Sahabat, pada masa kini merebaknya aliran sesat di pelosok Nusantara sangat menjamur. Mereka berani mempopulerkan dan mendakwahkan secara terang-terangan keyakinan mereka yang sesat lagi menyesatkan. Ada di antara mereka yang lancang melontarkan pernyataan bahwa sumber hukum Islam cukup dengan al-Qur’an semata, hingga pada akhirnya, mereka menolak segala hukum aqidah,fikih, dan muamalah yang bersumber dari hadits Rosululloh  Mereka menolak adzan dan iqomah dalam sholat dengan dalih hal itu tidak terdapat dalam al-Qur’an. Menurut mereka kewajiban sholat dalam satu hari hanya dua waktu, yaitu di waktu pagi dan petang dengan alasan itulah yang diperintahkan dalam al-Qur’an.Mereka membolehkan mengenakan baju jas bukan baju ihrom pada saat menunaikan ibadah haji dengan dalih pakaian haji secara khusus tidak diatur di dalam al-Qur’an. Itulah beberapa pemahaman yang aneh dan sesat.

Selain itu sahabat. Ada juga di antara mereka yang memahami sumber agama Islam secara bebas berdasarkan hawa nafsu semata. Mereka tidak berpijak kepada kaidah-kaidah syar’i dalam memahami al-Qur’an dan as-Sunnah. Seperti halnya mereka mengatakan bahwa semua agama benar, bolehnya seorang berpindah agama kepada selain Islam, bolehnya berzina asal suka sama suka, bolehnya meninggalkan sholat asalkan masih ingat kepada Alloh dan pemahaman lain yang menyimpang.

Ada pula di antara mereka yang berani menolak al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai pedoman beragama. Sumber agama diambil dan dirujuk dari ucapan para imam yang mereka kultuskan. Praktek hal ini sebagaimana kaum Syi’ah yang menetapkan kawin mut’ah atau kontrak sebagai sarana mendekatkan diri kepada Alloh -st-.

Fenomena dan realita ini sungguh sangat membahayakan bagi kalangan umum umat Islam. Mereka yang tidak mengetahui metodelogi yang benar dalam menimba ilmu agama tentu akan terjerat oleh keyakinan dan ideologi sesat. Bahkan, bisa mengikuti aliran sesat tersebut dan mendukung seruannya secara totalitas. Bagi mereka yang mengetahui metodelogi mengambil ilmu dan standar kebenaran tentunya tidak mudah menerima ajaran agama yang sumbernya tidak benar. Ia pun akan selektif menerima ilmu. Apabila mendapatkan ilmu dan amalan yang selaras dengan al-Qur’an dan as-sunnah, niscaya diterima dengan lapang dada. Jika tidak, niscaya ditolak.

Nah, Agar seorang muslim mampu menolak berbagai virus aliran sesat, maka sangat dibutuhkan imunisasi berupa penguatan aqidah islam yang benar. Bentuk imunisasi itu, yaitu setiap orang muslim berkewajiban mengagungkan al-Qur’an dan as-Sunnah.

Sahabat yang budiman. Mengagungkan dan mengamalkan al-Qur’an dan as-Sunnah merupakan kunci terbesar bagi seorang hamba agar selamat dari virus kesesatan dan penyimpangan dalam beragama. Hal ini sebagaimana firman Alloh dalam al-Qur’an Surat Thoha ayat ke 123 yang berbunyi,

قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى

Alloh berfirman kepada Adam dan Hawa, “Turunlah kalian dari surga semuanya bersama Iblis, maka Iblis menjadi musuh kalian berdua. Jika datang kepada kalian petunjuk dari-Ku, maka ketahuilah barangsiapa mengikuti-Ku serta mengamalkannya, maka ia tidak akan tersesat di dunia, dan tidak akan celaka di akhirat..”

Sahabat Mengenai ayat tersebut, Ibnu Jarir ath-Thobari mengatakan bahwa Alloh berfirman kepada Adam dan Hawa, ‘Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kalian menjadi musuh bagi sebagian yang lain.’ Maksud ayat ini adalah kalian berdua musuh bagi iblis dan keturunannya. Begitupula iblis musuh bagi kalian berdua dan keturunan kalian berdua. Adapun firman-Nya, ‘Jika datang kepada kalian petunjuk dari-Ku’, maksudnya adalah Wahai Adam, Hawa, dan iblis jika datang kepada kalian petunjuk dari-Ku, maksudnya adalah penjelasan untuk meniti jalan yang lurus dan agama yang Alloh pilih untuk makhluknya.

Sedangkan Firman-Nya, ‘maka ketahuilah barangsiapa mengikuti-Ku serta mengamalkannya’, yaitu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku dan beramal dengannya, niscaya ia tidak akan menyimpang dari jalan Alloh -st-. Selanjutnya Firman-Nya, yang artinya ‘Tidak tersesat, maksudnya adalah yaitu tidak menyimpang dari kebenaran akan tetapi dia senantiasa dibimbing dan diberi petunjuk di dunia ini. Lalu Firman-Nya, ‘dan tidak akan celaka di akhirat’ yaitu tidak akan celaka di akhirat dengan siksa Alloh karena Alloh akan memasukannya kedalam surga dan menyelamatkannya dari siksa-Nya.

