Oleh: Ust. Hawari, Lc., M.E.I.

Di antara tugas besar yang pertama kali harus dilaksanakan oleh para orang tua dalam mendidik anaknya adalah mengenalkan anak kepada Sang Pencipta; yaitu Allah subhanahu wa ta’ala. Inilah “Ma’rifatullah” yang dengannya fitroh insaniah (fitrah tauhid) terjaga dan terpelihara. Ma’rifatullah bagi seorang anak merupakan pondasi dasar yang di atasnya akan berdiri bangunan Islam yang megah dan mercusuar. Begitu juga pelajaran pertama yang seharusnya tertoreh di lembaran putih jiwa anak-anak kita.

Generasi tauhid dan robbani tidak akan terwujud tanpa andil orang tua dalam mengenalkan anak pada sang pencipta. Tentunya bukan sekedar mengajari bahwa Allah subhanahu wa ta’ala itu ada. Lebih dari itu, anak harus selalu dikawal dengan manhaj yang benar dalam ma’rifatullah. Seperti mengenalkan tentang sifat dan asma Allah subhanahu wa ta’ala, menanamkan jiwa ketauhidan dan mengubur semua bentuk kesyirikan. Semua itu adalah bagian dari mengenalkan anak pada sang pencipta.

Anak akan tumbuh dengan lurus ketika sejak kecil telah mengenal Allah subhanahu wa ta’ala. Benih-benih akhlak mulai pun  akan tumbuh subur jika hati selalu disirami dengan mata air ma’rifatullah.

Ada beberapa urgensi mengenalkan anak kepada sang pencipta sejak dini. Di antara urgensi tersebut adalah:

  1. Mengenalkan anak kepada Sang Allah azza wa jalla adalah benteng menjaga kefitrohan. Tentu semua kita telah paham bahwa setiap anak terlahir dalam keadaan fitroh kemudian orang tuanyalah yang menjadikan anak tersebut yahudi, nasrani ataupun majusi.

Jika anak–anak kita tidak mengenal Allah, maka jangan heran yang pertama kali disalahkan adalah orang tuanya. Dengan mengenalkan anak didik pada Allah maka akan sirnalah paradigma dalam jiwa anak kita untuk meyakini ada sesembahan selain Allah subhanahu wa ta’ala. Inilah benteng perkasa bagi masa depan anak-anak kita.

  1. Mengenalkan anak dengan Allah merupakan upaya menjaga diri dan keluarga dari siksa api neraka. Allah ta’ala berfirman,

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…” (QS. Al-Tahrim: 6)

  1. Mengenalkan anak kepada ma’rifatullah akan menjadikan anak mempunyai kepribadian yang kuat dan membentuk anak berakhlaq terpuji dalam kehidupan sehari- hari.

Mengenalkan Anak pada sang pencipta bisa dilakukan dengan berbagai cara. Sebagai orang tua maupun pendidik hendaknya selalu inovatif dan kreatif dalam pelaksanaannya. Beberapa metode yang bisa dilakukan di antaranya:

  1. Para pendidik hendaknya senantiasa belajar ilmu aqidah dengan benar. Keberadaan Allah subhanahu wa ta’ala yang ghoib seringkali mengundang pertanyaan bagi anak kecil. Jangan sampai ketika ditanya oleh anak “Ibu, Allah itu di mana sih?” maka dijawab dengan “ Nak, Allah itu di mana-mana”. Jawaban tersebut seolah menenangkan anak.

Namun, tidak mencerminkan jawaban yang benar dalam mengenalkan keagungan Allah. Tidak masuk akal jika Allah subhanahu wa ta’ala yang Maha Tinggi ada di mana-mana dan di setiap tempat. Allah telah menjelaskan sendiri bahwa Dia berada di langit dan bersemayam di atas Arsy-Nya.

  1. Menggunakan Lafadz Allah subhanahu wa ta’ala dalam percakapan sehari-hari dengan anak didik merupakan cara efisien mengenalkan anak pada ma’rifatullah. Misalnya dalam memberikan pujian pada anak yang mau menjalankan shalat sendiri walaupun masih asal-asalan, ucapkanlah pada anak, “Subhanallah adik memang pinter dan rajin, Allah sangat suka dengan anak yang rajin.” Dan semisalnya. Hal ini akan mengenalkan dan mendekatkan anak pada sang pencipta.
  2. Perkenalkan nikmat Allah dan kasih sayang-Nya melalui fungsi organ tubuhnya. Sebagai contohnya ketika orang tua sedang bermain dengan anak cobalah untuk menyuruh anak kita berdiri dengan satu kaki, kemudian berjalan. Ketika anak tersebut kesulitan maka ucapkanlah pada anak tersebut. “Dik, Allah ternyata sangat sayang pada adik dengan dua kaki normal yang bisa berjalan. Coba kalau adik gak punya dua kaki, gak bisa jalankan?”
  3. Membiasakan mengajak anak berdoa pada Allah di setiap waktu. Seperti sebelum dan sehabis makan, beranjak tidur dan sesudahnya, ketika hendak safar dan lainnya. Hendaknya mengajari anak untuk menghafal asmaul husna sejak dini serta mempraktekkannya sebelum berdoa dalam keseharian kita.
  4. Menyediakan berbagai bacaan tentang mengenal Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Begitu juga menjauhkan anak dari bacaan dan tontonan yang bisa merusak aqidah anak.

Ada pelajaran penting dari nasihat Luqman kepada anaknya di dalam al Qur’an yang mulia.

“Ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezholiman yang besar.” (QS. Luqman: 13)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan dalam tafsirnya berkaitan dengan ayat ini. “Luqman berpesan kepada anaknya sebagai orang yang paling disayanginya dan paling berhak mendapatkan pemberian yang paling utama dari pengetahuannya (yaitu tentang tauhid), Oleh karena itu, dalam wasiat pertamanya berpesan agar tidak menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala dengan sesuatu apapun.”

Subhanallah… kalau kita renungkan nasihat ini sungguh sangat agung sekali. Kalimat yang pendek namun mengandung muatan ma’rifatullah yang begitu dalam. Sungguh, tak ada yang lebih utama dalam pendidikan anak melainkan mengenalkan anak pada Allah. Jika sejak dini anak-anak paham akan ma’rifatullah, Insya Allah  jika dewasa nanti akan melahirkan para mujahid dan dai ataupun dokter, insyinyur, arsitek bahkan presiden yang bertaqwa dan paham akan hak hak Allah dan Rasul-Nya. Wallahu a’lam bishowab.