Oleh: Zainal Arifin, Lc.

Ketika datang suatu masa dimana sang pemuda dan pemudi telah saling cocok untuk memilih pasangannya, sehingga ingin melanjutkan prosesnya menuju pernikahan, Islam mensyari’atkan adanya mahar atau maskawin sebagai syarat sahnya suatu pernikahan.

Alloh ta’ala berfirman :

 وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً

“Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.” (QS.an-Nisa’ [4]: 4)

Mahar merupakan pemberian seorang laki-laki kepada perempuan yang dinikahinya, yang selanjutnya akan menjadi hak milik istri secara penuh. Dalam praktiknya tidak ada batasan khusus mengenai besarnya mahar dalam pernikahan. Rosululloh sholallohu alaihi wasallam sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qoyyim rohimahulloh dalam kitabnya Zaadul Maad, memberi mahar untuk istri-istrinya sebanyak 12 uqiyah emas (setara dengan Rp 195.360.000).

Di dalam suatu kisah, Rosululloh sholallohu alaihi wasallam pernah menikahkan putrinya Fatimah rodhiallohu anha dengan Ali rodhiallohu anhu dengan mahar baju besi miliknya. Diriwayatkan Ibnu Abbas, “Setelah Ali menikahi Fatimah, Rosululloh sholallohu alaihi wasallam berkata kepadanya, “Berikanlah sesuatu kepadanya.” Ali menjawab, “Aku tidak mempunyai sesuatu pun.” Maka beliau bersabda, “Dimana baju besimu? Berikanlah baju besimu itu kepadanya.” Maka Ali pun memberikan baju besinya kepada Fatimah. (HR Abu Dawud dan Nasa’i).

Bahkan ketika seorang laki-laki tidak memiliki sesuatu berupa harta yang dapat diberikan sebagai mahar, Rosululloh sholallohu alaihi wasallam tidak menolak untuk menikahkannya dengan mahar beberapa surat dalam Al-Qur’an yang dihafalnya. Jadi, dapat disimpulkan bahwa tidak ada batasan tentang bentuk dan besarnya mahar, tetapi yang disunnahkan adalah mahar itu disesuaikan dengan kemampuan pihak calon suami.

Seorang calon istri sholihah, tentu memilih mahar yang terbaik kepada calon suaminya dengan mahar yang mudah dan murah baginya, karena di dalam mahar yang murah dan mudah itu terdapat keberkahan dalam suatu pernikahan. Sebagaimana Rosululloh sholallohu alaihi wasallam bersabda dalam hadits yang di riwayatkan oleh ‘Aisyah rodhiallohu anha:

“Nikah yang paling besar barokahnya itu adalah yang murah maharnya” (HR. Ahmad)

Adapun memahalkan mahar merupakan perbuatan tercela, fakta membuktikan bahwa memahalkan mahar sangat berdampak negatif, lihatlah betapa banyak kaum lelaki dan wanita yang tertunda pernikahannya disebabkan ini semua! Bahkan kita melihat lelaki bekerja bertahun-tahun lamanya, tertunda menikah disebabkan belum mencukupi maharnya.

Inilah dampak negatif memahalkan mahar, yaitu:

  1. Menghambat kebanyakan kaum laki-laki dan wanita dari menikah.
  2. Para wali wanita menjadi buta dengan mahar, artinya mahar menurut mereka berarti upah dari putri-putri mereka, sehingga apabila maharnya banyak mereka langsung menikahkannya tanpa peduli akibat dibalik itu semua, sebaliknya apabila maharnya sedikit merekapun tidak segan-segan menolaknya, sekalipun ia seorang yang baik agama dan akhlaknya.
  3. Apabila terjadi problematika dalam rumah tangga antara suami istri, sang suami tidak dapat menceraikan istrinya dengan yang baik, karena ia harus memikirkan maharnya yang mahal tadi, akibatnya ia pun menyakiti isterinya dengan harapan si istri sudi mengembalikan maharnya, barangkali jika maharnya sedikit sang suami akan menceraikan isterinya dengan cara yang baik.

Sesungguhnya jika manusia mau meringankan mahar serta mempraktekkannya dalam kehidupan mereka, niscaya masyarakat akan merasakan banyak kebaikan, keamanan, ketentraman, dan penjagaan kaum lelaki dan perempuan dari kekejian. Tetapi sayang, manusia malah berlomba-lomba mempermahal mahar, tahun demi tahun bertambah meningkat, entah sampai kapan mereka sadar.

Saudaraku… Di saat zaman telah memaksa kita untuk bermegah-megah dalam menentukan mahar, rasa gengsi kian bercokol di dalam dada, membuat penyakit hati yang terus menyiksa, tiada batas, yang ada hanyalah angan-angan yang tidak berujung, bukankah Islam itu mempermudah pemeluknya dalam segala hal?

Di dalam pernikahan yang merupakan ritual ibadah yang agung ini, Alloh ta’ala memudahkan hambanya dalam menjalani ketaatan kepada-Nya, menjauhi haramnya zina yang dapat menghantarkannya ke api neraka, yaitu dengan di syariatkannya pernikahan yang penuh keberkahan, dengan mahar yang murah dan mudah yang di ajarkan oleh Rosululloh sholallohu alaihi wasallam.


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05