MahajSalaf dan salafiyah adalah sebuah istilah yang cukup populer namun sering disalahpahami oleh sebagian orang.

Salaf secara bahasa artinya orang yang terdahulu, baik dari sisi ilmu, keimanan, keutamaan atau jasa kebaikan. Oleh karenanya maka generasi awal yang mengikuti para sahabat disebut dengan salafush sholih pendahulu yang baik.”

Dengan demikian, kita bisa serupakan makna kata “salaf” ini dengan istilah nenek moyang atau leluhur.

Dalam kamus Islam, kata ini bukan hal yang baru. Akan tetapi pada jaman Nabi, kata ini sudah dikenal. Seperti terdapat dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nabi berkata kepada putrinya Fathimah radhiyallohu ‘anha. Beliau bersabda, “Sesungguhnya sebaik-baik salafmu adalah aku.”

Oleh sebab itu, secara bahasa semua orang terdahulu adalah salaf. Baik yang jahat seperti Fir’aun, Qarun, Abu Jahal maupun yang baik seperti Nabi-Nabi, para syuhada dan orang-orang sholih dari kalangan sahabat.

Adapun yang akan kita bicarakan sekarang bukanlah makna bahasanya, akan tetapi makna istilah.

Apabila para ulama akidah membahas dan menyebut-nyebut kata salaf, maka yang mereka maksud adalah salah satu di antara 3 kemungkinan, yaitu Para Shahabat Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam, atau Shahabat dan murid-murid mereka yaitu para tabi’in, atau Shahabat, tabi’in dan juga para Imam yang telah diakui kredibilitasnya di dalam Islam, yaitu mereka yang senantiasa menghidupkan sunnah.

Adapun secara istilah, kata salaf berarti sebuah karakter yang melekat secara mutlak pada diri para sahabat radhiyallohu ‘anhum. dan para ulama sesudah mereka juga tercakup dalam istilah ini, karena sikap dan cara beragama mereka yang meneladani para sahabat.

Salaf adalah generasi awal umat ini, yaitu para sahabat, tabi’in dan para imam pembawa petunjuk pada tiga kurun yang mendapatkan keutamaan .

Adapun Salafush sholih adalah, generasi awal Islam yang mendalam ilmunya, serta meniti jalan Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam dan senantiasa menjaga Sunnah beliau. Alloh ta’ala telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya dan menegakkan agama-Nya. Para imam umat ini pun merasa ridho kepada mereka. Mereka telah berjihad di jalan Alloh dengan penuh kesungguhan. Mereka kerahkan daya upaya mereka untuk menasihati umat, dan memberikan kemanfaatan bagi mereka. Mereka juga mengorbankan diri demi menggapai keridhoan Alloh.

Sehingga Rasul beserta para sahabatnya adalah salaf umat ini. Demikian pula setiap orang yang menyerukan dakwah, mereka juga disebut sebagai orang yang menempuh manhaj salaf,

Adapun pembatasan istilah salaf hanya meliputi masa sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in adalah pembatasan yang keliru. Karena pada masa itupun sudah muncul tokoh-tokoh pelopor kesesatan. Akan tetapi kriteria yang benar adalah kesesuaian akidah, hukum dan perilaku mereka dengan Al-Quran dan As Sunnah serta pemahaman salafush sholih.

Oleh karena itulah siapapun orangnya, asalkan sesuai dengan ajaran Al-Quran dan As-Sunnah, maka berarti dia adalah pengikut salaf. Meskipun jarak dan masanya jauh dari periode Kenabian. Ini artinya, orang-orang yang semasa dengan Nabi dan sahabat, akan tetapi tidak beragama sebagaimana mereka, maka bukanlah termasuk golongan mereka, meskipun orang-orang itu sesuku atau bahkan saudara Nabi shallAllohu ‘alaihi wa sallam.

Kata salaf juga sering digunakan oleh Imam Bukhari di dalam kitab Shohihnya. Imam Bukhari rahimahullah mengatakan, “Rasyid bin Sa’ad berkata:, Para salaf menyukai kuda jantan, Karena ia lebih lincah dan lebih berani.”

