Dari Jeje Nurzaman, Ustadz mau tanya, bila ada yang meninggal di malam hari terus jenazahnya itu di ajikan(dibacakan Al-Qur;an) sampe pagi tiba. Apa hukumnya ya pak ustadz?

Jawaban :

Dalam masalah ini (khususnya tentang membacakan Al-Qur’an untuk si Mayit), para ulama berbeda pendapat sebagai berikut :

  • Tidak ada sesuatu apapun yang memberikan manfaat bagi mayit dari amal-amal yang dilakukan oleh kerabatnya, apakah itu berupa doa atau yang lainnya. Dan pemberian hadiah pahala amal yang dilakukan oleh kerabatnya untuk mayit adalah perkara yang tidak shohih(benar). Hal itu bukan termasuk amal-amal kebaikan (bagi mayit), kecuali apa yang dia amalkan sendiri sebelum matinya.

Perlu diketahui bahwa Ini adalah pendapat kelompok Mu’tazilah, sedangkan mereka ini adalah suatu kaum yang termasuk Ahli Bid’ah, dan perkataan/pendapat mereka tidak bisa dianggap, karena mereka mempunyai pokok-pokok (pemikiran) dan keyakinan-keyakinan yang rusak (tentang perincian dan penjelasan kesesatan mereka, bukan disini pembahasannya, insya Alloh pada kesempatan lain), wallohu a’lam.

  • kebalikan dari pendapat pertama : semua amalan yang dilakukan oleh kerabat mayit atau orang lainnya yang dihadiahkan untuk mayit yang muslim, maka hal itu akan memberikan manfaat baginya, dan hal itu akan sampai kepada mayit termasuk membaca al-Qur’an.

Mereka berdalil dengan hadits Ma’qol bin Yassar rodhiallohu ‘anhu, bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

اقرءوا يس (يا سين) على موتاكم

“Bacakanlah (surat) Yaasiin untuk orang yang mati diantara kalian.” (HR Imam Abu Dawud , Ibnu Abi Syaibah dan yang lainnya). Akan tetapi hadits ini dinyatakan DHO’IF  dalam kitab Irwa’ul Gholil)

Selain itu Mereka juga mengqiyaskan dalil-dalil yang pembahasan sebenarnya tentang “An-Niyabah” (bolehnya menggantikan amal seseorang yang tidak bisa dilaksanakan karena udzur tertentu), seperti puasa dan yang lainnya, kepada pembahasan tentang menghadiahkan pahala bacaan Al-Qur’an. Maka pendalilan seperti ini tertolak, menurut para ulama yang terpercaya. Seperti, Al-Imam Ibnu Katsir rohimahulloh yang berkata ketika menjelaskan tafsir Surat An-Najm (ayat 39) : “Pembahasan tentang bab amal-amal taqorrub (ibadah kepada Alloh), dibatasi oleh dalil-dalil/nash (yakni harus sesuai dengan dalil-dalil syar’i) , tidak boleh menggunakan berbagai qiyas atau pendapat-pendapat akal. Adapun berdoa dan  bersedekah (yakni mendoakan kebaikan untuk mayit dan amalan sedekah yang dilakukan oleh kerabat si mayit, apalagi anaknya, dengan tujuan agar hal itu juga bermanfaat untuk si mayit, edt.) , maka yang seperti itu sepakat (para ulama) tentang sampainya hal itu (kepada mayit), dan hal itu dijelaskan dalam nash-nash (dalil-dalil syar’i).

  • Penghadiahan bacaan Al-Qur’an tidaklah bermanfaat bagi seorang muslim setelah kematian mereka, kecuali amalan yang berdasarkan dalil-dalil yang shohih (tentang perkara tersebut), seperti : berdoa, bersedekah dan yang lainnya.

Adapun amalan yang tidak dijelaskan dalil-dalilnya (tentang bolehnya beramal seperti itu), maka tidak boleh menggunakan qiyas (analogi) untuk membolehkan amalannya tersebut, seperti penghadiahan bacaan Al-Qur’an ini. Maka ini adalah qiyas yang tertolak, karena (hal itu berarti) memperluas permasalahan agama tanpa dalil/argumentasi yang benar, dan  hanya bersandar semata-mata dengan istihsan (menganggap baik sesuatu tetapi tanpa dalil-dalil yang shohih)

Dalam masalah ini, insya Alloh pendapat yang rojih adalah pendapat yang ketiga, yakni : “Membaca Al-Qur’an kepada Mayit baik di rumahnya maupun di dekat kuburan, dalam rangka untuk menghadiahkan bacaan Al-Qur’an untuk mayit, maka hal ini tidak boleh”.

Kemudian hal tersebut juga di dukung oleh Fatwa Al Lajnatud-Da-imatu lil Buhutsil-’Ilmiyyah wal-Ifta‘ , dimana mereka menyatakan bahwa

tidak ada riwayat yang sah dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam (yang menerangkan) bahwa Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam membaca al Qur‘an dan memberikan pahalanya untuk kerabat beliau yang sudah meninggal ataupun untuk orang lain. Seandainya pahala bacaan itu bisa sampai kepada orang-orang yang sudah meninggal tersebut, tentu Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam sangat antusias melakukannya, dan beliau tentu menjelaskannya kepada umatnya agar bisa memberikan manfaat kepada orang-orang yang sudah meninggal, karena Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam sangat sayang kepada kaum Mukminin.

Para Khulafa-ur-Rosyidin setelah beliau, dan juga seluruh sahabat beliau, yang telah berjalan di atas petunjuk Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam juga tidak seorang (pun) di antara mereka yang menghadiahkan pahala bacaan al Qur‘an kepada orang lain. Sementara semua kebaikan itu berada pada ittiba‘ (mengikuti) petunjuk Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dan petunjuk Khulafa-ur-Rosyidin, dan para sahabat. Sedangkan keburukan itu berada pada ittiba’ bid’ah (mengikuti perbuatan bid’ah), berdasarkan peringatan keras Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam :

وَإِيــَّـاكُمْ وَمُـحْدَثَاتِ اْلأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُـحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“Dan hendaklah kalian menjauhi perkara-perkara yang baru,  karena sesungguhnya semua perkara baru itu adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat.”

Dan sabda beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ أَحْدَثَ فِـي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang membuat perkara baru  dalam din (agama) kita ini yang bukan bagian darinya,  maka itu tertolak.”

Dengan demikian, maka tidak disyariatkan membacakan al Qur‘an untuk mayit, dan pahala bacaan ini tidak akan sampai kepadanya, bahkan itu (merupakan perbuatan) yang tidak sesuai sunnah.

Adapun jenis ibadah lainnya, yang telah diterangkan oleh dalil yang shahih tentang sampainya pahala amalan tersebut kepada mayit, maka hal itu wajib diterima, seperti shadaqah atas nama mayit, mendo’akannya, menghajikannya. Sedangkan jenis ibadah yang tidak ada keterangan dalilnya, berarti tidak disyari’atkan, sampai jelas ada dalilnya. (Fatawa al Lajnatid-Da-imati lil Buhutsil-’Ilmiyyah wal-Ifta’, 9/42-44)

Wallohua’lam.

Dijawab Oleh : Tim Lajnah Ilmiyah Fajri FM


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05