Salah satu kaidah dalam Islam yang tergolong penting adalah ittiba’ kepada salafuash-sholih dalam memahami, menafsiri, mengimani serta menetapkan sifat-sifat Ilahiyah, tanpa takyif yakni bertanya atau menetapkan hakikat bagaimananya, dan tanpa ta’wil yaitu membuat perubahan lafadz atau maknanya, juga dalam menetapkan persoalan-persoalan aqidah lainnya, dan menjadikan generasi pertama sebagai panutan dalam berpikir maupun beramal.

Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa pertama kali kita harus berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Hadits, selanjutnya berqudwah yakni mengikuti jejak dan mengambil suri teladan kepada para shahabat nabi, sebab di tengah-tengah merekalah wahyu turun. Dengan demikian, para shahabat adalah orang-orang yang paling memahami tafsir Al-Qur’an, dan lebih mengerti tentang ta’wil atau tafsir Al-Qur’an dibandingkan dengan generasi-generasi berikutnya. Mereka satu dalam hal ushuluddin, tidak berselisih mengenainya, dan tidak terlahir dari mereka hawa nafsu-hawa nafsu dan kemaksiatan.

Dan dari sinilah lahir ciri yang dominan pada pengikut manhaj salafus sholih. yakni mereka adalah adalah ahlul hadits, para ulama penghafal  hadits, para perawi, serta para alim hadits yang ittiba’ pada atsar. demikian pula lah jalan kaum mukminin yang benar.

Jadi, para sahabat yang mulia berbeda dengan kaum ahlul kalam, sebab mereka adalah pengikut manhaj salafus sholih, selalu memulai dengan syara’. Al-Quran dan sunnah, selanjutnya mereka sibuk dalam memahami serta merenungi dalil-dalil Al-Qur’an dan sunnah tersebut.

Dan pengikut Manhaj salafus sholih menjadikan akal tunduk kepada Kitab Alloh dan sunnah Rasul-Nya . Dari sini kita dapat kesimpulan bahwa akal yang sehat tidak mungkin bertentangan dengan dalil yang shohih. Apabila terjadi pertentangan, maka dalil yang shohih harus didahulukan atas akal, sebab dalil-dalil Al-Qur’an bersifat ma’shum atau terjaga dari kesalahan, dan dalil-dalil sunnah juga bersifat ma’shum, yaitu terjaga dari hawa nafsu.

Oleh karena itu sikap mendahulukan Al-Qur’an dan Sunnah atas akal, bagi kaum salafus sholih merupakan pemelihara dari perselisihan serta kekacauan dalam aqidah dan agama.

Sesuatu yang masuk akal menurut manhaj salafus sholih adalah sesuatu yang sesuai dengan Al Quran dan Assunnah, sedangkan sesuatu yang tidak masuk akal adalah sesuatu yang menyalahi Al-Qur’an dan Sunnah. Petunjuk atau hidayah pun merupakan sesuatu yang selaras dengan manhaj sahabat, dan tidak ada jalan lain untuk mengenali petunjuk serta pola-pola shahabat, melainkan atsar-atsar tersebut.

Dan prinsip-prinsip aqidah bagi pengikut manhaj salafus sholeh pun nampak jelas pada keimanannya terhadap sifat-sifat dan Nama-nama Alloh  tanpa membuat penambahan, pengurangan,

ta’wil yang menyalahi zhohir dalil, dan tanpa membuat penyerupaan dengan sifat-sifat mahluk, tetapi membiarkannya sesuai dengan apa yang dinyatakan dalam Al Quran serta sunnah Nabi   . Sedangkan kaifiyah atau hakikat bagaimananya, mereka kembalikan kepada Dzat yang telah memfirmankannya sendiri, yaitu Alloh .

Melalui konteks ini kita mesti paham cara-cara salafussholih dalam menjadikan akal tunduk kepada dalil, baik dalil itu berupa ayat Al-Qur’an maupun berupa hadis Rasululloh , bukan sebaliknya. lebih mendahulukan akal daripada dalil, Sedangkan dalil mereka ta’wil kan hingga sesuai dengan akal.

Tentu saja hal ini berarti memaksakan dalil agar sesuai tuntutan akal. Padahal mestinya hukum-hukum akal-lah yang wajib diserahkan keputusannya kepada dalil-dalil Al Quran maupun hadis. Jadi, apa saja yang ditetapkan oleh Al-Qur’an dan hadis, kitapun harus menetapkannya. Sedangkan apa saja yang dikesampingkan oleh keduanya, kitapun harus menolaknya.

Sesungguhnya Pembaca, ta’wil menurut kaum ahlu kalam dan kaum filosofis pada umumnya mengandung tuntutan untuk menjadikan akal sebagai sumber syara’, mendahului dalil-dalil Al-Qur’an dan hadis. Oleh karena itu, jika terlihat ada pertentangan antara dalil dengan akal, maka mereka akan mendahulukan akal, dan akan segera bergegas melakukan ta’wil terhadap dalil tersebut, hingga sesuai dengan tuntutan akal. Akan tetapi manhaj salaf tidak demikian, melainkan syara’ lebih didahulukan dan akal mengikut kepada syara’.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah menyebutkan, bahwa kaum salafus sholih menyerahkan hukum kepada ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi . Mereka merasa cukup dengan dalil tersebut. Mereka jadikan pemahaman-pemahaman akalnya patuh pada dalil itu, sebab “akal” menurut Al Quran dan hadis Nabi   adalah sesuatu yang bisa ada jika ada pemiliknya. “Akal” bukanlah dzat yang bisa berdiri sendiri seperti anggapan kaum filosof.

Akal tidak mampu meliputi kenyataan-kenyataan yang dijelaskan oleh Al Quran maupun hadis Rasululloh . Bahkan akalpun tidak kuasa untuk meliputi segenap hakikat alam kongkrit yang telah ditemukan berdasarkan penemuan-penemuan ilmiah akal itu sendiri. Maka bagaimana mungkin akal akan dapat menjangkau kenyataan alam ghaib ?.

Oleh sebab itulah wajib hukumnya untuk pasrah kepada dalil Al-Qur’an dan hadis. Wajib mengimani segala apa yang dinyatakan di dalam Al-Qur’an dan hadis, baik yang menyangkut alam ghaib maupun alam nyata.

Lebih khusus lagi ayat-ayat yang menyangkut sifat-sifat Ilahiyah, maka kita wajib mengimaninya tanpa ta’wil atau mengubah makna maupun lafalnya, dan tanpa ta’thil yakni menolak hakikatnya atau menafikannya.

Demikianlah penjelasan singkat terkait anjuran untuk mendahululkan syara atas akal, yang bisa kita kaji dalam Rubrik manhaj edisi kali ini, hal ini bukanlah Islam mengesampingkan akal dan tidak memuliakan akal, melainkan ada sisi keutamaan dan kelemahan dalam hal ini yang harus kita pahami, semoga Alloh   memberikankita pemahaman yang benar kepada kita dalam memahami ilmu-ilmunya, Aamiin. Wallohu a’lam, Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokaatuh.

 

 

%d bloggers like this: