Kitab-kitab Manaqib Syekh Abdul Qadir Jailani yang banyak beredar di Indonesia, pada umumnya disusun oleh penulis-penulis Indonesia sendiri yang maraji’-nya (sumber pengambilannya) dari kitab-kitab berbahasa Arab yang dipandang mu’tabar, seperti Tafrijul Khathi, Muzkin nufus, Lujainid-Dani danlain-lainnya yang kemudai diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa huruf Pegon, dengan dikombinasi bahasa aslinya (bahasa Arab).

Seluruh kitab-kitab manaqib seperti ini, isinya dititikberatkan pada cerita-cerita tentang keluarbiasaan (khawariqul’adah) yang dipercaya sebagai “karamahí” (kekeramatan) Syekh Abdul Qadir jailani.

Kitab-kitab tersebut seperti: Lubabul Ma’ani, disusun oleh Abi Shaleh Mustamir (Juana, Jawa Tengah) Miftahu Babi Amani, disusun oleh Moh. Hanbali (Semarang, Jawa Tengah), Nailil Amani, disusun oleh A. Subhi Masyhadi (Pekalongan, Jawa Tengah) dan lain-lain.

Tradisi manaqiban dan praktek upacaranya

Di beberapa daerah di Indonesia, ada tradisi pembacaan kitab Manaqib Syekh Abdul Qadir Jailani, yang biasa disebut “Manaqiban”.

Lazimnya, sebelum pembacaan kita Manaqib dimulai, terlebih dahulu diawali dengan bacaan surat al-Fatihah, kemudian pimpinan upacara membacakan doa dan qasidah, yang kemudian diikuti para hadirin, baru setelah itu dibacakan Manaqib Syekh Abdul Qadir Jailani secara bergantian, sebagian demi sebagian sampai tamat.

Setiap nama Syekh Abdul Qadir Jailani disebut, maka para hadirin membaca al-Fatihah, dan kalau sampai pada cerita seekor ayam berkokok: Laa ilaaha illalloh, Muhammad Rasululloh, Syekh Abdul Qadir Jailani waliyulloh, radhiyallohu anhu, maka hadiri menirukan kokok ayam tersebut berulang-ulang.

Setelah itu dibacakan doa-doa Istighotsah, yang isinya menyeru arwah orang-orang shalih, untuk dimintai bantuan permohonan kepada Allah ta’ala.

Dalam ritual ini biasanya disediakan nasi kebuli dengan lauk ikan ayam, dengan syarat tidak boleh dipotong-potong.

Di tengah-tengah disediakan bejana besar (Kemaron – Jawa), yang ditutup dengan kain putih, dan adakalanya diberi bunga-bungaan. Setelah selesai upacara, ayam pun dipotong-potong kemudian dibagi-bagikan, lalu mereka berebutan meminum kuahnya. Dan upacara pun selesai.

Di samping itu, terdapat juga kepercayaan, ‘bahwa para wanita pemasaknya harus suci dari haidh, alat-alat untuk memasak hanya dikhususkan untuk manaqiban, tidak boleh digunakan untuk keperluan lain. Periuknya harus serba baru, dan semua yang hadir harus berwudhu terlebih dahulu.

Antara satu daerah dengan daerah lainnya, kadang-kadang terdapat perbedaan-perbedaan kecil dalam variasi praktek upacara manaqiban ini. Ada yang hanya sekedar membaca doa-doa yang terdapat pada bagian akhir kitab Manaqib, yang lazim disebut upacara “Istighotsah” dan ada pula yang disebut “Dulkadiran”, yaitu sekedar upacara makan-makan dengan hidangan nasi uduk dan lauk ikan ayam, sebagai pelepasan nadzar kepada Syekh Abdul Qadir Jailani, untuk terkabulnya suatu maksud.

Maksud upacara

Pada umumnya upacara manaqiban itu diselenggarakan, baik yang disebut Manaqiban, Dulkadiran maupun Istigotsah, adalah untuk maksud-maksud seperti: pelepasan nadzar, tabarruk (mencari berkah), tawassul (agar do’a atau ibadahnya dapat lebih diterima dan dikabulkan oleh Alloh) di samping ada juga yang bermaksud untuk irtizaq (pelarisan – Jawa) agar rizki bertambah, dan ada pula yang bertujuan untuk menolak atau mengusir makhluk halus, sihir dan sebagainya.

