Oleh : Ust. Ali Maulida, M.Pd.I

Sikap istiqomah tentunya bukan perkara yang mudah, kecuali bagi mereka yang mendapat rahmat dari Alloh subhanahu wa ta’ala.

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Robb-ku.” (QS. Yusuf [12]: 53)

Istiqomah berarti menahan jiwa agar tetap berada di jalan Alloh ta’ala, tidak goyah dalam menghadapi godaan setan yang selalu menjerumuskan, dan teguh dalam menahan goncangan jiwa yang seringkali terbawa arus hawa nafsu.

Sikap istiqomah adalah sebuah perjuangan (jihad) tersendiri. Perjuangan yang tidaklah ringan, dengan mengerahkan segenap upaya dalam mengekang jiwa yang memiliki karakter-karakter yang melekat pada diri, seperti; zholim yang mendorong seseorang cenderung pada kemaksiatan, bodoh yang menjadikannya sering terjatuh pada berbagai kesalahan.

 Terkait karakteristik jiwa manusia, Alloh ta’ala berfirman:

إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

“Manusia itu sangat zholim dan sangat bodoh.” (QS. Al-Ahzab [33]: 72)

 وَكَانَ الإنْسَانُ عَجُولا

“Manusia itu bersifat tergesa-gesa” (QS. Al-Isro’ [17]: 11)

Manusia itu diciptakan dengan memiliki dua unsur; unsur bumi berupa tanah, dan unsur langit berupa ruh. Unsur tanah selalu mendorong manusia ke bumi, posisi yang rendah. Adapun unsur langit cenderung menarik manusia ke atas, posisi yang tinggi.

Manusia sebagai makhluk yang diberi akal, sekaligus syahwat (hawa nafsu keinginan berbagai hal duniawi) harus menggunakan akalnya untuk berfikir dengan benar. Di saat yang sama ia harus mengekang syahwatnya untuk tidak terjatuh pada perbuatan nista.

Perenungan (tadabbur) akan ayat-ayat Alloh subhanahu wa ta’ala di dalam al-Qur’an, dan tanda-tanda kekuasaan-Nya di alam semesta adalah agenda rutin yang harus dilakukan. Dengannya seorang muslim akan merasakan manisnya iman. Rasa syukur yang mendalam kepada-Nya akan selalu memenuhi jiwanya dan mewarnai kehidupannya. Liarnya gejolak hawa nafsu pun akan mudah ia lakukan.

Inilah karakter ulul albab (orang-orang yang berakal). Mari kita telaah beberapa karakter mereka sebagaimana termaktub dalam firman Alloh (Lihat: QS. Ali ‘Imron [3]: 190-194).

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Alloh sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring”.

Artinya, mereka tidak memutus (senantiasa) mengingat Alloh dalam segala keadaan, baik dalam kesendirian mereka, dalam kalbu maupun dalam lisan-lisan mereka. Setiap waktu dan keadaan mereka tak pernah luput dari dzikrulloh. Selain itu, mereka juga senantiasa memikirkan tanda-tanda kekuasaan Alloh di alam semesta. Penciptaan bermilyar makhluk dengan sistem yang sangat sempurna, menunjukkan ke-maha sempurnaan Sang Pencipta.

وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“Mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi”.

Dengan tadabbur ini, Alloh ta’ala menambah hidayah demi hidayah kepada mereka berupa keteguhan iman dan kesadaran akan hakikat kehidupan dunia ini.

رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“(Mereka berkata): “Ya Robb kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka lindungilah kami dari siksa neraka”. (QS. Ali ‘Imron [3]: 191).

Imam Ibnu Katsir rohimahulloh menjelaskan ayat tersebut: “Mereka memahami hikmah-hikmah yang menunjukkan keagungan Al-Kholiq, juga kekuasaan, ilmu, kebijaksanaan, kehendak dan kasih sayang-Nya”.

Hal inilah yang mewarnai kehidupan para ulama. Diriwayatkan bahwa Syaikh Abu Sulaiman Ad-Daroni rohimahulloh pernah berkata: “Setiap kali aku keluar dari rumahku, apapun yang dilihat oleh pandanganku, pasti padanya aku saksikan adanya nikmat Alloh atasku, atau sebuah ibroh (pelajaran) untukku”. Hasan Al-Bashri rohimahulloh menggambarkan pentingnya senantiasa berfikir dengan benar dalam wasiatnya: “Tafakkur (berfikir dan merenung) adalah laksana cermin yang memperlihatkan kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukanmu”. (Lihat: Tafsir Ibnu Katsir pada ayat tersebut).

Berfikirlah, dan Taklukan Hawa Nafsumu..

Mereka yang menggunakan akalnya dengan benar sesuai fungsinya, dengan mengikuti petunjuk wahyu baik Al-Qur’an maupun hadits Rosululloh sholallohu alaihi wasallam, tentu akan mendapat jalan hidup yang terang benderang. Lika-liku kehidupan yang dipenuhi dengan beragam kondisi akan disikapinya dengan benar. Termasuk tentunya dalam mengekang hawa nafsu insani yang tak mungkin terlepas darinya sebagai manusia biasa.

Apakah pantas seorang manusia yang lemah, yang segala sesuatu pada dirinya adalah pemberian dari Alloh subhanahu wa ta’ala, lalu ia bermaksiat kepada-Nya..?

Bukankah sudah banyak rezeki dari-Nya yang telah kita terima dan nikmati yang tak mungkin dapat kita hitung dan kalkulasi. Lalu apa alasan kita mendurhakai-Nya, melanggar larangan-larangan-Nya dan tidak menjalankan perintah-Nya..?

Segala fasilitas kehidupan yang telah Alloh ta’ala sediakan dan telah kita manfaatkan, bukankah semua itu akan ditanyakan kepada kita, dari mana kita dapatkan, dan digunakan untuk apa saja..? Mampukah kita menjawab setiap pertanyaan di padang Mahsyar nanti atas segala perilaku yang kita jalani?

Tentu masih banyak lagi pertanyaan sebagai bentuk monolog yang harus kita tanyakan kepada diri kita. Dengan harapan, buasnya hawa nafsu dapat kita lakukan.


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05