada sang pencipta.

3. Memperkenalkan nikmat Alloh ‘Azza Wa Jalla dan kasih sayang-Nya

Perkenalkan nikmat Alloh I dan kasih sayang-Nya melalui fungsi organ tubuhnya. Sebagai contohnya ketika orang tua sedang bermain dengan anak cobalah untuk menyuruh anak kita berdiri dengan satu kaki, kemudian berjalan. Ketika anak tersebut kesulitan maka ucapkanlah pada anak tersebut. “Dik, Alloh ternyata sangat sayang pada adik dengan dua kaki normal yang bisa berjalan. Coba kalau adik gak punya dua kaki gak bisa jalankan?”

4. Membiasakan mengajak anak berdoa pada Alloh ‘Azza Wa Jalla disetiap waktu

Membiasakan mengajak anak berdoa pada Alloh disetiap waktu. Seperti sebelum dan sehabis makan, beranjak tidur dan sesudahnya, ketika hendak safar dan lainnya. Dan hendaknya mengajari anak untuk menghafal asmaul husna sejak dini serta mempraktekkannya sebelum berdoa dalm keseharian kita.

5. Menyediakan berbagai bacaan tentang mengenal Alloh dan Rosul-Nya

Menyediakan berbagai bacaan tentang mengenal Alloh ‘Azza Wa Jala dan RosulNya. Begitu juga menjauhkan anak dari bacaan dan tontonan yang bisa merusak aqidah anak.

 BELAJARLAH DARI KISAH LUQMAN

Alloh mengabadikan nasihat Luqman kepada anaknya di dalam al-Qur’an yang mulia.

“dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Alloh) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (QS. Luqman[30]: 13)

Ibnu Katsir rohimahulloh mengatakan dalam tafsirnya berkaitan dengan ayat ini. ”Luqman berpesan kepada anaknya sebagai orang yang paling disayanginya dan paling berhak mendapatkan pemberian yang paling utama dari pengetahuannya (yaitu tentang tauhid), Oleh karena itu dalam wasiat pertamanya berpesan agar tidak menyekutukan Alloh dengan sesuatu apapun”.

Subhanalloh, kalau kita renungkan nasihat ini begitu agung. Kalimat yang pendek namun mengandung muatan ma’rifatulloh yang begitu dalam. Sungguh tak ada yang utama dalam pendidikan anak melainkan mengenalkan anak pada ma’rifatulloh. Jika sejak dini anak-anak faham akan ma’rifatulloh, Insya Alloh jika dewasa kelak akan melahirkan para mujahid dan dai bahkan dokter, insinyur, arsitek maupun tokoh masyarakat yang bertakwa dan faham akan hak hak Alloh dan RosulNya.                                                                                                                                      

 Wallohua’lam.

 

Artikel : Gerimis

 


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05