Oleh: Ust. Abdurrohim, Lc.

Alloh subhanahu wa ta’ala befirman:

 لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا  

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosululloh itu suri teladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Alloh dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Alloh.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21)

Di antara nikmat Alloh ta’ala yang terbesar kepada umat ini adalah diutusnya seorang Rosul yang menjadi murobbi umat yang mengajarkan mereka al-Qur’an dan al-hikmah, yang menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran, yang menghalalkan yang baik dan mengharamkan yang buruk, di mana sebelumnya umat ini berada dalam kesesatan yang nyata.

Rosululloh sholallohu alihi wasallam adalah murobbi sejati yang harus diteladani, meneladani Rosululloh sholallohu alihi wasallam adalah sebuah kemuliaan dan menyelisihi beliau adalah kehinaan yang nyata. Meneladani beliau sholallohu alihi wasallam adalah satu-satunya jalan menuju surga dan sebab meraih wajah Alloh subahanahu wa ta’ala di negeri akhirat.

Alloh ta’ala berfirman:

 يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ اتَّقِ اللَّهَ وَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا  

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosululloh itu suri teladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Alloh dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Alloh.” (QS. Al-Ahzab [33]: 1)

Ayat yang mulia ini menunjukkan kemuliaan dan keutamaan besar meneladani Rosululloh sholallohu alihi wasallam, karena Alloh azza wa jalla sendiri yang menyebutkan semua perbuatan Rosululloh sholallohu alihi wasallam sebagai “teladan yang baik”, yang ini menunjukkan bahwa orang yang meneladani Rosululloh sholallohu alihi wasallam berarti dia telah menempuh jalan yang lurus yang akan membawanya mendapatkan kemuliaan dan rahmat Alloh subhanahu wa ta’ala.

Ketika menafsirkan ayat ini, Imam Ibnu Katsir rohimahulloh berkata: “Ayat yang mulia ini merupakan landasan yang agung dalam meneladani Rosululloh sholallohu alihi wasallam dalam semua ucapan, perbuatan dan akhlak beliau.”

Kemudian firman Alloh ta’ala di akhir ayat ini mengisyaratkan adanya keterikatan antara meneladani Rosululloh sholallohu alihi wasallam dengan kesempurnaan iman kepada Alloh azza wa jalla dan hari akhir, yang ini berarti bahwa semangat dan kesungguhan seorang Muslim untuk meneladani Rosululloh sholallohu alihi wasallam merupakan tanda kesempurnaan imannya.

Meneladani Rosululloh sholallohu alihi wasallam adalah bukti kecintaan kepada Alloh subhanahu wa ta’ala dan sekaligus cinta kepada Rosul-Nya. Alloh ta’ala menyangkal dengan keras bagi setiap yang mengaku-ngaku mencintai Alloh tetapi tidak meneladani Rosululloh sholallohu alihi wasallam. Sebagaimana Alloh ta’ala berfirman:

 قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ  

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Alloh, ikutilah aku, niscaya Alloh mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imron [3]: 31)

Imam Hasan al-Bashri rohimahulloh berkata: suatu kaum yang mengaku mencintai Alloh subhanahu wa ta’ala, maka Alloh uji dengan ayat ini atas kesungguhan cinta mereka.

Imam al-Qodhi ‘Iyadh rohimahulloh berkata: ‘Ketahuilah bahwa barangsiapa yang mencintai sesuatu, maka dia akan berusaha meneladaninya. Kalau tidak demikian, berarti dia tidak dianggap benar dalam kecintaannya dan hanya mengaku-aku (tanpa bukti nyata). Maka orang yang benar dalam (pengakuan) mencintai Rosululloh sholallohu alihi wasallam adalah jika terlihat tanda (bukti) kecintaan tersebut pada dirinya. Tanda (bukti) cinta kepada Rosululloh sholallohu alihi wasallam yang utama adalah (dengan) meneladani beliau, mengamalkan sunnahnya, mengikuti semua ucapan dan perbuatannya, melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangannya, serta menghiasi diri dengan adab-adab (etika) yang beliau (contohkan), dalam keadaan susah maupun senang dan lapang maupun sempit.’

Termasuk cakupan dalam meneladani Rosululloh sholallohu alihi wasallam adalah aspek dakwah. Kita sebagai orang yang beriman hendaknya memahami dan mengetahui bagaimana sifat dakwah Rosululloh sholallohu alihi wasallam. Fungsi memahami sifat dakwah Rosululloh sholallohu alihi wasallam sangat besar. Dengannya akan mengantarkan kita kepada sikap yang bijak dan tepat dalam berdakwah, serta menjauhi sikap arogansi dan narsis dalam menyebarkan risalah Islam.

Berikut ini beberapa contoh sikap dakwah Rosululloh sholallohu alihi wasallam menghadapi objek dakwah yang wajib kita teladani;

1. Sikap lemah lembut Rosululloh sholallohu alihi wasallam terhadap orang yang kencing di masjid.

Diriwayatkan dair Anas rodhiallohu anhu, ia berkata: “Ketika kami sedang berada di masjid bersama Rosululloh tiba-tiba dating seorang Arab Badui, kemudian masuk masjid dan kencing di dalamnya, seketika itu para sahabat menhardiknya seraya berkata: “Biarkan ia jangan kalian putus kencingnya!”, akhirnya mereka membiarkan orang tersebut menyelesaikan kencingnya, setelah itu Rosululloh memanggilnya dan bersabda kepadanya, “Sesungguhnya masjid ini tidak layak sedikitpun dikencingi dan dikotori, sesungguhnya masjid ini hanya untuk dzikir kepada Alloh, sholat, dan untuk membaca al-Qur’an.” Kemudian Rosululloh sholallohu alihi wasallam menyuruh salah seorang sahabatnya mengambil seember air dan menyiramkannya ke tempat kencing orang tersebut.” (HR. al-Bukhori)

2. Kesabaran Beliau sholallohu alihi wasallam menghadapi penduduk Thoif

Rosululloh sholallohu alihi wasallam tinggal di Thoif selama sepuluh hari, Beliau tidak meninggalkan seorangpun dari tokoh dan pembesar negeri itu kecuali didakwahinya kepada Islam, tetapi mereka menjawab: “Keluarlah dari negeri kami!”, bahkan mereka menyuruh anak-anak dan orang-orang yang bodoh di antara mereka agar menghina dan mencaci maki Beliau. Ketika Beliau hendak keluar dari negeri itu, Beliau sholallohu alihi wasallam diikuti oleh orang-orang dungu penduduk negeri itu, mereka mengelilingi Rosululloh sholallohu alihi wasallam dalam dua barisan, kemudian mereka melempari Beliau dengan batu dan mencemoohnya dengan kata-kata yang tidak sopan dan menyakitkan, mereka melempari kedua urat di atas tumitnya dengan batu hingga kedua sandalnya terlumuri oleh darah. Zaid bin Haritsah melindungi Beliau dengan dirinya hingga kepalanya terluka oleh lemparan batu mereka. Kemudian Rosululloh sholallohu alihi wasallam kembali ke Makkah dengan kesedihan yang dalam dan hati yang berkeping-keping. Di tengah jalan yang menuju Makkah, Alloh ta’ala mengutus JIbril bersama malaikat gunung yang menawarkan kepada Beliau agar diizinkan mengangkat dua gunung yang mengapit negeri Thoif kemudian melemparkannya ke negeri Thoif yang menyiksa dan menganiayanya. (Lihat: Rahiqul Mahtum hal, 122)

3.Sikap bijak beliau terhadap seseorang yang minta izin untuk zina

Diriwayatkan dari Abu Umamah rohimahulloh, ia berkata: Ada seorang pemuda menemui Nabi sholallohu alihi wasallam seraya berkata, “Wahai Rosululloh, izinkan aku melakukan zina; seketika itu kaum yang ada di sisi Rosululloh menghardiknya seraya berkata: “Enyahlah kamu dari sini, kemudian Rosululloh sholallohu alihi wasallam bersabda:”Dekatkanlah dia kepadaku, kemudian pemuda itu lebih mendekat kepada Rosul, kemudian beliau bersabda kepadanya: “Apakah kamu senang jika orang lain melakukannya kepada ibumu?”, dia menjawab: “Demi Alloh, tidak, semoga Alloh menjadikanku sebagai tebusanmu ya Rosul, kemudian Beliau bersabda lagi: “Apakah kamu senang jika orang lain melakukannya terhadap anak perempuanmu?”, dia menjawab: “Demi Alloh, tidak, semoga Alloh menjadikanku tebusanmu.” Beliau bersabda: “Demikian juga orang lain tidak senang kalau anak perempuannya dizinahi.” Beliau bersabda lagi: “Apakah kamu senang jika orang lain melakukannya terhadap saudarimu?”, dia menjawab: “Demi Alloh, tidak, semoga Alloh menjadikanku sebagai tebusanmu.” Beliau bersabda: “Demikian juga orang lain tidak rela kalau saudarinya dizinahi.” Beliau bersabda lagi, “Apa kamu senang jika orang lain melakukannya, terhadap bibimu?”, dia menjawab, “Demi Alloh, tidak, semoga Alloh menjadikanku sebagai tebusanmu.” Beliau bersabda: “Demikian juga orang lain tidak rela jika bibinya dizinahi.” (HR. Ahmad)

Demikianlah tiga contoh Rosululloh sholallohu alihi wasallam menghadapi objek dakwah yang harus kita jadikan sebagai pedoman. Tentunya masih banyak sekali bagaimana sikap Rosululloh sholallohu alihi wasallam menghadapi objek dakwah. Galilah dan pahamilah sepak terjang dakwah Rosululloh sholallohu alihi wasallam, niscaya kita akan menuai kesuksesan dalam berdakwah.


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05