Hukum manaqiban

Membaca manaqib dalam arti mempelajari atau mengetahui segala sesuatu yang berkaitan dengan riwayat hidup orang-orang besar, tokoh-tokoh sejarah seperti pembesar-pembesar sahabat Nabi sholallohu alaihi wasallam, ulama-ulama, tabi’in, tabi’ut tabi’in, ulama-ulama madzhab dan lain sebagainya, dengan tujuan untuk dipetik dan dijadikan pelajaran segala yang baik, adalah sangat besar sekali faedah dan manfaatnya, dan termasuk perkara yang dianjurkan oleh agama, sebagaimana difirmankan dalam al-Qur’an:

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal…” (QS. Yusuf [12]: 111)

Akan tetapi membaca Manaqib Syekh Abdul Qadir jailani dengan upacara-upacara tertentu yang menyerupai ibadah, dengan disertai keyakinan bahwa ritual tersebut akan dapat menyebabkan larisnya dagangan, dapat mengusir makhluk halus, dapat menyebabkan seseorang masuk surge, dapat menyebabkan diperolehnya syafaat di hari akhirat dan sebagainya adalah masuk perkara yang dilarang oleh agama.

Sebab segala upacara ibadah dalam Islam, baik acara pelaksanaan maupun waktunya adalah semata-mata berdasarkan adanya perintah, tuntunan dan contoh dari agama, sehingga tidak seorang pun manusia berhak menciptakan upacara-upacara tersebut. Dan segala macam upacara ibadah atau yang menyerupai ibadah hasil ciptaan manusia, adalah terlarang atau tertolak.

Sabda Nabi sholallohu alaihi wasallam:

“Barangsiapa mengerjakan suatu amalan yang tidak ada perintah-ku, maka tertolaklah.” (HR. Muslim)

Amalan yang dimaksud dalam hadits ini adalah amalan ibadah atau amalan yang menyerupai ibadah yang tidak ada tuntunan dan contoh dari Alloh dan Rosul-Nya maka amalan demikian tertolak atau terlarang.

Maka upacara manaqiban, dengan ketentuan waktu tertentu, bacaan-bacaan tertentu, dengan sajian-sajian tertentu, dengan ketentuan-ketentuan khas dan sebagainya adalah merupakan suatu “amalan” yang menyerupai ibadah, yang tidak dituntunkan dan dicontohkan dalam agama karena ia hanya hasil ciptaan manusia, maka manaqiban adalah termasuk suatu amalan yang terkena larangan sebagaimana ditandaskan di dalam hadits riwayat Muslim di atas.

Berbeda dengan “amalan” keduniaan, seperti acara menanam ketela pohon, bagaimana cara mengakap ikan, bagaimana bentuk suatu bangunan rumah dan sebagainya, perosalannya diserahkan sepenuhnya kepada manusia sendiri, apakah akan meneruskan tradisi-tradisi yang telah ada atau menciptakan cara-cara baru, sepanjang tidak menyimpang dari ka’idah-ka’idah agama yang telah digariskan.

Di samping itu, mempercayai atau memiliki keyakinan, bahwa upacara manaqiban dapat mendatangkan rizki, dapat membawa berkah kebaikan dunia-akhirat, dapat menyebabkan diperolehnya syafaat ukhrowi dan sebagainya adalah suatu kepercayaan salah, yang termasuk kepercyaan syirik. Karena di samping kepercayaan seperti itu tidak ada dasarnya, juga isi sebagian besar kitab itu tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, atau sekurang-kurangnya sangat meragukan karena tidak memiliki sanad (mata rantai periwayatan) yang terpercaya.

Oleh karena itu, barangsiapa yang mengharapkan keberkahan maka hendaknya menempuh jalan-jalan atau cara-cara yang telah diajarkan oleh syari’at. Wallohu a’lam..


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05