Nah, Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah lalu menafsirkan kata salaf tersebut, ia mengatakan bahwa kata salaf yang dikatakan imam bukhori tersebut maksudnya adalah,  para sahabat dan orang sesudah mereka.”

Kata salaf juga digunakan oleh Imam Muslim di dalam kitab Shohihnya. Di dalam mukaddimahnya Imam Muslim mengeluarkan hadits dari jalur Ali bin Syaqiq, yang mengatakan:, ‘Aku mendengar Abdullah bin Mubarak mengatakan di hadapan orang banyak, “Tinggalkanlah hadits yang dibawakan ‘Amr bin Tsabit. Karena dia mencaci kaum salaf.” dan sebagian ulama mengatakan, Yang dimaksud salam yang dikatakan imam Muslim ini adalah para sahabat radhiyallohu ‘anhum.

Kata salaf juga sering dipakai oleh para ulama akidah di dalam kitab-kitab mereka. Seperti contohnya sebuah riwayat yang dibawakan oleh Imam Al Ajurri, di dalam kitabnya yang berjudul Asy Syari’ah, bahwa Imam Auza’i pernah berpesan, “Bersabarlah engkau di atas Sunnah. Bersikaplah sebagaimana kaum salaf bersikap. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan. Tahanlah dirimu sebagaimana sikap mereka menahan diri dari sesuatu. Dan titilah jalan salafmu yang sholih. Karena sesungguhnya sudah cukup bagimu apa yang membuat mereka cukup.”

Yang dimaksud kata salaf disini adalah sahabat ridhwanullahi ‘alaihim.”

Pembaca yang budiman, sedangkan yang dimaksud dengan salafiyah adalah, penyandaran diri kepada kaum salaf,

Sebgian ulama mengatakan, bahwa salafiyah adalah penisbatan diri kepada kaum salaf, ini merupakan penisbatan terpuji yang disandarkan kepada manhaj yang lurus, bukan malah menciptakan sebuah madzhab yang baru ada.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga mengatakan, bahwa tidaklah tercela bagi orang yang menampakkan diri sebagai pengikut madzhab salaf, menyandarkan diri kepadanya dan merasa mulia dengannya. Bahkan wajib menerima pengakuannya itu dengan dasar kesepakatan para ulama. Karena sesungguhnya madzhab salaf tidak lain adalah kebenaran itu sendiri.

Maka sungguh aneh apabila ada orang zaman sekarang, yang menggambarkan kepada umat bahwasanya salafiyah adalah sebuah aliran baru. Sehingga apabila mereka mendengar istilah salafiyah, maka yang tergambar di benak mereka adalah gerakan reformasi dakwah, Padahal ini semua menunjukkan, bahwa yang beranggapan seperti itu sebenarnya tidak paham tentang sejarah munculnya istilah salaf ini.

Orang yang mengeluarkan pernyataan semacam ini, atau yang turut menyebarkannya adalah, orang yang tidak mengerti sejarah kalimat ini menurut tinjauan makna, asal-usul dan perjalanan waktu yang hakikatnya tersambung dengan para salafush shalih.

Oleh karena itu, sudah menjadi kebiasaan para ulama pada masa terdahulu, untuk mensifati setiap orang yang mengikuti pemahaman sahabat radhiyallohu‘anhum dalam hal akidah dan manhaj sebagai seorang salafi yakni pengikut Salaf.

Pembaca yang dirahmati Alloh, demikianlah penjelasan singkat terkait Mengenal Manhaj Salaf, yang bisa kita kaji dalam Rubrik Manhaj edisi kali ini, semoga Alloh Subhanahu wata’ala senantiasa membimbing kita diatas kebenaran, dan istiqomah diatas manhaj salaf, Aamiin.

Wallohu’alam, Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokaatuh. (admin/fajrifm)

 

%d bloggers like this: