Oleh: Nurdin Sahid W., S.Pd.I

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ (12)  ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ (13)  ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ (14)

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu, Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal daging, dan segumpal daging itu, Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maha Sucilah Alloh, Pencipta Yang Paling Baik.” (QS. Al-Mu’minun [23]: 12-14)

Anak merupakan anugerah besar bagi pasangan suami istri. Dengan kehadiran sang buah hati, lengkaplah sudah struktur organisasi dalam keluarga. Sang ayah berperan sebagai imam sekaligus nahkoda bagi bahtera rumah tangga. Ibu sebagai madrosatul ula (sekolah pertama) bagi keluarga dan anak-anak. Serta anak sebagai peserta didik yang dibina dan dididik agar tumbuh menjadi pribadi yang soleh dan solehah. Begitulah cerminan keluarga ideal yang pastinya sangat didambakan oleh setiap pasangan suami istri.

Namun sebelum melangkah ke arah sana, terlebih dahulu harus melewati sebuah fase yang tak kalah penting untuk senantiasa diperhatikan oleh setiap keluarga, yaitu fase “kehamilan”. Fase ini pasti terjadi dalam proses kehidupan manusia. Tidak mungkin seorang anak lahir ke dunia tanpa ada proses kehamilan pada seorang wanita (ibu). Karena Alloh subhanahu wa ta’ala telah mengatur semuanya dengan sangat baik dan sempurna.

Saat Si Kecil Dalam Kandungan

Setiap orang tua tentu menginginkan anaknya lahir dalam keadaan sempurna. Segala upaya dikerahkan untuk mewujudkan keinginan tersebut. Tentu tidak patut dilupakan sisi-sisi penjagaan dan pendidikan yang telah diajarkan oleh Alloh subhanahu wa ta’ala dan Rosul-Nya. Bahkan dengan inilah orang tua akan mewujudkan kemuliaan bagi anak dan bagi diri mereka.

Biasanya, standar ‘kesempurnaan’ bagi keumuman orang dilihat dari satu sisi saja, yaitu kesehatan jasmani. Mereka sangat antusias berkonsultasi dengan ahli kandungan, mengkonsumsi makanan bergizi, melakukan ritual-ritual tertentu, bahkan tak jarang melakukan hal-hal yang tidak mendasar sama sekali. Tujuan mereka satu, agar sang jabang bayi selalu dalam keadaan sehat, baik ketika masih di dalam kandungan maupun sesudah lahir ke dunia.

Namun mereka lupa bahwa segalanya adalah atas kehendak Alloh azza wa jalla. Bukankah Alloh yang menakdirkan seorang ibu mengandung? Bukankah Alloh yang memberi makhluk bernyawa dalam rahim sang ibu? Lantas, kenapa mereka tidak meminta kesehatan dan kebaikan kepada Alloh ta’ala?

“Jangan su’uzhon dulu,” bantah sang ibu, “Buktinya mereka masih mengerjakan sholat 5 waktu, berdoa setiap hari dan tentunya mengerjakan amal-amal sholeh lainnya. Itu bukti bahwa sebetulnya mereka tidak ketinggalan untuk selalu bermunajat kepada Alloh agar diberikan kebaikan selama proses kehamilan berlangsung.”

Jika memang betul demikian, selayaknya kita patut bersyukur. Karena di zaman ini, banyak muncul pemahaman-pemahaman baru, baik dari luar maupun dari dalam yang berusaha untuk mengaburkan kemurnian Islam.

Akan tetapi ketahuilah wahai ibu tercinta, bahwa ajaran Islam tidak bisa disamakan dengan ajaran lain di luar Islam. Islam ya Islam, sebuah dien yang mengajarkan kita untuk berserah diri sepenuhnya kepada Alloh subhanahu wa ta’ala dengan mengikuti manhaj Rosululloh sholallohu alaihi wasallam. Itu artinya, jika dikaitkan dengan masalah kehamilan, maka sesungguhnya Islam telah mengajarkan dengan tuntas perihal sikap kita terhadap kehamilan itu sendiri. Hal ini bisa kita lihat dalam sunnah Rosululloh sholallohu alaihi wasallam. Di sana kita dapati bimbingan yang sempurna untuk kita terapkan dalam mendidik anak. Bahkan sebelum hadir sosok mungil itu pun Islam telah memberikan tuntunan penjagaan. Tuntunan itu secara runtut didapat hingga saat melepas anak menuju kedewasaan.

Intinya, bukan hanya sekedar makanan atau minuman yang dapat mempengaruhi perkembangan jasmani dan ruhani seorang janin dalam rahim, akan tetapi sisi psikologis dan kejiwaan seorang ibu yang akan memberi efek positif atau negatif terhadap pertumbuhan jasmani dan ruhani janin yang dikandungnya. Oleh karena itu, seorang ibu hamil harus sangat berhati-hati dalam bersikap pada masa kehamilan. Perilaku seorang ibu hamil sedikit banyak akan memberikan efek terhadap janin dalam membentuk kepribadiannya di masa mendatang. Jika seorang ibu hamil berbuat tercela (dosa), secara tidak langsung ia telah mengotori janinnya. Sebaliknya jika melakukan kebaikan berarti ia telah menjaga kesucian janinnya dari dampak buruk perbuatan maksiat, dan ini akan mempermudah mendidiknya menjadi anak yang sehat jasmani dan ruhani. Singkatnya, ia akan menjadi anak yang sholeh sebagai perhiasan bagi kedua orang tua baik di dunia maupun di akhirat.

Berusahalah mendekatkan diri kepada Alloh. Hal ini dapat dilakukan melalui dzikir, berdo’a, dan membaca al-Qur’an dengan memahami artinya akan lebih bagus. Jika terbesit dalam dirinya untuk melakukan dosa maka sadarlah bahwa sekarang ia tidak sendiri lagi, ada jiwa lain yang selalu menyertainya. Ada makhluk lain yang akan menjadi harapannya, perilaku baik dan buruknya akan berpengaruh dalam membentuk kepribadiannya di masa mendatang. Jika seorang ibu hamil selalu berpikiran seperti ini maka ia akan selalu berusaha menjaga segala tindak tanduknya, karena manusia mana yang mengharapkan bagian jiwanya terlahir dalam keadaan cacat jasmani maupun ruhani.

Agar semakin menguatkan keyakinan kita terhadap efek luar biasa atas perilaku Islami selama masa kehamilan, simaklah apa yang dilakukan para shalafus sholeh dalam mempersiapkan generasi terbaik umat ini sejak masa pra lahir. Kita akan melihat pengaruh luar biasa dari sosok orang-orang sholeh tersebut, sehingga ini menjadi inspirasi untuk kita dalam menjalani proses kehamilan.

Telah kita ketahui bersama, tindak-tanduk orang tua akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan sang buah hati. Jika kedua orang tua senantiasa menjaga keta’atan kepada Alloh, maka secara tidak langsung, kita telah mendidik anak dalam kandungan untuk ta’at pula kepada Alloh. Tetapi sebaliknya, jika perilaku kita penuh dengan kemaksiatan, maka kecil kemungkinan anak tersebut akan menjadi anak yang baik.

Berikut ini adalah kisah salah seorang sahabat yang mulia, Abu Tholhah rodhiallohu anhu bersama istrinya. Pasangan ini patut menjadi contoh untuk kita, karena mereka senantiasa menjaga keta’atannya kepada Alloh  subhanahu wa ta’ala.

Suatu saat Abu Tholhah rodhiallohu anhu keluar dari rumahnya, sementara putranya di rumah sedang sakit lalu meninggal dunia. Ketika beliau kembali, istrinya tidak memberitahukan hal tersebut. Istrinya tidak menampakkan tanda-tanda kesedihan sedikitpun, bahkan ia berhias dan menyiapkan makan malam untuknya. Selesai makan malam, mereka melakukan hubungan suami-istri.

Setelah selesai, istrinya memberitahu ia tentang kematian putranya dengan cara yang cerdas dan penuh keimanan. Mereka pergi dan memberitahukan hal tersebut kepada Rosululloh sholallohu alaihi wasallam, lalu beliau mendoakan keberkahan pada hubungan mereka berdua. “Semoga Alloh memberkahi malam kalian berdua.”

Setelah itu, ia melahirkan seorang anak yang Rosululloh sholallohu alaihi wasallam memberinya nama “Abdulloh”. Termasuk barokah doa Rosululloh sholallohu alaihi wasallam, dia dewasa dan menikah kemudian dikaruniai oleh Alloh sholallohu alaihi wasallam sembilan orang anak dan semuanya hafal Al-Qur’an. Kisah selengkapnya dapat dilihat dalam Shohih Bukhori.

Demikianlah sosok sahabat mulia, Abu Tholhah rodhiallohu anhu yang patut kita jadikan teladan mulia dalam bersikap. Ketakwaan dan keimanannya kepada Alloh subhanahu wa ta’ala membuahkan hasil yang luar biasa. Mempunyai keturunan yang semuanya hafal Al-Qur’an. Menjadi anak-anak yang ta’at kepada Alloh subhanahu wa ta’ala dan juga berbakti kepada kedua orang tuanya.

Inilah gambaran yang dimaksud. Orang tua yang sholeh dan sholehah, akan berimbas kepada janin yang dikandung. Mungkin salah satu penyebab mengapa korupsi di tanah air kita sulit untuk diberantas dikarenakan makanan yang diberikan kepada janin berasal dari hasil korupsi, baik itu korupsi kelas teri maupun kelas kakap. Bapaknya korupsi akhirnya anaknya pun korupsi. Jiwa korupsi telah menyatu dalam jiwa si anak, sehingga nuraninya telah tertutup untuk merasakan kepedihan rakyat yang hartanya telah dikorupsi.

Semoga Alloh ta’ala senantiasa memberikan kemudahan kepada para ibu yang sedang mengandung serta memberikan pahala kepada mereka karena komitmennya dalam menjalankan nilai-nilai keislaman selama proses kehamilan berlangsung. Tak lupa juga, semoga Alloh subhanahu wa ta’ala memberikan kemudahan dalam proses persalinannya, sehingga selamatlah sang buah hati dan tentunya sosok yang melahirkan, yaitu sang ibu.

Allohuta’ala A’lam

Artikel: Gerimis


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05