Sahabat yang dirahmati Alloh . Sesungguhnya dasar agama Islam yang telah diridhoi Alloh  untuk hamba-hamba-Nya yang Mukmin adalah berserah diri, tunduk secara totalitas, dan pasrah kepada-Nya. Sesungguhnya dasar agama Islam bukanlah menuruti atau menuhankan hawa nafsu. Bukan pula mengedepankan logika manusia. Bukan pula mengikuti nenek moyang atau adat istiadat. Bukan pula mengikuti pendapat guru atau kiai.

Berkaitan dengan ini, Alloh berfirman dalam al-Qur’an Surat az-Zumar ayat ke 54 yang berbunyi, a’udzu billahi minasyaithonirrojim;

( وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ

“Dan kembalilah kalian kepada Robb kalian, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepada kalian kemudian kalian tidak dapat ditolong lagi.”

Hakekat berserah diri adalah mengagungkan seluruh perintah dan larangan Alloh -st-, tunduk terhadap keduanya dan berhenti di depan batasan-batasan yang telah ditetapkan Alloh kepada Nabi-Nya Segala yang diperintahkan oleh Alloh , maka dikerjakan penuh dengan sukarela. Segala yang dilarang Alloh -st-, maka ditinggalkan dengan lapang dada. Segala yang ditetapkan oleh-Nya terkait dengan halal dan haram, maka tidak akan menambahi dan menguranginya walaupun seujung kukupun.

Sahabat . Oleh karena itu, Sifat orang beriman ketika di hadapannya terdapat perintah Alloh dan larangan-Nya adalah tidak pernah  menanyakan tentang alasan atau hikmah-Nya. Alasan atau hikmah sebuah perintah terkadang Alloh kabarkan secara jelas kepada manusia. Seperti larangan minum khomr karena merusak akal, larangan berzina karena merusak garis keturunan dan lain-lain. Di samping itu, ada pula alasan atau hikmah perintah maupun larangan Alloh dan Rosul-Nya yang tak dapat diungkap oleh manusia.

Orang-orang beriman senantiasa mendengar dan patuh terhadap ketetapan Alloh -st-  dan Rosul-Nya . Sebab mereka mengetahui bahwa yang demikian merupakan sebab memperoleh keberuntungan dan kemenangan. mMereka rela meninggalkan apa yang menjadi hobi dan kesukaan mereka, bahkan lebih dari itu merekapun bersedia menghentikan tradisi-tradisi yang membudaya di kalangan mereka yang tidak sesuai dengan syariat Alloh-st-. Maka sebagai seorang mu’min ketika datang seruan Alloh dan Rosul-Nya  adalah “Kami mendengar dan kami taat”. Hal ini sebagaimana firman Alloh dalam al-Qur’an Surat an-Nur ayat 51-52 yang berbunyi,

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ .  وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ

 “Sesungguhnya jawaban orang-orang Mukmin, jika diajak untuk berhukum kepada kitab Alloh dan hukum Rosul-Nya dalam perselisihan mereka. Mereka menerima hukum tersebut dan berkata “Kami mendengar, dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa yang taat kepada Alloh dan Rosul-Nya dan takut kepada Alloh dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.”

 Sahabat yang dirahmati Alloh , Termasuk bagian dari mengagungkan adalah mendahulukan al-Qur’an dan as-Sunnah dalam menetapkan dan memutuskan hukum serta tidak mengabaikan keduanya dengan mendahulukan ucapan seseorang, siapapun orang tersebut. Sikap orang yang beriman tidak mendahulukan ucapan ustadz, kiai, ajengan, habib atau siapapun di atas firman Alloh dan sabda Rosul-Nya . Hal ini sebagaimana firman Alloh dalam al-Qur’an Surat Al-Hujurot ayat ke 1 yang berbunyi;

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Alloh dan Rosul-Nya dan bertakwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”

Bahkan, Alloh meniadakan keimanan secara keseluruhan pada diri seseorang yang berpaling dari hukum Nabi dan tidak ridho terhadapnya, atau orang yang masih keberatan dalam hatinya terhadap hukum tersebut. Hal ini sebagaimana firman Alloh dalam al-Qur’an surat an-Nisa’ ayat ke 65 Alloh berfirman;

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Robbmu, mereka pada hakekat-nya tidak beriman, hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”

Sahabat yang dirahmati Alloh . Demikianlah pembahasan tentang mengagungkan al-Qur’an dan as-sunnah. Semoga Alloh   memberikan hidayah kepada kita semua untuk senantiasa menaati perintah Alloh dan Rosul-Nya . Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh. (red-fajri)