Oleh: Ust. Arifin, S.H.I.

Secara bahasa, kata iftiroq adalah perpecahan atau perpisahan. Sedangkan secara istilah adalah keluar dari cara beragama yang benar dalam memahami dan meniti agama Islam dan masuk kepada cara beragama Bid’i. Perlu diketahui bahwa Iftiroq ini telah terjadi pada umat-umat sebelum umat Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, dan akan terjadi pada umat beliau shalallahu alaihi wasallam. Hal ini telah dikabarkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dalam hadis-hadis beliau. Oleh karena itu, iftiroq pada umat ini adalah suatu kepastian. Bila kita perhatikan pada realita umat ini maka iftiroq telah terjadi.

Marilah kita simak hadis-hadis berikut:

“Sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi 73 golongan.Satu golongan di dalam surga dan 72 golongan di dalam neraka.”Ditanyakan kepada beliau,“Siapakah mereka itu ya Rasulullah? Beliau  menjawab,“Al-Jama’ah.” (HR. Imam Ibnu Majah, Ibnu Abi `Ashim, dan Al-Lalika’i)

Dalam hadis yang lain, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya Bani Isroil terpecah menjadi 72 kelompok keagamaan, dan umatku akan terpecah menjadi 73 kelompok keagamaan. Seluruhnya berada di api neraka, kecuali satu kelompok.”Para sahabat bertanya,“Wahai Rasulullah, siapakah kelompok yang selamat itu?” Beliau shalallahu alaihi wasallam menjawab, “Mereka yang mengikutijejakku dan jejak sahabat sahabatku.”(HR. Tirmidzi, Al-Hakim,dan Al Lalikai)

Dalam riwayat yang lain, diceritakan bahwa, “Abu Umamah berkata: Bani Isroil telah terpecah menjadi 71 atau 72 golongan, pada ummat ini bertambah satu golongan lagi yang semuanya masuk neraka kecuali as-Sawad al-A’zhom atau mayoritas umat. Lalu ditanyakan kepada beliau,“Wahai Abu ‘Umamah, apakah ini menurut pendapatmu ataukah engkau mendengarnya dari Rasulullah?”Beliau menjawab,“Kalau hanya sekedar pendapatku, itu berarti aku terlalu berani. Akan tetapi,aku mendengarnya langsung dari Rasulullah, tidak hanya satu, dua, atau tiga kali, bahkan lebih dari itu.” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim, Al-Lalikai dan Thobroni)

Walaupun iftiroq telah menjadi Irodatulloh al-kauniyah yang pasti terjadi, tetapi sejak dini, Allah subhanahu wa ta’ala telah memperingatkan kita untuk tidak terjatuh padanya. Sebaiknya kita renungkan ayat-ayat di bawah ini:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَىْءٍ إِنَّمَآ أَمْرُهُمْ إِلَى اللهِ ثُمَّ يُنَبِئُهُم بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ.

 

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka terpecah menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikit pun tanggungjawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.”(QS. Al-An’am[6]: 159)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ayat ini mencakup setiap orang yang berpaling dari agama Allah dan menyalahinya. Sesungguhnya Allah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan agamanya-Nya atas seluruh agama. Syariat-Nya adalah satu dan tidak ada ikhtilaf serta perpecahan di dalamnya. Barangsiapa yang menyelisihi agama ini, “Maka mereka adalah golongan-golongan seperti pemeluk sekte dan aliran, pengekor hawa nafsu, dan pelaku kesesatan. Sesungguhnya Allah telah membebaskan Rasul-Nya dari apa yang mereka lakukan.

Ayat ini sebagaimana firman Allah ta’ala:

“Dia telah mensyari’atkan bagi kalian agama yang telah diwasiatkan kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrohim, Musa, dan Isa yaitu,‘Tegakkanlah agama dan janganlah kalian berpecah belah tentangnya.” (QS. asy-Syuro: 13)

Dalam hadis disebutkan, “Kami para nabi adalah anak-anak yang bersaudara dari satu bapak sedangkan agama kami adalah satu.”

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Berpegang teguhlah kalian semuanya kepada agama Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai.” (QS. ali imron: 103)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Firman Allah, yang artinya ‘Janganlah kalian bercerai-berai. Maksudnya adalah Allah memerintahkan kepada mereka bersatu dalam jamaah dan melarang mereka berpecah belah. Banyak hadis Rasulullah shalallahu alaihi wasallam yang melarang perpecahan dan memerintahkan persatuan.

Sebagaimana disebutkan dalam kitab Shohih Muslim dari Abu Suhail bin Abi Sholih dari bapaknya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah meridhoi tiga perkara bagi kalian dan membenci tiga perkara bagi kalian. Pertama, Allah meridhoi kalian; beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Kedua, berpegang teguh pada agama Allah dan tidak berpecah-belah. Ketiga, saling memberikan nasihat kepada para pemimpin kalian. Diapun membenci bagi kalian tiga perkara; Pertama, memperbincangkan berita yang belum jelas. Kedua, banyak bertanya tanpa keperluan. Ketiga, menghambur-hamburkan harta.” (HR. Muslim)

Selain itu Allah ta’ala berfirman:

“Janganlah kalian menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah dating keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (QS. Ali Imron: 105)

Berkaitan dengan ayat ini, Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

“Allah melarang kita untuk mengikuti jalan orang-orang yang berselisih, yang tidak menyuruh perkara ma’ruf dan tidak melarang dari kemungkaran, padahal hujjah telah ditegakkan kepada mereka.”

Allah ta’ala juga berfirman:

“Dia telah mensyari’atkan bagi kalian agama yang telah diwasiatkan kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrohim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kalian berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada agama-Nya orang yang kembali kepada-Nya.” (QS. asy-Syuro: 13)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, tentang ayat ini “Tegakkanlah agama dan janganlah kalian berpecah belah tentangnya.” Maksudnya Allah subhanahu wa ta’ala telah mewasiatkan kepada semua nabi untuk bersatu dan berjamaah serta melarang dari perpecahan dan pertentangan.”

Disamping itu, adalam tafsir Taisirul Karimirrohman fi Tafsir al Kalamil Mannan, disebutkan “Tegakkanlah agama” maknanya adalah Allah memerintahkan kepada kalian untuk menegakkan seluruh syariat agama ini, baik pokok-pokok agama ataupun cabangnya. Bersungguh-sungguh untuk menegakkan agama kepada selain kalian.

Hendaklah kalian tolong-menolong dalam kebajikan dan taqwa serta janganlah kalian tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.

Sedangkan firman-Nya, “Janganlah kalian berpecah-belah tentangnya’”,Tujuannya adalah agar tercipta diantara kalian persatuan di dalam pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya. Hendaknya kalian bersemangat agar permasalahan-permasalahan dalam agama ini yang bersifat cabang tidak menjadikan kalian berpecah belah, berkelompok-kelompok, dan bergolong-golongan meskipun kalian bersatu di dalam masalah pokok-pokok agama.

[Bersambung]

Artikel berseri: